Akurat

5 Agustus Disebut Jadi Hari Terpendek, Ternyata Ada Hari yang Lebih Pendek di Zaman Nabi

Lufaefi | 5 Agustus 2025, 09:59 WIB
5 Agustus Disebut Jadi Hari Terpendek, Ternyata Ada Hari yang Lebih Pendek di Zaman Nabi

AKURAT.CO Fenomena astronomi yang terjadi pada 5 Agustus 2025 mencuri perhatian dunia. Hari itu tercatat sebagai salah satu hari terpendek karena rotasi bumi berlangsung sedikit lebih cepat dari biasanya, hanya berkurang sekitar 1,25 milidetik dari durasi normal 24 jam.

Meskipun bagi manusia hal itu nyaris tak terasa, para ilmuwan mencatatnya sebagai bagian dari dinamika rotasi bumi yang terus berubah karena faktor geofisika dan gravitasi.

Namun, dalam pandangan Islam, kejadian seperti ini bukan sekadar sains. Ia juga menjadi momentum reflektif terhadap hubungan waktu dan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah kenabian.

Bahkan, ada satu hari dalam sejarah kenabian yang secara spiritual dan fenomenal jauh lebih pendek daripada 5 Agustus — dan disaksikan oleh umat manusia langsung di masa Nabi Muhammad SAW.

Hari apa itu?

Baca Juga: Fenomena 5 Agustus sebagai Hari Terpendek, Ini 5 Orang yang Merugi karena Waktu dalam Islam

Peristiwa Gerhana Matahari Saat Wafatnya Ibrahim, Putra Nabi

Salah satu hari paling "pendek" dalam makna spiritual dan eksistensial dalam sejarah Nabi Muhammad SAW terjadi saat wafatnya putra beliau, Ibrahim. Pada hari itu, matahari mengalami gerhana secara tiba-tiba, yang membuat siang terasa sangat singkat, bahkan seolah "terpotong" oleh kehendak langit.

Peristiwa ini diriwayatkan dalam banyak hadis shahih, di antaranya dari Al-Mughirah bin Syu'bah:

"Pada hari wafatnya Ibrahim (putra Nabi), terjadi gerhana matahari. Lalu orang-orang berkata, 'Ini terjadi karena wafatnya Ibrahim.' Maka Rasulullah bersabda: 'Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak akan mengalami gerhana karena hidup atau matinya seseorang.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Hari itu menjadi sangat pendek — bukan karena perubahan rotasi bumi secara astronomi seperti 5 Agustus 2025, tapi karena kesadaran manusia pada waktu dan tanda-tanda kekuasaan Allah yang seolah "memotong" rutinitas dan menguncang perasaan kolektif umat.

Makna Waktu dalam Konteks Gerhana

Gerhana yang terjadi saat wafatnya Ibrahim menjadi simbol bahwa waktu bukan hanya dihitung berdasarkan detik dan menit, melainkan juga berdasarkan makna spiritual.

Rasulullah SAW bahkan menjadikan momen gerhana tersebut sebagai peluang dakwah untuk meluruskan akidah masyarakat yang cenderung mengaitkan kejadian kosmis dengan nasib manusia.

Dalam konteks ini, waktu menjadi relatif — bisa sangat panjang atau sangat pendek tergantung pada bagaimana manusia mengisi dan menghayatinya.

Ada Hari yang "Lebih Pendek" Lagi: Hari Kiamat

Lebih jauh dari itu, Islam menggambarkan ada satu hari yang paling pendek dan sekaligus paling panjang tergantung kepada siapa hari itu terjadi: Hari Kiamat.

Dalam Surah Al-Ma’arij ayat 4, Allah berfirman:

"Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun."

Bagi sebagian orang, waktu di hari Kiamat akan terasa sangat lama. Tapi dalam Surah An-Nazi’at ayat 46, disebutkan:

"Pada hari mereka melihatnya (kiamat), mereka merasa seakan-akan (tinggal di dunia) hanya sebentar saja, di waktu sore atau pagi hari."

Hari Kiamat bisa jadi hari terpendek bagi orang-orang yang selamat, dan menjadi hari paling menyiksa bagi mereka yang merugi. Ini menunjukkan bahwa "kependekan waktu" dalam Islam bukan hanya soal teknis ilmiah, tapi juga pengalaman spiritual dan nasib akhir manusia.

Baca Juga: Kapan KJP Bulan Agustus 2025 Cair? Simak Jadwal Resminya di Sini

Lalu, Apa Maknanya untuk Kita?

Fenomena 5 Agustus sebagai hari terpendek secara astronomis mestinya tidak membuat kita sekadar takjub, tapi juga bertanya:

Apakah kita sedang menambah amal atau justru kehilangan waktu tanpa makna?

Apakah hari-hari kita semakin penuh atau justru semakin kosong?

Apakah kita siap menghadapi hari terpendek dalam hidup kita — yaitu hari terakhir di dunia?

Hari paling pendek bukan hanya milik sains, tapi juga milik iman. 5 Agustus mungkin dicatat dalam jurnal ilmiah sebagai hari yang berkurang satu milidetik, tetapi dalam sejarah Islam, hari-hari seperti saat gerhana pada wafatnya Ibrahim atau hari kiamat jauh lebih besar dampaknya — bahkan tak terukur dalam angka.

Islam mengajarkan kita bahwa waktu bukan hanya angka, tapi amanah. Maka, setiap kali waktu bergerak lebih cepat — baik satu detik atau satu hari — kita sedang menuju penghabisan. Dan sebelum kita kehabisan, kita harus bertanya: apakah hari-hari kita penuh makna, atau hanya hitungan kosong?

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.