5 Alasan Kenapa Anda Tidak Perlu Merisaukan Rezeki Menurut Filsafat Islam

AKURAT.CO Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern yang dipenuhi dengan kecemasan tentang masa depan, topik rezeki menjadi salah satu yang paling sering menghantui benak manusia.
Apakah saya akan cukup makan besok? Apakah gaji bulan depan mencukupi? Apakah bisnis saya akan bertahan? Ketakutan ini wajar secara psikologis.
Namun, jika dilihat dari sudut pandang filsafat Islam, kekhawatiran terhadap rezeki justru bertentangan dengan hakikat ontologis manusia dan konsep ketuhanan yang transenden.
Filsafat Islam tidak hanya memandang rezeki sebagai entitas material, tetapi juga sebagai pancaran kehendak Ilahi yang disalurkan melalui sebab-sebab eksistensial.
Dalam artikel ini, kita akan menelusuri lima alasan mendasar yang menunjukkan bahwa merisaukan rezeki bukan hanya tidak perlu, tetapi juga menunjukkan miskonsepsi terhadap prinsip-prinsip metafisik Islam.
1. Rezeki Sudah Ditentukan (Qadha dan Qadar dalam Ontologi Islam)
Konsep qadha dan qadar merupakan pilar dalam metafisika Islam. Menurut Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah, seluruh gerak dan diam di alam semesta telah ditentukan oleh kehendak Allah.
Rezeki, sebagai bagian dari takdir, adalah sesuatu yang telah ditetapkan. Ibn Sina dalam kerangka filsafatnya menjelaskan bahwa Tuhan adalah wajib al-wujud (keberadaan yang niscaya), dan segala yang eksis merupakan limpahan dari-Nya secara teratur dan sistematis.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Dijuluki Gubernur Konten, Klaim Hemat Belanja Iklan hingga Rp47 Miliar
Oleh karena itu, rezeki bukanlah hasil dari kebetulan atau ketidakteraturan, melainkan bagian dari tatanan ontologis yang ditentukan oleh ʿaql faʿʿāl (akal aktif).
Dengan demikian, merisaukan rezeki berarti meragukan keteraturan metafisik yang telah disusun oleh Sang Wujud Mutlak.
2. Tugas Manusia adalah Usaha, Bukan Hasil (Etika Ikhtiar Ibn ‘Ashur)
Filsafat Islam membedakan antara kasb (usaha) dan hasil. Ibn ‘Ashur, seorang ulama dan filsuf asal Tunisia, menjelaskan bahwa manusia diberi kebebasan dalam batas tertentu untuk berusaha, namun tidak dalam mengatur hasil.
Ini juga senada dengan pandangan al-Maturidi yang menyatakan bahwa manusia berkehendak, tetapi kehendaknya tunduk pada kehendak Tuhan.
Dalam konteks ini, manusia dituntut untuk aktif secara etis—berikhtiar tanpa menggantungkan kebahagiaan pada hasil. Ini mengajarkan sikap zuhud aktif, yaitu tidak melekat pada dunia, namun tetap produktif.
3. Rezeki Bersifat Kolektif, Bukan Individual (Teologi Sosial Al-Farabi)
Al-Farabi dalam Al-Madinah al-Fadhilah menekankan bahwa rezeki harus dipahami sebagai fenomena kolektif. Dalam masyarakat utama (madinah fadilah), distribusi kekayaan tidak bersifat acak, melainkan mencerminkan keadilan kosmik dan sosial.
Ketika individu menanggung rasa cemas terhadap rezeki, itu seringkali karena pendekatan individualistik yang terpisah dari relasi sosial dan struktur distribusi keadilan.
Rezeki, dalam pandangan ini, bukan sekadar apa yang kita peroleh, tetapi juga apa yang kita bagi. Oleh karena itu, kekhawatiran terhadap rezeki pribadi dapat menjadi ilusi yang muncul karena hilangnya keterlibatan dalam sistem sosial yang adil.
4. Ketakutan adalah Produk Wahm, Bukan Aql (Distingsi Epistemik Mulla Sadra)
Mulla Sadra, filsuf besar dari tradisi Hikmah Muta‘aliyah, membagi pengetahuan menjadi tiga: aql (intelek), wahm (imajinasi semu), dan hiss (indra). Ia menekankan bahwa banyak dari kecemasan manusia, termasuk tentang rezeki, berasal dari dominasi wahm atas aql.
Ketika manusia terlalu larut dalam dunia material dan data indrawi, ia akan dikuasai oleh imajinasi negatif—ketakutan terhadap kelaparan, kebangkrutan, atau kegagalan.
Padahal, aql yang murni, sebagaimana dipandu oleh wahyu, menunjukkan bahwa Allah telah menjamin rezeki makhluk-Nya (Q.S. Hud: 6).
Baca Juga: Viral Guru di Bandung Barat Tugasi Siswa Gambar Alat Kelamin Sendiri, Apa Hukumnya Menurut Islam?
5. Rezeki adalah Ujian Nilai, Bukan Nilai Itu Sendiri (Falsafah Maqasid)
Dalam falsafah maqasid al-shari‘ah, segala sesuatu yang diberikan kepada manusia memiliki dimensi ujian (ibtila’). Rezeki bukanlah tujuan hidup, melainkan instrumen untuk mengukur kualitas ketakwaan, syukur, dan keadilan sosial.
Sayyid Qutb dalam Fi Zhilal al-Qur’an menyebut bahwa kehidupan dunia adalah ladang ujian bagi jiwa yang ingin mencapai kedewasaan spiritual.
Maka, semakin besar rezeki seseorang, semakin berat pula ujian yang ia pikul. Jika demikian, mengapa kita merisaukan sesuatu yang sejatinya adalah alat uji, bukan tujuan akhir?
Kesimpulannya, Filsafat Islam mengajarkan bahwa rezeki adalah bagian dari sistem kosmik yang tertata dan adil, bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan secara berlebihan.
Merisaukannya berarti mengaburkan rasionalitas, melemahkan spiritualitas, dan mengacaukan makna hidup. Yang perlu kita lakukan adalah berikhtiar secara etis, hidup dalam sistem sosial yang adil, dan menyandarkan diri pada Tuhan Yang Maha Memberi.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










