AKURAT.CO Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak semua individu yang mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin akan terpilih.
Situasi seperti ini kerap menimbulkan rasa kecewa, apalagi jika seseorang merasa memiliki kemampuan dan niat yang tulus untuk membawa kebaikan.
Namun, Islam sebagai agama yang sempurna memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap ketika tidak terpilih menjadi pemimpin.
Pertama-tama, seorang Muslim harus menyadari bahwa kepemimpinan adalah amanah yang berat, bukan sekadar posisi untuk meraih kehormatan atau kekuasaan. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ، وَإِنَّهَا سَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Sesungguhnya kalian akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kepemimpinan itu akan menjadi penyesalan di Hari Kiamat." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa kepemimpinan bukanlah hal yang pantas diraih dengan nafsu atau ambisi pribadi, melainkan harus dijalankan dengan niat yang ikhlas dan tanggung jawab yang besar.
Jika seseorang tidak terpilih, itu mungkin merupakan bentuk kasih sayang Allah karena Dia mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Selain itu, Islam mengajarkan bahwa setiap keputusan Allah pasti memiliki hikmah, meskipun terkadang sulit dipahami oleh manusia. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (Surah Al-Baqarah [2]: 216).
Baca Juga: Pilkada Serentak, Ini Doa untuk Pemimpin yang Baik bagi Masyarakat
Ayat ini mengingatkan bahwa kegagalan menjadi pemimpin mungkin merupakan cara Allah menyelamatkan seseorang dari tanggung jawab yang melebihi kemampuannya, atau agar ia diberi kesempatan untuk berbuat kebaikan melalui cara lain.
Dalam menghadapi situasi seperti ini, seorang Muslim hendaknya memperbanyak istighfar dan introspeksi. Mungkin ada niat atau usaha yang perlu diperbaiki.
Tidak terpilih juga menjadi momen untuk menanamkan sikap tawakal kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
"Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal."
(Surah Ali Imran [3]: 159)
Lebih jauh, seseorang yang tidak terpilih juga sebaiknya mendukung pemimpin yang terpilih, selama ia menjalankan tugas dengan adil dan sesuai syariat Islam. Islam mengajarkan pentingnya menjaga persatuan umat dan menghindari perpecahan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي
"Barang siapa menaati pemimpinku, maka ia telah menaati aku, dan barang siapa mendurhakai pemimpinku, maka ia telah mendurhakaiku." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan mendukung pemimpin yang sah, seorang Muslim menunjukkan kedewasaan dan sikap tanggung jawab terhadap kemaslahatan umat.
Baca Juga: Cara Menyikapi Quick Count Pilkada Serentak Menurut Pandangan Islam
Jika terdapat kekurangan dalam kepemimpinan, maka nasihat yang baik dan doa menjadi cara terbaik untuk memperbaiki keadaan.
Akhirnya, seseorang yang tidak terpilih hendaknya tetap bersyukur kepada Allah, karena setiap pengalaman adalah bagian dari takdir-Nya yang penuh hikmah.
Dalam kesyukuran itu, ia juga dianjurkan untuk terus memperbaiki diri dan berkontribusi dalam kebaikan, karena menjadi pemimpin bukan satu-satunya jalan untuk meraih keberkahan dan pahala. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ ٱلنَّاسِ أَنفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain." (HR. Ahmad)
Dengan demikian, sikap bijak seorang Muslim ketika tidak terpilih menjadi pemimpin mencerminkan keimanan yang mendalam, penghormatan terhadap keputusan Allah, dan semangat untuk terus berbuat kebaikan bagi umat.