Kalender Jawa Weton 17 Juli 2025, Begini Asal-usul dan Sejarah Lengkap Kalender Jawa Weton

AKURAT.CO Tanggal 17 Juli 2025 bertepatan dengan 21 Suro 1959 dalam kalender Jawa dan 21 Muharram 1447 Hijriah dalam kalender Islam.
Dalam hitungan Jawa, hari ini jatuh pada Kamis Kliwon, yang memiliki neptu 16 dan berada dalam siklus wuku Manahil.
Kombinasi Kamis dan pasaran Kliwon dipercaya membawa karakter “lakuning banyu” atau kepribadian tenang dan berpengaruh.
Namun, dari mana sebenarnya asal-usul kalender Jawa ini? Bagaimana sistem perhitungan weton berkembang dan digunakan masyarakat hingga kini?
Akar Sejarah Kalender Jawa: Warisan Hindu-Buddha dan Islamisasi
Kalender Jawa merupakan hasil akulturasi panjang antara budaya lokal Jawa dengan sistem penanggalan Hindu-Buddha, serta pengaruh besar dari peradaban Islam.
Awalnya, sistem kalender yang digunakan di tanah Jawa sangat dipengaruhi oleh kalender Saka dari India, yang masuk ke Nusantara bersamaan dengan penyebaran agama Hindu dan Buddha pada abad ke-4 Masehi.
Kalender Saka ini memiliki basis perhitungan lunisolar (gabungan bulan dan matahari), dan masih digunakan dalam kalender Bali hingga hari ini. Ketika pengaruh Islam semakin kuat pada abad ke-15 dan 16, khususnya di bawah pemerintahan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram (memerintah 1613–1645), sistem kalender ini dirombak dan disesuaikan dengan penanggalan Hijriah.
Baca Juga: Kalender Jawa Weton Kamis 17 Juli 2025, Begini Hukum Muslim Meyakininya
Pada tahun 1633 M, Sultan Agung melakukan reformasi besar: ia memadukan sistem penanggalan Saka yang berbasis matahari dengan kalender Hijriah yang berbasis bulan.
Hasilnya adalah kalender Jawa Islam yang tetap mempertahankan unsur budaya lokal namun sinkron dengan perhitungan Hijriah, sehingga memudahkan penentuan hari-hari besar Islam tanpa meninggalkan tradisi masyarakat Jawa.
Sistem Weton dan Neptu: Kombinasi Dua Siklus Waktu
Salah satu ciri khas kalender Jawa adalah sistem weton, yaitu gabungan dari dua siklus waktu: siklus tujuh hari (Senin hingga Minggu) dan siklus lima pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Perpaduan ini menghasilkan 35 kombinasi unik yang berulang setiap 35 hari.
Setiap hari dan pasaran memiliki nilai angka atau neptu, yang digunakan dalam berbagai bentuk ramalan dan perhitungan hari baik:
-
Nilai hari: Senin (4), Selasa (3), Rabu (7), Kamis (8), Jumat (6), Sabtu (9), Minggu (5)
-
Nilai pasaran: Legi (5), Pahing (9), Pon (7), Wage (4), Kliwon (8)
Kamis Kliwon, misalnya, memiliki total neptu 16 (8+8), yang termasuk kombinasi paling tinggi. Nilai neptu ini kemudian dijadikan dasar dalam berbagai bentuk hitungan adat, seperti mencari jodoh, mencocokkan hari pernikahan, mendirikan bangunan, bahkan dalam membaca watak dan karakter seseorang.
Fungsi Kalender Jawa dalam Kehidupan Sosial dan Budaya
Kalender Jawa tidak hanya digunakan untuk mencatat waktu, melainkan menjadi bagian dari sistem nilai dan keyakinan masyarakat Jawa. Di dalamnya terdapat pembagian wuku (30 siklus mingguan), pranata mangsa (12 musim), dan banyak unsur astrologi serta simbolisme.
Sistem ini digunakan untuk menentukan waktu bercocok tanam, upacara adat, ritual leluhur, hingga pemaknaan terhadap peristiwa alam dan spiritualitas. Dalam masyarakat agraris tradisional, pengetahuan tentang kalender ini diwariskan dari generasi ke generasi oleh para dukun, sesepuh desa, atau abdi dalem keraton.
Meski di era modern fungsi kalender ini mulai bergeser, banyak keluarga Jawa yang masih menggunakannya saat hendak menggelar hajatan, menyusun hari baik pernikahan, atau bahkan saat memberi nama anak.
Baca Juga: Kalender Jawa Kamis 17 Juli 2025: Kamis Kliwon, Weton Rezeki dan Keberuntungan
Kontinuitas Tradisi dalam Arus Modernitas
Hingga kini, kalender Jawa terus dicetak, diajarkan, dan digunakan di banyak daerah, terutama di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Bahkan sejumlah aplikasi digital sudah mulai memuat informasi weton harian sebagai bagian dari budaya lokal yang tetap relevan.
Kamis, 17 Juli 2025, yang jatuh pada Kamis Kliwon, bukan sekadar tanggal biasa. Ia menyimpan jejak sejarah panjang yang menyatukan peradaban lokal dan agama, serta menjadi bukti bagaimana tradisi dan keyakinan masyarakat Jawa terus bertahan di tengah perubahan zaman.
Dengan memahami asal-usul kalender Jawa, masyarakat diharapkan dapat melihat warisan leluhur ini sebagai bagian dari identitas budaya yang kaya, sambil tetap kritis dan bijak dalam menyikapi aspek-aspek yang bersentuhan dengan keyakinan keagamaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









