Selingkuh dengan Teman Sekantor, Ini 5 Bahaya yang Mengintai Perspektif Islam!

AKURAT.CO Fenomena selingkuh dengan rekan sekantor bukan lagi kasus tersembunyi. Di era digital, banyak kisah hubungan gelap di tempat kerja yang mencuat ke publik, lengkap dengan bukti-bukti chat, foto, bahkan rekaman video. Mirisnya, banyak dari pelaku adalah orang-orang yang telah berkeluarga dan dikenal baik secara sosial.
Padahal dalam Islam, perselingkuhan bukan sekadar kesalahan personal, melainkan dosa besar yang berdampak sistemik — merusak tatanan moral, menghancurkan rumah tangga, dan melukai banyak pihak.
Islam memandang pernikahan sebagai amanah suci. Saat seseorang melanggar ikatan itu demi hubungan terlarang dengan teman sekantor, maka dia tidak hanya menghancurkan kepercayaan pasangan, tetapi juga mencederai nilai-nilai iman.
Berikut adalah lima bahaya besar dari perselingkuhan dengan teman sekantor menurut perspektif Islam:
1. Dosa Besar dan Jalan Menuju Zina
Selingkuh, meski hanya secara emosional atau dalam bentuk kedekatan fisik yang tidak sampai zina, tetap termasuk mendekati zina — dan itu dilarang keras dalam Islam.
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra’: 32)
Ayat ini tegas: bukan hanya zina yang dilarang, tapi semua hal yang bisa mendekatinya. Dalam konteks kantor, itu bisa berupa candaan mesra, pertemuan berdua, hingga komunikasi rahasia yang membuka celah syahwat.
2. Merusak Keutuhan Rumah Tangga dan Menyebar Fitnah
Banyak rumah tangga hancur bukan karena konflik, tapi karena kehadiran “orang ketiga” yang berasal dari tempat kerja. Efek domino dari pengkhianatan ini seringkali menghancurkan kepercayaan, menghantui anak-anak, dan memicu konflik berkepanjangan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
ما خلا رجل بامرأة إلا كان الشيطان ثالثهما
"Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita, melainkan yang ketiganya adalah setan." (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa setiap celah untuk mendekat secara pribadi di luar batas mahram adalah jalan yang digiring oleh setan.
Baca Juga: Ramai Kasus Selingkuh dengan Teman Sekantor, Hati-Hati Dosa Besar!
3. Mencoreng Reputasi Diri dan Tempat Kerja
Perselingkuhan di kantor tak hanya merusak nama baik pribadi, tapi juga menciptakan atmosfer kerja yang toksik. Produktivitas menurun, konflik meningkat, dan profesionalisme runtuh. Reputasi pelaku bisa hancur dalam sekejap jika hubungan terlarang itu terbongkar.
Dalam Islam, menjaga kehormatan diri ('ird) adalah bagian dari maqashid syariah — tujuan dasar hukum Islam. Merusak kehormatan pribadi lewat perselingkuhan sama saja mencampakkan salah satu tujuan syariat.
4. Mengundang Murka Allah dan Menyulitkan Akhirat
Selingkuh bukan hanya urusan dunia. Jika dilakukan dalam kondisi sadar dan tanpa taubat, pelakunya berisiko mendapat murka Allah di akhirat. Terlebih jika hubungan itu menyebabkan perceraian atau penderitaan pada pihak lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
من خان زوجته في فراشه، فقد باء بغضب من الله
"Barang siapa mengkhianati istrinya di tempat tidurnya, maka ia telah kembali dengan membawa murka dari Allah." (Makna hadis, HR. Abu Dawud)
Kehidupan ini sementara. Jangan sampai kesenangan sesaat berujung pada penyesalan abadi di akhirat.
5. Membuka Aib Sendiri dan Mendatangkan Azab Sosial
Zaman sekarang, aib tidak lagi tersembunyi. Banyak kasus perselingkuhan yang dibongkar di media sosial, tersebar di grup kantor, dan menjadi gunjingan publik. Orang yang tadinya disegani bisa jatuh dalam sekejap.
Padahal Islam sangat menekankan agar kita menutup aib diri, bukan justru membukanya dengan perbuatan maksiat yang berulang-ulang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كل أمتي معافى إلا المجاهرين
"Seluruh umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa." (HR. Bukhari)
Bahkan jika tak niat memamerkan, ketika perbuatan itu terjadi secara publik — di ruang kerja, disaksikan kolega, atau diketahui banyak orang — itu sudah termasuk bentuk kemaksiatan terang-terangan.
Selingkuh dengan teman sekantor bukan hanya persoalan cinta yang salah arah. Ini adalah perbuatan yang membahayakan spiritualitas, merusak rumah tangga, mengganggu lingkungan kerja, dan melanggar batasan agama. Dalam Islam, menjaga kesucian pernikahan dan kehormatan diri adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar.
Kita tidak bisa mengandalkan ‘rasa nyaman’ sebagai pembenaran. Rasa itu bisa saja datang, tapi imanlah yang membentengi kita dari jatuh pada jurang dosa. Maka waspadalah, jaga niat, jaga pandangan, dan jaga jarak profesional — karena cinta yang halal itu mulia, dan yang haram itu hanya mengundang petaka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









