Viral Isu Dugaan Minyak Babi pada Mie Gacoan, Islam Tekankan Pentingnya Memastikan Kehalalan Makanan

AKURAT.CO Baru-baru ini, muncul isu yang menghebohkan masyarakat mengenai dugaan adanya minyak babi pada Mie Gacoan, serta status kehalalan produk tersebut yang disebut-sebut masih dipertanyakan.
Meski kabar ini belum pasti kebenarannya, isu ini memicu kekhawatiran, terutama di kalangan Muslim yang sangat memperhatikan kehalalan makanan yang mereka konsumsi.
Dalam Islam, menjaga kehalalan makanan bukan sekadar pilihan, tetapi merupakan kewajiban yang berkaitan erat dengan keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Islam telah mengatur dengan jelas mengenai pentingnya mengonsumsi makanan halal dan baik (thayyib). Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Artinya: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Baca Juga: Viral Isu Mie Gacoan Mengandung Minyak Babi, Ini Fakta Sebenarnya dan Tips Memilih Makanan Halal
Ayat ini menjadi landasan utama bagi umat Islam dalam memilih makanan. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk mencari makanan yang halal, tetapi juga yang thayyib, yaitu baik, sehat, dan berkualitas.
Konsumsi makanan yang haram, seperti daging babi atau produk turunannya, dianggap sebagai tindakan mengikuti langkah-langkah setan yang bisa menjauhkan manusia dari jalan yang lurus.
Dengan kata lain, menjaga kehalalan makanan adalah bagian dari menjaga kemurnian hati dan ketaatan kepada Allah.
Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 172)
Ayat ini menegaskan bahwa salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah adalah dengan memastikan bahwa rezeki yang kita konsumsi berasal dari sumber yang halal dan baik.
Mengabaikan aspek kehalalan dalam makanan bisa berdampak pada diterima atau tidaknya ibadah kita, seperti disebutkan dalam banyak riwayat hadits.
Rasulullah SAW pun mengingatkan bahwa doa seseorang yang makan dari sesuatu yang haram tidak akan dikabulkan.
Isu mengenai kehalalan Mie Gacoan ini menjadi pengingat penting bagi kita semua akan perlunya kehati-hatian dalam memilih makanan.
Sebagai konsumen Muslim, kita memiliki tanggung jawab untuk memeriksa status halal produk yang kita konsumsi, baik melalui label sertifikasi halal resmi maupun informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Baca Juga: Saldo Dana Kaget Hari Ini untuk Tabungan Persiapan Mudik Lebaran, Halal atau Tidak?
Prinsip kehati-hatian ini disebut dalam kaidah fiqih: "Al-ashlu fil asy-yaa' al-ibahah hatta yadulla dalil 'ala tahrimiha" — segala sesuatu pada dasarnya adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya.
Namun, dalam hal makanan dan minuman, kehati-hatian menjadi prioritas, terutama ketika menyangkut bahan-bahan yang jelas diharamkan seperti babi.
Dengan demikian, memastikan kehalalan makanan bukan hanya tentang mengikuti aturan agama, tetapi juga menjaga kemurnian jiwa, kesehatan, dan keberkahan dalam hidup.
Mari kita selalu bersikap selektif dan teliti dalam memilih makanan, serta mengutamakan prinsip halal dan thayyib sebagai bagian dari ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










