5 Mitos Seputar Bulan Safar, Nomor 3 Salah Kaprah!

AKURAT.CO Dalam kalender Hijriah, Bulan Safar menempati urutan kedua setelah Muharram. Namun, berbeda dengan kemuliaan bulan-bulan haram seperti Muharram, Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah, Bulan Safar justru sering kali dipenuhi dengan berbagai pandangan miring, mitos, dan anggapan yang tidak memiliki dasar kuat, baik dari syariat maupun dari penalaran yang rasional.
Sejak zaman dahulu, sebagian masyarakat muslim—terutama di wilayah Nusantara—menyematkan stigma negatif terhadap bulan ini. Konon, bulan ini dianggap sebagai bulan penuh kesialan, malapetaka, dan larangan melakukan hal-hal penting. Benarkah demikian?
Sikap seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah memegang teguh ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Karenanya, sangat penting bagi kita untuk membongkar dan mengoreksi mitos-mitos yang berkembang agar tidak terjebak pada keyakinan yang tidak berdasar. Berikut ini lima mitos populer seputar Bulan Safar yang perlu diluruskan.
Mitos pertama: Bulan Safar adalah bulan sial
Inilah mitos paling terkenal dan paling mengakar. Banyak orang yang percaya bahwa Safar adalah bulan penuh bala, sehingga disarankan untuk tidak bepergian jauh, tidak menikah, bahkan tidak mengadakan acara penting selama bulan ini berlangsung. Kepercayaan ini sebenarnya merupakan warisan dari masa jahiliah.
Dalam suatu hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW dengan tegas menyatakan: “Tidak ada (keyakinan akan) penyakit menular tanpa izin Allah, tidak ada thiyarah (takhayul atau merasa sial karena sesuatu), tidak ada hamah (kepercayaan bahwa burung hantu membawa kesialan), dan tidak ada kesialan di Bulan Safar.”
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam datang untuk menghapuskan keyakinan-keyakinan tahayul yang tidak berdasar. Islam mengajarkan bahwa semua kejadian di dunia ini terjadi dengan takdir dan kehendak Allah. Maka, bulan Safar sama sekali tidak memiliki muatan kesialan ataupun keberuntungan, melainkan bulan biasa seperti lainnya.
Baca Juga: Milad KH Said Aqil Siroj ke-72: Momen Refleksi Peradaban Islam dan Persatuan Bangsa
Mitos kedua: Menikah di Bulan Safar akan membawa celaka
Sebagian masyarakat meyakini bahwa menikah pada bulan Safar akan menyebabkan rumah tangga tidak harmonis, rawan perceraian, atau bahkan musibah datang menimpa pasangan tersebut.
Mitos ini bahkan masih dijadikan pertimbangan dalam perencanaan pernikahan oleh sebagian kalangan tradisional. Padahal, sekali lagi, tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an atau hadis sahih yang mendukung anggapan ini.
Justru Rasulullah SAW sendiri menikahkan beberapa sahabatnya tanpa mempermasalahkan bulan atau hari tertentu. Bahkan dalam sejarah, tidak ditemukan larangan atau peringatan khusus tentang pernikahan di bulan Safar.
Pernikahan adalah sunnah Nabi dan ibadah yang dianjurkan, kapan pun waktunya. Maka, menunda pernikahan hanya karena takut bulan sial adalah bentuk keyakinan yang tidak berdasar dan bisa mendekati sikap syirik kecil.
Mitos ketiga: Safar Wafat sebagai hari berkabung umum
Mitos ini banyak dipercayai di sebagian daerah, seperti Jawa dan sebagian kawasan di Sumatra. Konon, pada hari Rabu terakhir di Bulan Safar, langit menurunkan 320 ribu bala musibah.
Oleh karena itu, banyak orang yang berpuasa atau mandi Safar sebagai bentuk perlindungan dari bala. Sebagian komunitas juga mengadakan ritual-ritual khusus seperti membuat bubur Safar atau mengadakan selamatan keluarga.
