Akurat

Mewujudkan Mimpi Gus Dur: Sinta Nuriyah dan Pramono Bahas Pusat Kajian Islam Asia Tenggara

Lufaefi | 12 Juli 2025, 11:00 WIB
Mewujudkan Mimpi Gus Dur: Sinta Nuriyah dan Pramono Bahas Pusat Kajian Islam Asia Tenggara

SINTA

AKURAT.CO Sebuah wacana besar tentang moderasi Islam dan dialog Asia Tenggara kembali mengemuka. Istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah Wahid, bertemu Gubernur Jakarta Pramono Anung di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (11/7/2025), membahas rencana pembangunan Pusat Kajian Islam Asia Tenggara di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Rencana ini bukan sekadar pembangunan fisik. Lebih jauh, menurut Sinta, ini adalah warisan pemikiran Gus Dur yang sejak lama bermimpi mendirikan pusat kajian yang menghubungkan wacana keislaman Indonesia dengan jejaring keilmuan Asia Tenggara.

Sinta juga mengungkapkan rencana menghadirkan diorama interaktif Gus Dur, yang memungkinkan pengunjung "berdialog" dengan pemikiran-pemikiran beliau secara digital.

"Yang bercerita itu Gus Dur sendiri, seolah-olah ngomong sendiri," ujar Sinta.

Baca Juga: Kedaulatan Algoritma di Tengah Kolonialisme Digital

Pramono Anung menyatakan dukungan penuh terhadap proyek tersebut. Ia menegaskan, Pemprov DKI Jakarta akan membantu perizinan hingga penyusunan konsep perpustakaan digital dan diorama tersebut.

Tak sekadar soal administrasi, Pramono secara pribadi juga memiliki kedekatan emosional dengan Gus Dur. "Saya jadi gubernur ini pun, rasanya direstui Gus Dur. Karena saya ziarah ke makam beliau," kata Pramono dengan nada akrab.

Proyek ini, jika terealisasi, berpotensi menjadi salah satu landmark pemikiran Islam inklusif dan progresif di Asia Tenggara.

Namun, tantangan nyata menanti, apakah proyek ini hanya akan menjadi simbol atau benar-benar menjadi ruang dialog lintas agama, budaya, dan negara yang hidup dan dinamis?

Bagaimana memastikan pusat ini relevan bagi generasi muda digital native di tengah tantangan radikalisme dan konservatisme sempit yang masih menguat di sebagian kawasan?

Baca Juga: Gus Dur Dinobatkan Sebagai Bapak Tionghoa Indonesia, Begini Sejarahnya

Wacana besar ini perlu dikawal, bukan hanya oleh keluarga Gus Dur dan Pemprov DKI, tetapi juga oleh masyarakat sipil yang peduli pada masa depan Islam yang ramah, terbuka, dan membumi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.