Mengungkap Sosok Tokoh Walid Viral dalam Film Bidaah

AKURAT.CO Sosok tokoh Walid Viral di Tiktok setelah serial film Bidaah tayang dan viral di sosial media.
Di era media sosial, satu adegan dramatis bisa melahirkan fenomena viral lintas negara. Itulah yang terjadi pada karakter Walid, sosok misterius dari serial drama Malaysia berjudul Bidaah, yang tiba-tiba meroket jadi tren di TikTok.
Dengan penampilan khas memakai penutup kepala menyerupai sorban putih, tokoh ini sukses membelah ruang maya, menjadi bahan candaan sekaligus perenungan kolektif netizen, terutama di Indonesia.
Drama Bidaah, yang juga dikenal dengan judul internasional Broken Heaven, mengangkat tema sensitif: sebuah sekte yang mengklaim membawa kebenaran spiritual namun ternyata menyimpang dari nilai-nilai ajaran agama.
Narasinya kompleks, menggambarkan ketegangan antara doktrin yang dikultuskan dan kebebasan berpikir yang ditekan.
Di tengah konflik itu, hadir Walid sebagai pemimpin karismatik sekte tersebut—tokoh yang kontroversial dan penuh paradoks.
Faizal Hussein, aktor senior Malaysia, memerankan Walid dengan intensitas yang kuat. Salah satu adegan yang paling banyak disorot adalah ketika Walid berkata kepada pengikutnya, “Pejamkan mata, bayangkan muka Walid.”
Kalimat ini kemudian menjadi kutipan viral di TikTok, disandingkan dengan berbagai konteks lucu, parodi, bahkan sindiran tajam terhadap tokoh-tokoh otoritatif di dunia nyata.
Adegan lain yang menjadi viral memperlihatkan interaksi antara Walid dan seorang perempuan bernama Dewi, yang tergabung dalam sekte tersebut.
Saat Walid mempertanyakan, “Apakah Walid bisa menginginkan Dewi?”—reaksi netizen pun beragam. Dari tawa, satire, hingga diskusi kritis soal relasi kuasa dalam konteks agama.
Yang menarik, viralitas ini bukan sekadar hiburan. Di balik meme dan parodi, terselip kesadaran sosial baru: bagaimana figur otoritas keagamaan bisa disalahgunakan untuk manipulasi psikologis.
Drama ini pun membuka ruang diskusi tentang pentingnya berpikir kritis dalam beragama dan tidak menelan mentah-mentah ajaran tanpa nalar.
Fenomena Walid menunjukkan bahwa media sosial hari ini bukan hanya alat penyebar hiburan, tapi juga kanal amplifikasi pesan moral dan kritik sosial. Satu potongan video bisa menggugah kesadaran kolektif, melampaui batas geografis dan budaya.
Serial Bidaah tidak hanya menghadirkan tontonan yang menggugah emosi, tetapi juga menghadirkan refleksi tajam tentang dinamika keagamaan yang seringkali diselubungi tabu.
Karakter Walid, meski fiktif, menjadi simbol dari sesuatu yang sangat nyata: godaan kekuasaan, penyimpangan spiritual, dan bahayanya kepatuhan tanpa logika.
Jika kamu belum menonton, mungkin ini saatnya membuka mata—dan jangan lupa, pikirkan baik-baik sebelum kamu "membayangkan muka Walid".
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







