AKURAT.CO Baru-baru ini, media sosial diramaikan oleh pernyataan seorang ulama populer, Gus Miftah, yang dianggap kepleset lidah saat menyebut seorang penjual es dengan istilah yang kurang pantas.
Meskipun beliau kemudian memberikan klarifikasi dan meminta maaf atas kekeliruannya, momen ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua tentang betapa berharganya menjaga ucapan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Islam, menjaga lisan adalah salah satu kunci keselamatan dan kemuliaan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
"مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ"
"Tiada suatu kata yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. Qaf: 18)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap ucapan, sekecil apa pun, akan dicatat oleh malaikat. Oleh karena itu, seorang Muslim harus senantiasa berhati-hati dalam memilih kata-kata agar tidak menyakiti hati orang lain atau merugikan diri sendiri.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW juga memberikan peringatan yang sangat tegas tentang bahaya lisan:
"وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ"
"Tidaklah manusia terjerumus ke dalam neraka di atas wajah mereka (atau hidung mereka) kecuali karena apa yang diucapkan oleh lisan mereka." (HR. Tirmidzi).
Baca Juga: Petisi Copot Gus Miftah Sebagai Utusan Khusus Presiden Prabowo Capai 80 Ribu Tanda Tangan
Hadis ini menegaskan bahwa lisan yang tidak terjaga dapat menjadi penyebab utama kehancuran seseorang, baik di dunia maupun di akhirat.
Ucapan yang buruk tidak hanya menyakiti orang lain tetapi juga dapat merusak hubungan sosial, reputasi, bahkan hubungan dengan Allah SWT.
Lantas, bagaimana cara agar seorang Muslim dapat menjaga lisannya dari "kepleset" atau tergelincir dalam ucapan yang tidak pantas? Salah satu caranya adalah dengan mengingat nasihat Rasulullah SAW:
"مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ"
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).
Nasihat ini merupakan panduan emas yang sederhana namun sangat efektif. Sebelum berbicara, kita dianjurkan untuk berpikir apakah ucapan kita membawa manfaat atau justru menimbulkan keburukan. Jika ragu, maka diam adalah pilihan terbaik.
Selain itu, doa juga memiliki peran penting dalam menjaga lisan. Rasulullah SAW sering berdoa agar lisannya senantiasa terjaga:
"اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ"
"Ya Allah, hiasilah kami dengan keindahan iman, dan jadikanlah kami orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk."
Doa ini mengajarkan bahwa iman yang kuat adalah kunci untuk menjaga perilaku, termasuk lisan. Dengan iman yang kokoh, seorang Muslim akan lebih sadar akan tanggung jawabnya terhadap Allah dan sesama manusia.
Baca Juga: Petisi Copot Gus Miftah dari Utusan Khusus Presiden Menguat Usai Dinilai Telah Menghina Penjual Es Teh
Kejadian yang menimpa Gus Miftah menjadi pengingat bagi kita semua bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Bahkan seorang ulama pun bisa khilaf.
Namun, Islam memberikan ruang bagi umatnya untuk memperbaiki diri melalui istighfar dan permintaan maaf kepada pihak yang tersakiti. Rasulullah SAW bersabda:
"كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ"
"Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat." (HR. Tirmidzi).
Dengan menjaga lisan, memperbanyak doa, dan selalu berusaha berkata baik, kita dapat menghindari kepleset lidah yang berujung pada penyesalan.
Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita untuk lebih berhati-hati dalam berkata-kata dan menjadikan lisan sebagai alat kebaikan, bukan sumber keburukan.