Hari Sahabat Sedunia, Ini Pentingnya Sahabat Sejati dalam Al-Qur’an
AKURAT.CO Hari Sahabat Sedunia yang diperingati setiap tahun menjadi momen reflektif bagi kita semua untuk menimbang kembali sejauh mana makna persahabatan hidup dalam keseharian kita.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, relasi antarindividu kerap digantikan oleh interaksi digital yang singkat dan dangkal.
Namun, nilai seorang sahabat sejati justru semakin berharga saat zaman bergerak ke arah yang individualistik.
Dalam tradisi Islam, sahabat bukan sekadar rekan bicara atau teman berbagi tawa, melainkan bagian dari perjalanan iman yang bisa menuntun seseorang menuju keridhaan Allah.
Islam memandang persahabatan sebagai elemen penting dalam kehidupan sosial manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah menyampaikan bagaimana hubungan antarindividu bisa membawa seseorang ke dalam kebaikan atau bahkan kebinasaan.
Karena itu, memilih sahabat dan menjaga kualitas persahabatan menjadi hal yang tak bisa dianggap remeh.
Salah satu ayat yang sering dijadikan rujukan terkait pentingnya sahabat terdapat dalam Surah Az-Zukhruf ayat 67:
"Al-akhillā’u yauma’idzin ba‘ḍuhum liba‘ḍin ‘aduwwun illal-muttaqīn."
"Teman-teman akrab pada hari itu (Kiamat) sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (QS. Az-Zukhruf: 67)
Ayat ini memberikan pesan tegas bahwa tidak semua persahabatan berakhir indah. Bahkan, di hari kiamat nanti, teman-teman dekat yang dahulu saling menyayangi bisa berubah menjadi musuh, saling menyalahkan atas jalan hidup yang mereka pilih bersama. Hanya persahabatan yang dibangun atas dasar ketakwaan yang akan tetap kukuh dan saling menolong hingga akhirat.
Dalam kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, kita melihat bagaimana persahabatan beliau dengan para sahabat utama seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menjadi contoh ideal. Abu Bakar tidak hanya menjadi pendamping setia, tapi juga pelindung, penyokong dakwah, dan sahabat sejati dalam suka dan duka. Persahabatan seperti ini berakar pada keimanan, pengorbanan, dan kejujuran hati.
Baca Juga: 7 Langkah Efektif Mencegah Pelecehan Seksual terhadap Anak menurut Islam
Al-Qur’an juga menggambarkan dampak buruk dari pertemanan yang salah, sebagaimana dalam Surah Al-Furqan ayat 28-29:
"Yā wailatā laitani lam attakhidz fulānan khalīlā. Laqad aḍallani ‘anidz-dzikri ba‘da idz jā’ani."
"Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrabku. Sungguh dia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika peringatan itu telah datang kepadaku." (QS. Al-Furqan: 28–29)
Ayat ini menggambarkan penyesalan mendalam seseorang di akhirat karena bersahabat dengan orang yang justru menjauhkannya dari kebenaran. Ini menjadi peringatan bahwa hubungan sosial yang keliru bisa membawa konsekuensi spiritual yang besar.
Sebaliknya, Allah menjanjikan keindahan bagi mereka yang bersahabat dalam kebaikan. Dalam Surah Al-Hijr ayat 47, Allah menggambarkan suasana persaudaraan di surga:
"Wa nazā‘nā mā fī ṣudụrihim min ghillin ikhwanan ‘alā sururin mutaqābilīn."
"Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, lalu mereka bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan." (QS. Al-Hijr: 47)
Ayat ini memberikan gambaran betapa indahnya hubungan yang terbangun di atas keimanan, di mana para sahabat akan menikmati kebersamaan dalam suasana penuh cinta dan tanpa dendam di surga kelak.
Oleh karena itu, Hari Sahabat Sedunia semestinya menjadi lebih dari sekadar perayaan simbolik. Ia adalah momentum untuk mengevaluasi: apakah sahabat yang kita miliki saat ini membawa kita lebih dekat kepada Allah, atau justru menjauhkan? Apakah relasi yang kita jalin dilandasi cinta karena Allah atau sekadar kepentingan duniawi semata?
Persahabatan sejati dalam Islam bukan hanya berbagi cerita, kesenangan, atau mimpi, tetapi juga saling mengingatkan dalam kebaikan, menegur dengan kelembutan saat salah, serta saling mendoakan meski tak saling bertemu. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
"Seseorang itu tergantung agama sahabatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Hadis ini menjadi refleksi penting bahwa sahabat kita bukan hanya bagian dari kehidupan sosial, tetapi juga berperan menentukan arah perjalanan hidup kita. Maka, sahabat sejati dalam pandangan Islam adalah yang mampu menjadi cermin kebaikan, penopang dalam iman, dan penuntun di kala tersesat.
Baca Juga: 5 Tips Menghindari Perselingkuhan dengan Teman Sekantor dalam Perspektif Islam
Di Hari Sahabat Sedunia ini, mari kita luangkan waktu untuk merenung. Bukan sekadar siapa sahabat kita, tetapi lebih dalam: apakah kita sendiri sudah menjadi sahabat sejati bagi orang lain? Apakah kita sudah menjadi sahabat yang menumbuhkan, meneguhkan, dan menuntun kepada Allah?
Karena dalam pandangan Islam, sahabat bukan sekadar takdir. Ia adalah amanah. Dan sebagaimana amanah lain dalam hidup, ia harus dijaga, dipelihara, dan dipertanggungjawabkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









