Petugas Haji 2026 Wajib Jalani Pelatihan di Barak Militer 30 Hari

AKURAT.CO Badan Penyelenggara Haji (BP Haji) menyiapkan perubahan besar dalam sistem perekrutan dan pelatihan petugas haji mulai 2026. Salah satunya, seluruh calon petugas haji diwajibkan mengikuti pelatihan di barak militer selama satu bulan sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi.
Wakil Kepala BP Haji, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan kebijakan ini menjadi jawaban atas kritik publik mengenai kualitas petugas haji yang kerap dianggap hanya “nebeng haji” tanpa menjalankan tugas secara maksimal.
“Yang ketiga pembenahan terhadap petugas haji yang banyak dikritik oleh publik, banyak yang nebeng haji kan, karena proses seleksinya. Besok itu kami akan mengubah proses seleksinya. Jadi semua petugas haji yang sudah seleksi itu akan diseleksi administrasi, itu akan masuk ke barak satu bulan, satu bulan dipersiapkan lagi selama satu bulan itu, itu kan proses seleksi juga,” ujar Dahnil dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (5/8/2025).
Latihan Fisik, Bahasa Arab, dan Fikih Haji
Menurut Dahnil, pelatihan di barak tidak hanya berfokus pada pembinaan fisik, tetapi juga pembentukan karakter, kerja sama tim, serta pengetahuan dasar mengenai haji.
Baca Juga: Istana: Sosok Menteri Haji dan Umrah Akan Ditentukan Presiden
“Jadi satu bulan masuk barak, mereka akan dipersiapkan secara fisik, ada bonding sebagai tim petugas, supaya kemudian tugasnya satu bulan penuh itu, supaya mereka tahu tugas-tugas mereka apa, kemudian ada bonding di antara mereka, sebutlah sebagai pasukan petugas haji,” jelasnya.
Selain itu, petugas juga akan dibekali kemampuan Bahasa Arab dasar dan pemahaman fikih haji. “Kemudian kedua, mereka dipersiapkan bahasa Arab dasar. Bahasa Arab dasar itu misalnya, ya menunjuk jalan dan sebagainya. Kemudian ketiga, fikih dasar haji. Nah tiga hal ini yang akan dilakukan,” ucap Dahnil.
Perbanyak Petugas Haji Perempuan
BP Haji juga akan memperbanyak jumlah petugas haji perempuan. Selama ini, mayoritas petugas adalah laki-laki, padahal jemaah haji Indonesia didominasi perempuan, mencapai 60–70 persen.
“Rekrutmen petugas juga, kami ingin mencoba afirmasi perempuan, karena ternyata jemaah haji kita itu banyak perempuan. Jadi jemaah haji kita itu hampir 70 persen, sebelumnya hampir 65 persenan itu perempuan. 60–65 persen itu perempuan. Tapi petugas kita mayoritas laki-laki,” kata Dahnil.
Ia menegaskan, ke depan akan ada lebih banyak petugas perempuan, termasuk dalam posisi strategis seperti pembimbing ibadah. “Jadi ada petugas yang perempuan, pembimbing ibadah perempuan, karena selama ini misalnya ya, ada pembimbing ibadah, dari 10 pembimbing ibadah, cuma satu perempuan,” tambahnya.
Baca Juga: Siapa Menteri Kementerian Haji dan Umrah?
Menurut Dahnil, ketidakseimbangan jumlah petugas laki-laki dan perempuan harus segera dibenahi agar pelayanan lebih optimal.
“Padahal jemaah yang dilayani, sebagian besar itu perempuan. Makanya petugas akan kita tambah jumlahnya, proporsinya perempuan, termasuk dengan pembimbing ibadah, pembimbing iya,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










