Cara Mandi Besar Setelah Haid, Mudah Dipahami

AKURATCO Dalam ajaran Islam, menjaga kebersihan jasmani merupakan bagian dari kesucian spiritual yang sangat dianjurkan.
Salah satu bentuk kebersihan tersebut adalah mandi besar atau mandi wajib yang dilakukan setelah mengalami hadas besar, seperti haid.
Proses ini tidak sekadar rutinitas fisik, tetapi juga mencerminkan kepatuhan seorang muslimah terhadap tuntunan syariat.
Mandi besar setelah haid memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan Hadis. Dalam surah Al-Baqarah ayat 222, Allah berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ‘Haid itu adalah suatu kotoran.’
Maka jauhilah istri-istrimu di waktu haid dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.”
Ayat ini menunjukkan bahwa setelah masa haid selesai, seorang perempuan harus menyucikan dirinya terlebih dahulu sebelum kembali melaksanakan aktivitas ibadah seperti salat.
Baca Juga: Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H Libur Nasional? Ini Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriyah
Dalam praktiknya, tata cara mandi besar setelah haid dijelaskan dalam berbagai hadis Nabi Muhammad Saw.
Salah satu hadis yang masyhur diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim adalah kisah Ummu Salamah yang bertanya kepada Rasulullah tentang cara mandi bagi wanita setelah haid.
Rasulullah menjelaskan bahwa hendaknya wanita mengambil air dan mencuci tempat darah, kemudian berwudu sebagaimana wudu untuk salat, lalu menyiramkan air ke atas kepala tiga kali hingga merata ke seluruh tubuh.
Secara teknis, langkah-langkah mandi besar setelah haid dapat dirinci sebagai berikut. Pertama, niat dalam hati untuk mengangkat hadas besar.
Niat ini tidak harus diucapkan secara lisan, cukup di dalam hati sebagai bentuk kesadaran akan kewajiban menyucikan diri. Kedua, mencuci kedua telapak tangan sebanyak tiga kali.
Ketiga, membersihkan kemaluan dan bagian tubuh yang terkena najis menggunakan tangan kiri. Setelah itu, tangan dicuci kembali.
Langkah berikutnya adalah berwudu sebagaimana wudu untuk salat. Namun sebagian ulama menyarankan untuk menunda mencuci kaki hingga akhir proses mandi agar tidak terkena cipratan najis. Setelah wudu, air disiramkan ke kepala sebanyak tiga kali, dimulai dari bagian kanan, kemudian kiri, lalu seluruh kepala.
Disarankan untuk memastikan air merata hingga ke pangkal rambut. Selanjutnya, air disiramkan ke seluruh tubuh dimulai dari sisi kanan, kemudian kiri, hingga seluruh tubuh basah secara merata.
Baca Juga: 50+ Ide Tema Peringatan 1 Muharram 1447 H: Inspirasi Menyambut Tahun Baru Islam dengan Makna
Beberapa ulama menganjurkan untuk menggosok tubuh agar lebih yakin seluruh bagian telah terkena air. Bagi perempuan yang memiliki rambut panjang, tidak diwajibkan untuk melepas ikatan rambutnya, cukup memastikan bahwa air sampai ke kulit kepala, sebagaimana keterangan dari hadis Nabi.
Mandi besar ini menjadi syarat sah untuk menjalankan ibadah seperti salat, puasa, dan menyentuh mushaf Al-Qur’an. Oleh karena itu, selain menjadi bentuk ibadah, mandi besar juga merupakan simbol dari pembaruan diri secara spiritual setelah melewati masa yang menghalangi pelaksanaan ibadah.
Dengan memahami tata cara mandi besar setelah haid secara benar, seorang muslimah tidak hanya melaksanakan kewajiban syariat, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual tentang pentingnya kebersihan, kedisiplinan, dan kepatuhan terhadap tuntunan Ilahi.
Islam menempatkan kesucian bukan hanya sebagai aspek fisik, melainkan sebagai jalan menuju ketenangan batin dan keterhubungan yang lebih dalam dengan Sang Pencipta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










