Akurat

Kalender Jawa Sabtu Kliwon 14 Desember 2024 Disebut Keras tapi Sopan, Apa Boleh Meyakini Ini Perspektif Islam?

Fajar Rizky Ramadhan | 14 Desember 2024, 08:00 WIB
Kalender Jawa Sabtu Kliwon 14 Desember 2024 Disebut Keras tapi Sopan, Apa Boleh Meyakini Ini Perspektif Islam?

AKURAT.CO Dalam tradisi masyarakat Jawa, kalender Jawa tidak hanya sekadar penanda waktu, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya yang kaya dan penuh makna.

Salah satu aspek menarik dari kalender Jawa adalah penanggalan hari pasaran, seperti Sabtu Kliwon, yang sering dikaitkan dengan karakteristik tertentu.

Sabtu Kliwon 14 Desember 2024, misalnya, disebut memiliki sifat "keras tapi sopan."

Namun, bagaimana Islam memandang keyakinan semacam ini? Apakah boleh seorang Muslim meyakini karakter hari atau pasaran tertentu?

Islam sebagai agama tauhid mengajarkan umatnya untuk tidak terjebak dalam keyakinan yang berbau takhayul atau sesuatu yang tidak memiliki dasar dalam syariat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Isra: 85).

Baca Juga: Trending Slot Demo Mahjong Hitam, Begini Dampak Buruk Judi Online Menurut Islam

Ayat ini mengingatkan manusia bahwa ilmu manusia sangat terbatas. Hanya Allah yang mengetahui segala sesuatu secara pasti, termasuk sifat-sifat hari atau pengaruhnya terhadap kehidupan manusia.

Dalam hal ini, keyakinan terhadap karakter tertentu yang dikaitkan dengan hari-hari tertentu, seperti keras tapi sopan, harus dilihat dengan hati-hati.

Jika keyakinan tersebut melibatkan unsur kepercayaan pada hal gaib tanpa landasan syariat, maka hal itu tidak dibenarkan dalam Islam.

Rasulullah SAW juga bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

"Barang siapa yang mendatangi peramal atau dukun, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya)

Hadis ini menjadi pedoman bahwa kepercayaan terhadap ramalan atau hal-hal mistis, termasuk yang berkaitan dengan karakter hari atau pasaran, dapat membawa seseorang pada penyimpangan akidah.

Dalam konteks ini, mempercayai sifat "keras tapi sopan" Sabtu Kliwon, jika dianggap memiliki pengaruh terhadap nasib atau kejadian tertentu, dapat masuk dalam kategori yang dilarang.

Namun, penting juga memahami bahwa budaya Jawa tidak selalu bertentangan dengan Islam. Selama praktik budaya tersebut tidak mengandung syirik atau takhayul, Islam memberikan ruang untuk keberagaman budaya.

Misalnya, jika sifat "keras tapi sopan" hanya dipahami sebagai simbol atau filosofi hidup tanpa mengaitkannya dengan kekuatan gaib, hal itu tidak menjadi masalah. Islam menghargai kebijaksanaan lokal selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid.

Baca Juga: Suami Baru Irish Bella Diduga Belum Lunasi Mahar, Begini Hukumnya menurut Islam

Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya." (QS. Al-Isra: 36)

Ayat ini mengajarkan agar umat Islam hanya meyakini sesuatu yang berdasarkan ilmu dan fakta, bukan prasangka atau tradisi yang tidak memiliki landasan yang jelas.

Oleh karena itu, dalam menghadapi fenomena seperti Sabtu Kliwon dan sifat-sifat yang disematkan padanya, umat Islam harus menggunakan akal sehat dan prinsip syariat sebagai pedoman.

Sebagai kesimpulan, Islam tidak melarang masyarakat Muslim untuk menghormati tradisi lokal seperti kalender Jawa, selama tradisi tersebut tidak mengandung keyakinan yang bertentangan dengan tauhid.

Meyakini sifat "keras tapi sopan" pada Sabtu Kliwon harus dibingkai sebagai bagian dari budaya, bukan kepercayaan yang memiliki pengaruh nyata terhadap kehidupan.

Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang melarang takhayul dan mengajarkan umatnya untuk selalu bertawakal kepada Allah dalam segala hal.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.