7 Cara Ampuh Jauhkan Anak dari Sikap Pemarah dan Pemalas dalam Perspektif Islam

AKURAT.CO Setiap orang tua tentu ingin melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang tenang, penyabar, dan giat berusaha. Namun dalam proses tumbuh kembang, anak kadang menunjukkan sikap mudah marah dan malas, entah dalam belajar, beribadah, atau membantu di rumah.
Bila tidak ditangani dengan tepat, dua sifat ini bisa tumbuh menjadi karakter negatif yang menghambat kesuksesan anak dunia dan akhirat.
Islam sebagai agama yang menyentuh seluruh aspek kehidupan memiliki bimbingan luar biasa dalam membentuk akhlak dan motivasi anak. Berikut ini tujuh cara ampuh menurut perspektif Islam untuk menjauhkan anak dari sifat pemarah dan pemalas:
1. Ajarkan Kontrol Emosi Sejak Kecil
Islam sangat menekankan pentingnya menahan amarah. Rasulullah ﷺ bersabda ketika seorang sahabat meminta nasihat, “لَا تَغْضَبْ” (Jangan marah), dan beliau mengulanginya hingga tiga kali (HR. Bukhari).
Anak perlu diajarkan cara mengenali dan mengatur emosinya sejak dini, misalnya dengan teknik napas tenang, berpikir sebelum bicara, atau menjauh sejenak saat marah. Orang tua juga harus menjadi contoh nyata dalam mengelola emosi di rumah.
2. Hindari Ucapan Kasar dan Kekerasan Verbal dalam Mendidik
Sikap pemarah pada anak sering muncul karena meniru orang tua yang mudah marah atau terbiasa menghardik. Dalam Islam, perkataan yang baik dan lembut adalah bagian dari akhlak.
Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Harun saat menemui Firaun: “فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا” (Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut) – QS. Taha: 44. Jika kepada Firaun saja dianjurkan lembut, apalagi kepada anak kita sendiri.
Baca Juga: 5 Tips Efektif agar Anak Tidak Kecanduan Gadget dalam Perspektif Islam
3. Ajak Anak untuk Aktif dan Bertanggung Jawab Lewat Kegiatan Harian
Sifat malas muncul ketika anak terlalu dimanjakan atau terlalu sering diberi hiburan pasif. Ajarkan tanggung jawab sejak kecil, seperti merapikan mainan, menyiram tanaman, atau membantu pekerjaan rumah.
Rasulullah bersabda, “كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ” (Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya). Ini melatih anak untuk merasa punya peran dan tugas, bukan sekadar jadi penerima.
4. Tanamkan Nilai Ibadah sebagai Penumbuh Disiplin dan Ketekunan
Shalat lima waktu, membaca Al-Qur’an, dan doa-doa harian adalah rutinitas spiritual yang juga membentuk karakter anak. Dengan melatih anak taat pada waktu shalat, ia terbiasa hidup teratur dan disiplin.
Rasulullah ﷺ bersabda, “مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ” (Perintahkan anak-anakmu untuk shalat saat usia tujuh tahun) – HR. Abu Dawud. Ibadah membentuk keterikatan anak pada Allah sekaligus mengajarkan tanggung jawab harian.
5. Motivasi dengan Pujian yang Mendidik, Bukan Ancaman dan Celaan
Anak-anak perlu dukungan emosional agar termotivasi. Ketika mereka melakukan hal baik, pujilah dengan tulus. Hindari kata-kata seperti “dasar malas” atau “memang kamu pemarah dari kecil”, karena itu akan menanamkan label negatif dalam pikirannya.
Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan, orang, atau perbuatan secara kasar. Beliau memilih kata-kata yang mendidik, penuh kasih, dan menggugah hati.
6. Perkenalkan Kisah-Kisah Inspiratif dari Nabi dan Sahabat
Salah satu metode pendidikan dalam Islam adalah melalui kisah. Ceritakan kepada anak bagaimana Nabi Muhammad ﷺ sangat sabar menghadapi caci maki, atau bagaimana sahabat seperti Umar bin Khattab menyalurkan amarahnya menjadi keberanian yang terkontrol. Kisah semacam ini memberi anak teladan nyata untuk dicontoh dan dibanggakan.
Baca Juga: 5 Tips Efektif agar Anak Tidak Kecanduan Gadget dalam Perspektif Islam
7. Perbanyak Doa agar Anak Diberi Hati yang Lembut dan Jiwa yang Rajin
Doa adalah senjata orang tua. Jangan pernah lelah mendoakan anak agar Allah lembutkan hatinya, jauhkan dari sifat marah, dan diberi semangat dalam menuntut ilmu serta beramal.
Nabi Ibrahim berdoa, “رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي” (Ya Rabb, jadikanlah aku dan anak keturunanku sebagai orang yang mendirikan shalat) – QS. Ibrahim: 40. Sisipkan doa dalam setiap sujud, zikir, dan waktu mustajab.
Menjadikan anak sebagai pribadi yang sabar dan giat bukan tugas sehari dua hari. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan teladan, doa, dan kesabaran dari orang tua.
Dengan pendekatan yang islami dan penuh cinta, anak akan tumbuh menjadi pribadi tangguh, tenang, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan hidup.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK








