Akurat

Kenapa Nabi Muhammad SAW Menikahi Seorang Janda Kaya Raya, Siti Khadijah?

Fajar Rizky Ramadhan | 28 Oktober 2024, 06:30 WIB
Kenapa Nabi Muhammad SAW Menikahi Seorang Janda Kaya Raya, Siti Khadijah?

AKURAT.CO Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khadijah RA, yang merupakan seorang janda kaya raya adalah salah satu peristiwa penting yang bukan hanya menjadi momen pribadi bagi Rasulullah tetapi juga mempengaruhi perkembangan awal Islam.

Hubungan ini didasarkan pada faktor-faktor kompleks, baik sosial, emosional, maupun spiritual, yang memperlihatkan kebijaksanaan dan keteladanan dalam keputusan Nabi.

Pada masa itu, Siti Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki reputasi terhormat di kalangan masyarakat Quraisy. Ia dikenal sebagai seorang pedagang kaya dan janda dari dua pernikahan sebelumnya.

Namun, kekayaan dan status sosialnya tidak membuat Khadijah terjebak dalam kesombongan. Sebaliknya, ia adalah pribadi yang penuh kasih sayang, bijaksana, dan dermawan, serta dikenal karena integritas moralnya.

Hal ini menjadi salah satu daya tarik bagi Muhammad muda, yang saat itu belum menerima wahyu, dan bekerja sebagai pedagang.

Pertemuan awal mereka terjadi ketika Khadijah mempercayakan Nabi Muhammad untuk memimpin kafilah dagangnya ke Suriah.

Muhammad dikenal sebagai sosok yang jujur dan amanah, sehingga Khadijah merasa nyaman menitipkan usahanya kepada beliau. Setelah perjalanan dagang itu berhasil, Muhammad membawa keuntungan besar dan meneguhkan reputasinya sebagai al-Amin (yang terpercaya).

Baca Juga: Berapa Mahar Nabi Muhammad Saat Menikahi Siti Khadijah? Ramai Setelah Cawagub DKI Suswono Sarankan Janda Kaya Nikahi Pemuda Nganggur

Melalui laporan Maisarah, salah satu pelayan Khadijah yang menyertai perjalanan tersebut, Khadijah semakin yakin akan kualitas pribadi Muhammad—bukan hanya sebagai pedagang yang cakap tetapi juga sebagai manusia yang luhur.

Faktor emosional dan spiritual memainkan peran signifikan dalam keputusan Khadijah untuk melamar Muhammad.

Khadijah, meskipun kaya dan dihormati, merasa membutuhkan pasangan yang bukan hanya mendukung secara emosional tetapi juga memiliki prinsip-prinsip moral yang kuat.

Di tengah masyarakat Mekah yang sarat dengan praktik-praktik jahiliah, Khadijah melihat sosok Muhammad sebagai pribadi yang berbeda: ia jujur, jauh dari perilaku korup, dan memiliki rasa belas kasih yang mendalam.

Dari sisi Nabi Muhammad, pernikahan dengan Khadijah memberikan stabilitas emosional dan dukungan moral yang sangat penting.

Di usia 25 tahun, Muhammad adalah seorang pria sederhana yang tidak mencari kekayaan atau kedudukan sosial.

Pernikahan ini bukanlah upaya Muhammad untuk mengejar status atau materi, tetapi bentuk penerimaan atas cinta dan kepercayaan Khadijah. Hubungan ini didasari oleh rasa saling menghormati dan saling melengkapi.

Secara sosial, pernikahan ini juga membawa dampak yang luas. Di tengah masyarakat patriarki, pernikahan dengan seorang janda kaya yang lebih tua memperlihatkan bahwa Muhammad menempatkan nilai-nilai pribadi di atas konvensi sosial.

Ini menegaskan bahwa status seorang wanita, baik sebagai janda maupun sebagai individu yang mandiri secara finansial, bukanlah halangan untuk mendapatkan cinta dan penghormatan.

Pernikahan ini juga memiliki makna spiritual yang mendalam. Khadijah tidak hanya menjadi istri pertama, tetapi juga pendukung pertama misi kenabian Muhammad.

Ketika Muhammad menerima wahyu pertama di Gua Hira, Khadijah adalah orang pertama yang memberikan dukungan penuh.

Dengan penuh keyakinan, ia mempercayai bahwa suaminya dipilih oleh Allah sebagai utusan-Nya, dan ia berperan sebagai penopang moral di masa-masa awal dakwah yang penuh tantangan.

Baca Juga: Segini Mahar Habib Rizieq Shihab Menikahi Syarifah Mona Hasinah Alaydrus

Secara ilmiah dan sosiologis, pernikahan Muhammad dan Khadijah adalah contoh unik dari hubungan yang didasari oleh prinsip kesetaraan dan cinta sejati.

Di dalamnya terdapat nilai-nilai seperti kepercayaan, penghargaan, dan pengabdian, yang semuanya relevan dalam konteks pernikahan modern.

Keputusan Nabi untuk menikahi seorang janda kaya bukanlah karena motivasi material, tetapi lebih karena kesesuaian hati dan visi bersama dalam mencari kebaikan dan kebenaran.

Kisah cinta antara Muhammad dan Khadijah juga menunjukkan bagaimana sebuah hubungan dapat melampaui batas-batas usia, status sosial, dan ekspektasi masyarakat.

Hal ini mengajarkan bahwa dalam hubungan yang sehat, penghargaan terhadap integritas moral dan komitmen bersama jauh lebih penting daripada sekadar pertimbangan material atau norma-norma sosial sempit.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.