Akurat

Mantan Dukun Santet Ria Puspita Viral, Kenapa Islam Melarang Praktik Perdukunan?

Fajar Rizky Ramadhan | 18 November 2024, 09:00 WIB
Mantan Dukun Santet Ria Puspita Viral, Kenapa Islam Melarang Praktik Perdukunan?

AKURAT.CO Fenomena perdukunan masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk dalam bentuk praktik seperti santet, ramalan, atau perdukunan yang seringkali dianggap sebagai solusi atas berbagai persoalan hidup.

Baru-baru ini, nama Ria Puspita menjadi perbincangan hangat di media sosial. Lantas, kenapa Islam melarang praktik Perdukunan?

Memang bahwa, Islam dengan tegas melarang segala bentuk perdukunan, ramalan, dan praktik sihir. Larangan ini tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga berkaitan dengan aspek moral, sosial, dan spiritual.

Dalam Islam, perdukunan dianggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap tauhid, yaitu keyakinan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Dzat yang berkuasa atas segala sesuatu.

Praktik perdukunan sering kali melibatkan interaksi dengan jin atau kekuatan ghaib yang berpotensi menyesatkan manusia dari jalan Allah.

Dalam Al-Qur'an, larangan terhadap sihir dan perdukunan dijelaskan dengan sangat jelas. Salah satu ayat yang relevan adalah firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 102:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia..."

Baca Juga: Mungkinkah Mengenal Investasi dalam Islam, Contoh, dan Risikonya?

Ayat ini mengingatkan bahwa sihir adalah amalan yang diajarkan oleh setan kepada manusia, dan Allah SWT mengaitkan praktik ini dengan kekufuran. Dengan kata lain, siapa saja yang terlibat dalam sihir atau perdukunan berpotensi jatuh dalam perbuatan syirik, yang merupakan dosa terbesar dalam Islam.

Rasulullah SAW juga secara eksplisit memperingatkan umat Islam agar menjauhi dukun dan peramal. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda;

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Barang siapa mendatangi seorang dukun atau peramal, lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad (Al-Qur'an)."

Hadis ini dengan tegas menunjukkan bahwa mempercayai dukun atau peramal adalah perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini karena tindakan tersebut menunjukkan keraguan terhadap kuasa Allah SWT sebagai pengatur segala urusan.

Dampak Perdukunan terhadap Kehidupan

Selain sisi teologis, praktik perdukunan juga memiliki dampak negatif terhadap kehidupan masyarakat. Perdukunan sering kali melahirkan ketergantungan, mengikis keimanan, dan memicu konflik sosial.

Baca Juga: Bahaya Pemikiran Sekte Khawarij dalam Islam

Orang yang bergantung pada dukun cenderung kehilangan keyakinan kepada Allah SWT dan mencari solusi di luar kehendak-Nya. Dalam konteks sosial, tuduhan santet atau sihir dapat menyebabkan permusuhan, dendam, dan bahkan kekerasan.

Kisah Ria Puspita, seorang mantan dukun santet, memberikan pelajaran penting tentang bahaya dunia perdukunan. Keputusannya untuk meninggalkan dunia tersebut dan kembali kepada ajaran Islam menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ria mengingatkan bahwa solusi sejati atas segala permasalahan hanya dapat ditemukan melalui doa, tawakal, dan usaha yang diridai oleh Allah.

Islam melarang praktik perdukunan karena bertentangan dengan prinsip tauhid, berpotensi menyesatkan umat, dan membawa dampak buruk dalam kehidupan individu maupun masyarakat.

Dalil-dalil Al-Qur'an dan hadis menunjukkan bahwa perdukunan adalah perbuatan yang tidak dapat ditoleransi dalam Islam. Kisah pertobatan Ria Puspita menjadi pengingat bagi umat Islam untuk meninggalkan segala bentuk kemusyrikan dan memperkuat iman kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang Maha Kuasa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.