Tradisi seperti ini sebenarnya tidak ada dalam ajaran Islam. Tidak ada hadis yang menjelaskan tentang hari Rabu terakhir di Bulan Safar sebagai hari penuh bencana. Umat Islam seyogianya menjauhkan diri dari keyakinan tak berdasar seperti ini.
Apalagi jika ritual-ritual tersebut dilakukan dengan keyakinan bahwa amal itu bisa menghindarkan bala, tanpa dasar dalil syar’i. Ini merupakan bentuk ghuluw atau berlebihan dalam agama, yang dikecam dalam banyak ayat dan hadis.
Baca Juga: 7 Cara Ampuh Jauhkan Anak dari Sikap Pemarah dan Pemalas dalam Perspektif Islam
Mitos keempat: Mandi Safar dapat menghindarkan diri dari bala dan penyakit
Praktik mandi Safar atau "siraman Safar" sering dilakukan dengan keyakinan bahwa air yang digunakan memiliki khasiat menolak bala, menyembuhkan penyakit, atau bahkan menambah keberkahan. Ada pula yang mempercayai bahwa air hujan pertama di bulan Safar bersifat magis dan patut ditampung untuk dijadikan obat.
Meski tradisi mandi sebagai bentuk penyegaran fisik bisa diterima secara kesehatan, ketika disertai keyakinan bahwa ritual tersebut mengandung kekuatan ghaib, maka ini jelas bertentangan dengan prinsip tauhid.
Islam tidak pernah mengajarkan adanya air khusus di bulan Safar yang punya keutamaan atau khasiat magis. Perlindungan dari Allah hanya dapat diraih dengan cara yang diajarkan agama: berdoa, bersedekah, dan bertawakal.
Mitos kelima: Membuka usaha di bulan Safar akan merugi
Sebagian masyarakat menahan diri untuk memulai bisnis atau proyek baru di bulan ini, karena takut akan gagal atau bangkrut. Keyakinan ini jelas berbahaya, sebab dapat menumbuhkan sikap pesimis dan rasa takut yang tidak berdasar. Padahal, Islam justru menganjurkan umatnya untuk bekerja keras dan berikhtiar dalam kondisi apa pun.
Kesuksesan usaha tidak ditentukan oleh bulan atau waktu tertentu, melainkan oleh usaha, perencanaan yang matang, dan tentunya doa yang tulus kepada Allah. Banyak pengusaha muslim sukses yang memulai kariernya tanpa mengaitkannya dengan waktu atau mitos tertentu. Nabi Muhammad SAW sendiri adalah seorang pedagang sukses yang tidak pernah mengajarkan pembatasan waktu semacam itu.
Menutup artikel ini, penting bagi kita untuk kembali menegaskan bahwa Islam datang sebagai agama yang membawa pencerahan dan membebaskan manusia dari jerat tahayul, mitos, dan keyakinan tanpa dasar.
Menyematkan sifat sial atau bala pada bulan Safar merupakan bentuk kebodohan yang diwariskan dari masa pra-Islam. Dalam pandangan Islam, semua hari dan bulan adalah sama di sisi Allah, kecuali yang secara eksplisit disebutkan keutamaannya dalam nash.
Kita hidup di zaman yang menuntut kecerdasan, rasionalitas, dan keteguhan akidah. Maka, jangan biarkan warisan kepercayaan lama yang tak berdasar mengarahkan langkah hidup kita.
Bulan Safar adalah momen seperti bulan-bulan lainnya, yang bisa kita isi dengan amal saleh, kerja keras, dan semangat hidup positif. Justru dengan melawan mitos dan mengedukasi masyarakat, kita dapat menghidupkan kembali semangat Islam sebagai agama yang membebaskan dari belenggu kebodohan dan ketakutan palsu.
Sebagai penutup, mari kita renungkan sabda Rasulullah SAW yang patut menjadi pegangan dalam menghadapi mitos-mitos ini: “Tidak ada ‘Safar’.” Ini bukan hanya pembatalan terhadap mitos, tetapi juga ajakan untuk berani berpikir jernih dan berlandaskan ilmu. Sebab, hanya dengan cahaya ilmu, kita bisa mengikis kabut takhayul yang masih menyelimuti sebagian umat hingga hari ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










