Akurat

5 Cara Rasulullah Menghadapi Cuaca Ekstrem, Patut Jadi Teladan!

Fajar Rizky Ramadhan | 14 Oktober 2025, 09:00 WIB
5 Cara Rasulullah Menghadapi Cuaca Ekstrem, Patut Jadi Teladan!

AKURAT.CO Perubahan cuaca yang ekstrem, seperti hujan lebat, angin kencang, panas terik, hingga badai, sering membuat manusia cemas dan tidak berdaya. Namun, dalam Islam, setiap fenomena alam memiliki makna spiritual yang mendalam.

Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam menghadapi cuaca ekstrem—bukan dengan kepanikan, tetapi dengan ketenangan, doa, dan kesadaran penuh bahwa semua terjadi atas izin Allah.

Berikut lima cara Rasulullah menghadapi cuaca ekstrem yang layak dijadikan teladan bagi umat Muslim masa kini.

Pertama, memperbanyak doa dan zikir. Ketika angin kencang berhembus, Rasulullah tidak mengeluh atau ketakutan, tetapi langsung berdoa kepada Allah. Beliau bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang dibawanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada di dalamnya, dan keburukan yang dibawanya.” (HR. Muslim).
Doa ini mencerminkan sikap tawakal dan kesadaran bahwa kekuasaan Allah meliputi segala hal, termasuk angin dan badai.

Baca Juga: 5 Tips Mediasi agar Sukses dan Membuahkan Hasil dalam Perspektif Islam

Kedua, tidak panik dan tetap bersikap tenang. Rasulullah SAW menunjukkan ketenangan luar biasa dalam menghadapi fenomena alam yang menakutkan. Beliau tidak menebar ketakutan, tetapi mengajak umatnya untuk berintrospeksi dan mendekat kepada Allah.

Bagi Rasulullah, cuaca ekstrem bukan pertanda murka semata, melainkan peringatan agar manusia memperbaiki diri dan menjaga bumi.

Ketiga, memperbanyak istighfar dan muhasabah. Rasulullah selalu mengingatkan umatnya bahwa bencana dan perubahan alam dapat menjadi tanda agar manusia kembali bertobat.

Dalam beberapa riwayat, beliau mengajarkan untuk memperbanyak bacaan astaghfirullah saat langit menggelap atau terjadi badai. Ini menunjukkan bahwa menghadapi cuaca ekstrem tidak cukup dengan langkah fisik, tetapi juga dengan pembersihan hati dari dosa dan kesombongan.

Keempat, menjaga adab ketika turun hujan. Rasulullah SAW sangat menghormati hujan karena ia merupakan rahmat dari Allah. Ketika hujan turun, beliau sering menyingkap pakaiannya agar air hujan menyentuh tubuhnya sambil berdoa:

اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang membawa manfaat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tindakan sederhana ini mengandung makna mendalam: pengakuan bahwa setiap tetes hujan adalah berkah, bukan sekadar fenomena alam biasa.

Kelima, melindungi diri dan orang lain dengan penuh tanggung jawab. Rasulullah SAW tidak hanya berdoa, tetapi juga melakukan langkah-langkah rasional sesuai situasi.

Saat terjadi angin besar, beliau menutup pintu, melindungi keluarga, dan menganjurkan umatnya untuk tetap di rumah. Ini menunjukkan bahwa iman tidak berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menggabungkan ikhtiar dan tawakal.

Baca Juga: Apa Itu Mediasi dan Urgensinya dalam Perspektif Islam?

Dari lima teladan ini, kita belajar bahwa menghadapi cuaca ekstrem bukan hanya urusan cuaca, melainkan ujian keimanan. Rasulullah SAW mencontohkan keseimbangan antara spiritualitas dan tindakan rasional.

Beliau tidak menakuti umatnya, tetapi mengajarkan agar setiap peristiwa alam dijadikan pengingat akan kebesaran Allah. Dalam dunia modern yang penuh ketidakpastian iklim, ketenangan dan ketakwaan seperti inilah yang paling dibutuhkan manusia hari ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.