Niat Puasa Sunnah Bulan Dzulhijjah, Bolehkah Hanya Diucapkan dalam Hati?

AKURAT.CO Setiap ibadah dalam Islam diawali dengan niat. Termasuk dalam hal ini adalah puasa, baik puasa wajib seperti Ramadhan maupun puasa sunnah seperti yang dikerjakan pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah.
Namun, banyak orang bertanya-tanya: apakah niat puasa harus diucapkan dengan lisan, atau cukup di dalam hati saja?
Pertanyaan ini penting, karena tidak sedikit kaum muslimin yang ragu apakah puasanya sah jika ia tidak mengucapkan lafaz niat secara verbal.
Apalagi dalam konteks puasa sunnah Dzulhijjah yang bisa saja diniatkan secara spontan di pagi hari ketika menyadari belum makan dan ingin meraih keutamaan hari-hari mulia tersebut.
Para ulama sepakat bahwa hakikat niat adalah amalan hati. Artinya, yang dinilai oleh Allah adalah kesengajaan dan tekad dalam hati untuk melakukan suatu ibadah karena-Nya.
Baca Juga: Niat Puasa Sunnah Bulan Dzulhijjah dalam Bahasa Arab dan Artinya
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini tidak menyebut keharusan mengucapkan niat dengan lisan. Artinya, cukup dalam hati saja sudah sah.
Bahkan, mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i menyatakan bahwa niat yang sebenarnya adalah ketika seseorang menyadari dan meniatkan dalam hati bahwa ia akan menjalankan ibadah tertentu.
Pengucapan dengan lisan hanyalah anjuran untuk membantu hati lebih fokus, bukan syarat keabsahan ibadah.
Dalam konteks puasa sunnah di bulan Dzulhijjah, seseorang yang di pagi hari belum makan atau minum, lalu berniat untuk berpuasa karena ingin mendekatkan diri kepada Allah di hari-hari mulia ini, maka puasanya sah, walaupun tidak mengucapkannya secara lisan.
Bahkan, ia tidak perlu mengucapkan lafaz Arab jika belum mampu, sebab niat itu adalah kesadaran batin, bukan retorika verbal.
Meski begitu, mengucapkan lafaz niat seperti:
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِي الحِجَّةِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
"Aku niat puasa bulan Dzulhijjah, sunnah karena Allah Ta‘ala"
atau
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
"Aku niat puasa Arafah, sunnah karena Allah Ta‘ala"
boleh saja dilakukan sebagai bentuk pelafalan dan latihan, selama tidak dianggap wajib.
Baca Juga: Kapan Puasa Dzulhijjah 2025? Bolehkah Digabung dengan Puasa Qadha Ramadhan?
Kesimpulannya, boleh dan sah jika niat puasa sunnah hanya dilakukan dalam hati. Inilah ajaran Islam yang memberikan kemudahan bagi umatnya: selama hati ikhlas dan sadar untuk beribadah, maka amal tersebut tercatat dan diterima.
Jadi, jangan terlalu terpaku pada lafaz, tetapi kuatkan niat dan semangat untuk meraih keutamaan sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah yang penuh berkah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









