Kalender Jawa Weton, Apakah Ada dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi?

AKURAT.CO Weton dalam tradisi Jawa merupakan gabungan antara hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) dan hari dalam pekan (Senin sampai Ahad) yang dipercaya membawa pengaruh terhadap kepribadian, jodoh, dan keberuntungan seseorang.
Sistem ini telah berakar kuat dalam budaya masyarakat Jawa, bahkan hingga kini masih digunakan untuk menentukan hari baik pernikahan, kelahiran anak, hingga memulai usaha.
Namun, pertanyaan krusial yang perlu diajukan adalah: apakah sistem kalender weton memiliki akar dalam ajaran Islam? Apakah ia disebut dalam Al-Qur’an atau pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW?
Ketika ditelusuri secara historis dan tekstual, tidak ditemukan satu pun ayat Al-Qur’an maupun hadis Nabi yang merujuk atau mendukung konsep weton seperti yang dikenal dalam budaya Jawa.
Al-Qur’an dan hadis tidak pernah mengajarkan sistem penanggalan yang menggabungkan pasaran lima hari dan hari pekan, apalagi menjadikannya sebagai alat meramal nasib atau menentukan peruntungan.
Dalam Al-Qur’an, sistem penanggalan yang diakui hanyalah sistem yang berdasarkan peredaran bulan. Allah SWT berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi.” (QS At-Taubah: 36)
Baca Juga: Kalender Jawa Weton vs Kalender Hijriyah: Mana yang Paling Baik untuk Umat Islam?
Sistem ini menjadi dasar bagi penanggalan Hijriyah yang digunakan umat Islam hingga hari ini untuk menentukan waktu ibadah seperti puasa, zakat, dan haji. Tak satu pun riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW atau para sahabatnya menggunakan sistem ramalan berdasarkan hari lahir untuk menilai watak atau meramalkan kejadian di masa depan.
Sebaliknya, Islam sangat tegas dalam melarang segala bentuk ramalan yang tidak bersumber dari wahyu. Nabi Muhammad SAW bersabda:
من أتى عرافا أو كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد
“Barang siapa mendatangi peramal atau dukun, lalu membenarkan ucapannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR Ahmad)
Sistem weton dalam praktiknya sering kali dijadikan dasar untuk mempercayai hal-hal gaib seperti kecocokan jodoh, waktu sial, atau potensi keberuntungan. Jika hal ini diyakini secara mutlak dan dijadikan pedoman hidup, maka telah melampaui batas yang dibenarkan oleh Islam dan termasuk dalam bentuk tathayyur (merasa sial atau beruntung karena waktu atau tanda tertentu), yang oleh Nabi disebut sebagai cabang dari syirik.
Islam sangat menjunjung tinggi rasionalitas, usaha, dan tawakal kepada Allah dalam menjalani hidup. Islam tidak menggantungkan nasib manusia pada tanggal kelahiran atau hari tertentu. Sebaliknya, rezeki, jodoh, dan ajal adalah bagian dari takdir Allah yang tidak dapat diketahui kecuali melalui tanda yang diturunkan oleh-Nya, bukan melalui hitungan weton.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kalender Jawa weton tidak ada dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi. Ia adalah produk budaya lokal yang tidak memiliki dasar syar’i.
Selama diperlakukan hanya sebagai tradisi sosial tanpa diyakini sebagai penentu takdir, ia bisa dihargai sebagai bagian dari warisan budaya. Namun, jika weton dipercayai sebagai alat mengetahui nasib dan masa depan, maka hal itu bertentangan dengan prinsip akidah Islam.
Baca Juga: Kalender Jawa Weton 30 Juni 2025, Bolehkah Meyakini Kalender Jawa Weton dalam Islam?
Umat Islam semestinya menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai satu-satunya petunjuk hidup. Tradisi lokal dapat diterima selama tidak menyelisihi tauhid dan tidak menyaingi wahyu. Karena dalam Islam, masa depan manusia bukan ditentukan oleh angka dan hari, melainkan oleh iman, amal, dan kehendak Allah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










