Akurat Logo

Kalender Jawa Weton Jumat 16 Mei 2025: Ini Sejarah Awal Mula Penggunaan Weton di Jawa

Fajar Rizky Ramadhan | 16 Mei 2025, 07:00 WIB
Kalender Jawa Weton Jumat 16 Mei 2025: Ini Sejarah Awal Mula Penggunaan Weton di Jawa

AKURAT.CO Pada hari Jumat, 16 Mei 2025, masyarakat Jawa yang masih memegang tradisi warisan leluhur akan menyambut hari dengan penuh makna.

Dalam kalender Jawa, hari ini bertepatan dengan Jumat Legi, salah satu kombinasi hari dan pasaran yang dikenal dengan istilah weton.

Di balik penentuan hari ini, tersembunyi jejak panjang sejarah dan kosmologi lokal yang mengakar kuat dalam budaya Jawa.

Tradisi penanggalan weton bukan sekadar penanda waktu, melainkan sistem pengetahuan yang kompleks.

Weton berasal dari penggabungan dua siklus waktu: hari dalam satu pekan (Senin hingga Minggu) dan pasaran, yaitu sistem lima hari dalam kalender Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).

Kombinasi dari dua sistem ini menghasilkan 35 pasangan hari-pasaran yang berulang setiap 35 hari. Maka, setiap individu memiliki weton kelahiran, yang diyakini menyimpan pengaruh spiritual terhadap kepribadian, nasib, jodoh, hingga rezeki.

Sejarah Awal Mula Penggunaan Weton

Asal-usul sistem weton dapat dilacak ke masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Sistem penanggalan yang digunakan pada masa itu memadukan unsur-unsur dari sistem kalender Saka India dan perhitungan astronomis lokal.

Salah satu peninggalan penting dari masa ini adalah penggunaan penanggalan pawukon, yakni siklus waktu 210 hari yang juga memuat pembagian waktu berdasarkan weton.

Baca Juga: Kalender Jawa Weton Jumat 16 Mei 2025: Watak, Pekerjaan, hingga Jodoh

Namun, sistem weton dalam bentuk yang kita kenal sekarang lebih banyak berkembang dan dikodifikasikan pada masa Mataram Islam. Di sinilah terjadi proses Islamisasi budaya lokal, termasuk dalam sistem kalender.

Sunan Kalijaga dan para Wali Songo dikenal memainkan peran penting dalam membumikan nilai-nilai Islam ke dalam konteks budaya Jawa yang telah lebih dahulu berkembang.

Kalender Jawa kemudian mengalami sinkretisasi antara sistem penanggalan Hijriyah, Saka, dan perhitungan lokal.

Sultan Agung dari Mataram, pada abad ke-17, merupakan tokoh sentral yang memformalkan penanggalan Jawa Islam dengan menggabungkan kalender Saka (yang berbasis matahari) dan kalender Hijriyah (yang berbasis bulan).

Meskipun kalender resmi kesultanan mengadopsi sistem ini, masyarakat tetap mempertahankan sistem weton sebagai bagian dari praktik kehidupan sehari-hari.

Fungsi Sosial dan Budaya Weton

Dalam kehidupan masyarakat Jawa, weton berfungsi lebih dari sekadar alat pencatat waktu. Ia berperan dalam berbagai ritual budaya dan keagamaan. Salah satu praktik paling populer adalah perhitungan jodoh dan hari baik untuk pernikahan.

Para tetua adat atau dukun sering diminta menghitung kecocokan pasangan berdasarkan weton masing-masing. Jika dianggap tidak serasi, maka pasangan dianjurkan menjalani ruwatan atau ritual pembersihan agar tidak tertimpa sial.

Selain itu, peringatan hari lahir berdasarkan weton, yang disebut selametan weton, masih lazim dilakukan di banyak daerah di Jawa. Tradisi ini tidak hanya menjadi momen spiritual untuk memanjatkan doa dan syukur, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antaranggota keluarga dan masyarakat.

Kritik dan Pandangan Kontemporer

Dalam perkembangan zaman, sistem weton kerap menjadi sorotan. Sebagian kalangan, terutama dari perspektif modernis dan rasionalis, memandang weton sebagai praktik yang irasional, bahkan dianggap mendekati takhayul. Namun di sisi lain, weton juga dipertahankan sebagai warisan budaya dan identitas etnis yang penting.

Antropolog Clifford Geertz dalam karyanya The Religion of Java menyoroti bagaimana masyarakat Jawa memiliki cara unik dalam memadukan keyakinan animistik, Hindu-Buddha, dan Islam dalam satu sistem kepercayaan yang kompleks. Sistem weton menjadi bagian integral dari struktur tersebut, sebuah sistem simbolik yang memediasi antara manusia dan alam semesta.

Baca Juga: Kalender Jawa Weton Bulan Mei 2025, Lengkap dengan Penanggalan Hijriah

Kini, dengan semakin luasnya akses terhadap pendidikan dan sains modern, penggunaan weton memang mulai berkurang di kalangan muda perkotaan. Namun demikian, di wilayah pedesaan dan komunitas yang masih menjunjung adat, weton tetap hidup dan berfungsi sebagai kompas kehidupan yang tak tergantikan.

Kesimpulannya, Jumat Legi, 16 Mei 2025, bukan hanya sekadar titik waktu dalam kalender Jawa, melainkan sebuah penanda dari jejak panjang sejarah intelektual dan spiritual masyarakat Jawa.

Dari akarnya yang bersifat kosmis hingga fungsinya yang sosial dan ritual, sistem weton menunjukkan bagaimana masyarakat Nusantara menciptakan tata waktu yang menyatu dengan nilai, keyakinan, dan kearifan lokal.

Dalam menghadapi arus modernitas, pelestarian pengetahuan seperti ini menjadi penting agar kita tidak tercerabut dari akar budaya sendiri.

Weton bukan sekadar hitungan hari, tapi juga jendela untuk memahami cara berpikir dan hidup masyarakat Jawa dari masa lalu hingga kini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.