Akurat

Bacaan Injil Katolik yang Mengajarkan Nilai-Nilai Universal Perdamaian dan Toleransi

Fajar Rizky Ramadhan | 26 Januari 2025, 08:30 WIB
Bacaan Injil Katolik yang Mengajarkan Nilai-Nilai Universal Perdamaian dan Toleransi

AKURAT.CO Dalam tradisi Katolik, Injil menjadi sumber utama ajaran iman yang melandasi kehidupan umat.

Bacaan Injil tidak hanya menjadi pedoman moral bagi umat Kristiani, tetapi juga mengandung nilai-nilai universal yang relevan untuk semua orang, terlepas dari agama atau kepercayaan mereka.

Salah satu nilai utama yang diusung dalam Injil adalah perdamaian dan toleransi, yang menjadi landasan penting dalam membangun harmoni sosial di tengah keberagaman manusia.

Dalam Perjanjian Baru, salah satu bacaan yang paling menonjol dalam mengajarkan perdamaian adalah khotbah Yesus di atas bukit, yang tercatat dalam Injil Matius 5:9,

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”

Ayat ini menunjukkan bahwa perdamaian bukan hanya sebuah keadaan tanpa konflik, melainkan sebuah panggilan aktif untuk menciptakan harmoni di tengah dunia yang penuh perbedaan dan tantangan.

Baca Juga: Anda Seorang Muslim yang Punya Keluarga Beragama Kristen? Ini Ucapan yang Bisa Anda Sampaikan di Hari Natal 2024

Yesus mengajarkan bahwa setiap individu yang berusaha untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai atau yang memupuk keharmonisan dalam komunitasnya dianggap sebagai anak-anak Allah, sebuah gelar kehormatan yang melampaui sekat agama dan budaya.

Selain itu, nilai toleransi juga sangat jelas dalam kisah perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati (Lukas 10:25-37).

Dalam kisah ini, Yesus menjawab pertanyaan tentang siapakah sesama manusia dengan menceritakan seorang pria yang dirampok dan dibiarkan terluka di pinggir jalan.

Sementara seorang imam dan seorang Lewi, yang seharusnya menjadi teladan moral dalam masyarakat Yahudi, justru melewati pria tersebut tanpa memberikan bantuan, seorang Samaria—yang secara tradisional dianggap sebagai musuh oleh orang Yahudi—malah menunjukkan belas kasih dan merawat pria itu dengan penuh perhatian.

Kisah ini mengajarkan bahwa sesama bukanlah semata-mata mereka yang berasal dari suku, agama, atau budaya yang sama, melainkan siapa saja yang membutuhkan pertolongan.

Nilai toleransi dalam kisah ini melampaui sekat-sekat identitas sosial, mendorong manusia untuk melihat kemanusiaan sebagai dasar hubungan antarmanusia.

Injil juga mengajarkan pentingnya pengampunan sebagai jalan menuju perdamaian.

Dalam Matius 18:21-22, ketika Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadapku? Sampai tujuh kali?” Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Baca Juga: Bolehkah Orang Islam Mendengarkan Pembacaan Kitab Injil?

Jawaban ini menekankan bahwa pengampunan harus menjadi sikap hati yang tak terbatas, karena hanya dengan pengampunan, luka batin dan konflik dapat disembuhkan.

Nilai-nilai universal seperti perdamaian, toleransi, dan pengampunan yang diajarkan dalam Injil tidak hanya relevan bagi umat Katolik, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi seluruh umat manusia.

Dalam konteks dunia modern yang sering kali diwarnai oleh konflik dan polarisasi, ajaran Injil menjadi pengingat akan pentingnya membangun jembatan daripada tembok, serta menciptakan ruang dialog dan saling pengertian.

Dengan demikian, bacaan Injil tidak hanya menjadi pedoman spiritual bagi umat Kristiani, tetapi juga memiliki daya transformasi yang universal.

Ajaran-ajaran tersebut mengundang setiap manusia, apapun latar belakangnya, untuk menjadi agen perdamaian dan toleransi di dunia yang penuh dengan keberagaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.