Pesan Al-Qur'an Agar Anak Muda Islam Tidak Terjebak pada Tren S Line 'Pamer Aib Sendiri'

AKURAT.CO Di tengah arus deras tren digital dan budaya viral, anak muda Muslim hari ini dihadapkan pada ujian baru yang tidak datang dari luar, tapi dari dalam gawai mereka sendiri. Salah satunya adalah fenomena Tren S Line yang sedang ramai di TikTok.
Tren ini terinspirasi dari drama Korea, di mana karakter utama dapat melihat garis merah di atas kepala orang lain sebagai simbol pengalaman seksual mereka.
Sayangnya, dalam dunia nyata, banyak pengguna media sosial—termasuk anak muda Muslim—yang ikut membuat video dengan menambahkan efek garis merah di atas kepala mereka. Seolah tanpa rasa malu, mereka memamerkan sesuatu yang dalam Islam justru disebut aib dan dosa pribadi.
Lalu, bagaimana Al-Qur’an memandang fenomena semacam ini? Dan pesan apa yang bisa kita ambil agar generasi muda Islam tidak terjebak dalam budaya membuka aib sendiri?
1. Al-Qur’an Memerintahkan Menjaga Kehormatan, Bukan Mengumbar Aib
Salah satu prinsip moral paling kuat dalam Islam adalah menjaga kehormatan diri (al-‘iffah). Al-Qur’an berulang kali menyebut pentingnya menundukkan pandangan, menjaga aurat, dan tidak mendekati zina. Dalam Surah An-Nur ayat 30–31, Allah memerintahkan secara eksplisit:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Pesan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyangkut konten dan perilaku digital. Jika menjaga kehormatan itu wajib dalam kehidupan nyata, maka terlebih lagi di media sosial yang menyebarkan informasi lebih cepat dan luas.
Baca Juga: Viral Tren S Line dengan Pamer Aib Sendiri, Begini Hukumnya dalam Islam
2. Aib Bukan untuk Dipertontonkan
Al-Qur’an tidak hanya melarang perbuatan keji, tapi juga melarang penyebaran dan normalisasi maksiat. Dalam Surah An-Nur ayat 19, Allah memperingatkan:
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Sesungguhnya orang-orang yang suka tersebarnya perbuatan keji di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat.
Tren seperti S Line adalah bentuk penyiaran kekejian dalam bentuk simbolik—pamer jumlah pengalaman seksual yang dilakukan (baik benar maupun dibuat-buat), dan menjadikannya konsumsi publik. Ini bukan hanya mencemarkan pelaku, tapi juga membentuk opini publik bahwa maksiat adalah sesuatu yang biasa, bahkan bisa jadi tren.
3. Jangan Ikut-ikutan Tanpa Ilmu
Anak muda seringkali menjadi sasaran tren karena sifatnya yang ingin mencoba, ingin eksis, dan takut ketinggalan zaman. Namun Al-Qur’an memberikan peringatan tegas tentang mengikuti sesuatu secara membabi buta tanpa dasar ilmu:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
(QS. Al-Isra’: 36)
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.
Anak muda harus dibekali dengan literasi keislaman dan digital. Tren tidak boleh diikuti tanpa berpikir. Tidak semua yang viral itu bernilai. Tidak semua yang lucu itu halal. Tidak semua yang banyak dilakukan orang adalah sesuatu yang benar.
4. Bangun Rasa Malu Sebagai Benteng Diri
Al-Qur’an dan sunnah sangat menekankan pentingnya ḥayā’ (rasa malu) dalam kehidupan seorang Muslim. Dalam Surah Al-Ahzab ayat 53, Allah memuji sifat malu dan adab para istri Nabi dan para sahabat ketika berinteraksi:
ذَٰلِكُمْ أَزْكَىٰ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
Itulah yang lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.
Rasa malu bukan kelemahan. Dalam Islam, rasa malu adalah pagar keimanan. Jika seorang pemuda merasa malu untuk membuka aurat atau membicarakan masa lalu yang kotor, itu bukan kekolotan, tetapi bentuk kehormatan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الحياء شعبة من الإيمان
Malu adalah cabang dari iman. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika rasa malu ditanggalkan demi "konten lucu", maka yang hilang bukan hanya nilai, tapi juga iman secara perlahan.
5. Taubat dan Menjaga Masa Lalu Adalah Bukti Kematangan Iman
Al-Qur’an juga tidak menutup pintu bagi siapa pun yang pernah berbuat dosa. Allah menjanjikan pengampunan dan bahkan mengganti dosa menjadi pahala jika seseorang bertobat:
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ
(QS. Al-Furqan: 70)
Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh, maka Allah akan menggantikan keburukan mereka dengan kebaikan.
Membuka aib masa lalu justru menunjukkan bahwa seseorang belum betul-betul bertaubat. Taubat yang benar adalah dengan menyesal, menutup rapat masa lalu, dan berusaha memperbaiki diri.
Baca Juga: Apakah Pacaran dengan Robot Cantik Termasuk Perbuatan Dosa?
Jadilah Generasi Qur'ani, Bukan Generasi Viral
Generasi Muslim masa kini harus memutus rantai ketergantungan pada tren yang merusak. Kita tidak bisa menyelamatkan martabat Islam kalau kita sendiri tidak menjaga kehormatan diri.
Menjadi berbeda bukan aib. Tidak ikut tren bukan berarti ketinggalan zaman. Justru dengan teguh menjaga prinsip, anak muda Muslim bisa menjadi pemimpin zaman.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








