Akurat

Kisah Nur Ahmad, Santri yang Kehilangan Lengan di Tragedi Al-Khoziny

Fajar Rizky Ramadhan | 5 Oktober 2025, 08:37 WIB
Kisah Nur Ahmad, Santri yang Kehilangan Lengan di Tragedi Al-Khoziny

AKURAT.CO Nur Ahmad (16), salah satu santri Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, tak pernah membayangkan salat Asar yang ia lakukan pada Senin (29/9/2025) akan menjadi titik balik dalam hidupnya.

Rukuk rakaat kedua yang khusyuk berubah menjadi detik paling menegangkan ketika bangunan musala tempatnya beribadah mendadak ambruk dan menimpanya.

“Rakaat kedua kejadian bangunan ambruk. Langsung jatuh betonnya,” tutur Ahmad lirih dari ruang perawatan RSUD RT Notopuro Sidoarjo, Jumat (3/10/2025).

Remaja asal Jawa Timur itu sempat melihat teman-temannya berlarian menyelamatkan diri, sementara tangannya tertimpa beton berat. Ia tak bisa bergerak, hanya bisa tiarap di antara reruntuhan. Dalam kondisi gelap, sesak, dan penuh debu, Ahmad berjuang menahan sakit luar biasa sambil berteriak minta tolong.

Baca Juga: 3 Alasan Konkrit Kenapa Mendukung Gaza Palestina Disebut Jihad Fi Sabilillah

“Saya teriak minta tolong, alhamdulillah ada yang dengar. Saya bertahan dari sore sampai malam,” kisahnya.

Tim penyelamat yang mendengar suaranya segera berupaya mengevakuasi. Namun kondisi Ahmad sangat kritis. Tangannya hancur tertindih beton dan tidak mungkin diselamatkan tanpa tindakan medis darurat.

Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi RSUD RT Notopuro, dr. Larona Hydravianto, yang datang ke lokasi, harus membuat keputusan sulit di bawah tekanan waktu dan situasi berbahaya.

“Ada prinsip: life saving is number one. Nyawa harus jadi prioritas pertama dibanding menyelamatkan anggota tubuh,” tegasnya.

Dalam situasi penuh risiko di tengah reruntuhan, tim medis melakukan amputasi darurat terhadap tangan kiri Ahmad. Mereka bekerja cepat dengan peralatan terbatas, hanya berbekal penerangan seadanya. “Kata dokter, harus tenang,” ujar Ahmad mengingat detik-detik sebelum operasi.

Direktur Utama RSUD RT Notopuro, dr. Atok Irawan, membenarkan tindakan tersebut diambil karena alasan medis mendesak. “Kami terpaksa melakukan amputasi lengan kiri di bawah reruntuhan agar korban bisa segera dievakuasi,” jelas Atok.

Menurutnya, keluarga Ahmad sempat keberatan karena tidak sempat dimintai persetujuan, namun kemudian menerima keputusan tersebut setelah dijelaskan kondisi darurat di lapangan. “Situasinya sempit dan sangat berisiko bagi tenaga kesehatan kami,” ujarnya.

Baca Juga: Apa itu Puasa Ayyamul Bidh? Begini Tata Cara Melaksanakan dan Pahalanya bagi Umat Islam

Setelah berhasil dikeluarkan, Ahmad langsung dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan lanjutan. “Korban dibius di lokasi, kemudian dilakukan pembersihan luka dan penjahitan ulang sampai sekitar pukul 01.30 WIB,” kata Atok.

Kini, Nur Ahmad masih menjalani masa pemulihan. Meski kehilangan satu tangan, nyawanya berhasil diselamatkan. Tragedi itu meninggalkan luka mendalam, namun juga menjadi kisah nyata tentang keberanian, keteguhan iman, dan keputusan cepat yang menyelamatkan hidup di tengah bencana.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.