Akurat

Kapan Jadwal Puasa Asyura? Ini Sejumlah Keutamaan Puasa Asyura dalam Islam

Lufaefi | 4 Juli 2025, 10:05 WIB
Kapan Jadwal Puasa Asyura? Ini Sejumlah Keutamaan Puasa Asyura dalam Islam

AKURAT.CO Bulan Muharam dikenal sebagai salah satu bulan yang penuh kemuliaan dalam kalender Hijriah. Di antara amalan yang dianjurkan pada bulan ini adalah puasa Asyura, yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharam.

Puasa Asyura merupakan salah satu sunnah yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW dan memiliki keutamaan besar dalam kehidupan spiritual seorang Muslim.

Jadwal puasa Asyura pada tahun 2025 mengalami perbedaan penetapan antara beberapa organisasi keagamaan di Indonesia.

Berdasarkan data resmi, Pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan 1 Muharam 1447 H jatuh pada Jumat, 27 Juni 2025. Dengan demikian, 10 Muharam atau puasa Asyura jatuh pada hari Minggu, 6 Juli 2025.

Sementara itu, Muhammadiyah menetapkan 1 Muharam pada Kamis, 26 Juni 2025, sehingga puasa Asyura menurut Muhammadiyah jatuh sehari lebih awal, yakni Sabtu, 5 Juli 2025.

Perbedaan ini bukanlah hal yang baru dalam penanggalan Hijriah, mengingat metode hisab dan rukyat yang digunakan masing-masing pihak memang kerap menghasilkan perbedaan penetapan tanggal. Meskipun demikian, esensi ibadahnya tetap sama, yaitu meneladani amalan Rasulullah SAW dalam menyucikan hari Asyura dengan puasa.

Keutamaan puasa Asyura tidak hanya terletak pada momentum historisnya, tetapi juga pada pahala besar yang dijanjikan oleh Allah SWT. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadits sahih:

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Artinya: “Dan puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun sebelumnya.” (HR Muslim no 1162).

Baca Juga: Naskah Khutbah Jumat: Muharram sebagai Awal Kebangkitan Islam

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Asyura adalah bentuk amalan yang berfungsi sebagai penghapus dosa-dosa kecil yang telah dilakukan seorang hamba dalam setahun terakhir.

Imam an-Nawawi dalam kitabnya al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan penghapusan dosa dalam hadits tersebut adalah dosa-dosa kecil, sementara dosa besar hanya bisa terhapus melalui taubat nasuha.

Selain keutamaan pengampunan dosa, puasa Asyura juga merupakan bagian dari syiar agama yang membedakan umat Islam dari tradisi agama lain.

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW mengetahui kaum Yahudi juga berpuasa pada tanggal 10 Muharam, beliau berkeinginan untuk menambah puasa sehari sebelumnya, yaitu tanggal 9 Muharam, agar berbeda dari kebiasaan mereka. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits:

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya: “Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa, para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani. Maka beliau bersabda: Jika tahun depan aku masih hidup, insya Allah aku akan berpuasa juga pada hari kesembilan. Namun, sebelum tahun berikutnya tiba, Rasulullah SAW telah wafat.” (HR Muslim)

Dari hadits ini, ulama menganjurkan agar umat Islam juga berpuasa pada tanggal 9 Muharam, yang dikenal sebagai puasa Tasu’a, sebagai bentuk penyempurnaan ibadah puasa Asyura dan untuk membedakan diri dari praktik keagamaan umat lain.

Baca Juga: Jadwal Puasa Asyura Pemerintah dan Muhammadiyah Sama atau Tidak?

Dengan demikian, puasa Asyura bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga momentum penyucian jiwa dan pembaharuan komitmen ketaatan kepada Allah SWT. Umat Islam diajak untuk memanfaatkan momen ini sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak amal saleh, serta memperkuat solidaritas sosial dengan berbagi kepada sesama.

Semoga Allah SWT menerima ibadah puasa Asyura kita dan menjadikannya sebagai wasilah untuk pengampunan dosa serta peningkatan derajat ketaqwaan di sisi-Nya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.