AKURAT.CO Hari Santri Nasional, yang diperingati setiap 22 Oktober, merupakan momen penting bagi umat Islam di Indonesia untuk mengenang perjuangan kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan dan mengembangkan pendidikan Islam.
Salah satu pertanyaan menarik yang muncul di kalangan pemerhati sejarah pendidikan Islam adalah: Siapa orang pertama yang mondok di pesantren?
Pertanyaan ini bukan sekadar retorika tetapi menuntut pemahaman tentang asal-usul pesantren di Nusantara dan jejak pendidikannya.
Sejarah Awal Pesantren di Nusantara
Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tumbuh seiring dengan masuknya Islam ke Nusantara, sekitar abad ke-13 hingga 16 M.
Salah satu bukti paling awal kehadiran pesantren adalah di wilayah Gresik, Jawa Timur. Menurut catatan sejarah, Sunan Giri (w. 1506) mendirikan pesantren yang menjadi pusat penyebaran Islam dan pendidikan agama.
Namun, sebelum Sunan Giri, beberapa lembaga serupa seperti halaqah atau pengajian telah dikenal, meski belum berbentuk pesantren seperti sekarang.
Pesantren pertama kali berkembang sebagai pusat pendidikan yang mengajarkan Al-Qur’an, hadis, fikih, dan ilmu-ilmu lainnya dengan metode sorogan dan wetonan.
Model ini diserap dari tradisi pendidikan Islam di Timur Tengah, seperti di Mekkah dan Baghdad, tetapi disesuaikan dengan konteks sosial dan budaya Nusantara.
Baca Juga: Ustadz Fatih Karim Murka pada Sudirman, Pelaku Pelecehan Seksual Menyimpang 32 Anak
Santri Pertama: Figur dan Hipotesis Sejarah
Mencari figur pasti mengenai siapa yang pertama kali mondok di pesantren bukanlah tugas mudah karena tidak ada catatan tertulis yang pasti tentang individu tersebut.
Namun, beberapa sejarawan dan tokoh mencatat bahwa santri pertama mungkin adalah orang-orang lokal di sekitar Gresik dan Demak yang berguru kepada para ulama dan wali.
Pendapat Prof. Azyumardi Azra—seorang sejarawan dan ahli pendidikan Islam—menyebutkan bahwa pesantren pada awalnya tumbuh dari inisiatif ulama dan wali untuk mendidik generasi muda yang akan menjadi penerus dakwah.
Dalam hal ini, murid-murid awal dari para wali seperti Sunan Ampel dan Sunan Giri bisa dianggap sebagai santri pertama. Mereka bukan hanya belajar ilmu agama, tetapi juga keterampilan sosial dan politik untuk menyebarkan Islam secara damai.
Pandangan Tokoh
Dalam bukunya, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Azyumardi Azra menyatakan bahwa sistem pesantren memiliki jejak langsung dengan pusat pendidikan Islam di Timur Tengah.
Hal ini menunjukkan bahwa tradisi mondok di pesantren berakar dari perjalanan intelektual para ulama yang menuntut ilmu di luar negeri dan kemudian mendirikan lembaga serupa di tanah air.
Baca Juga: Jadwal dan Tata Tertib Upacara Hari Santri Nasional 2024, Resmi Diadakan Oleh Kemenag RI!
Menurut pendapat KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), pendidikan pesantren bukan hanya tentang ilmu agama tetapi juga pembentukan karakter.
Dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, ia menekankan pentingnya etika dan adab bagi santri, yang sudah diajarkan sejak masa awal pesantren di Jawa.
Meskipun tidak ada nama spesifik yang bisa dicatat sebagai santri pertama dalam sejarah pesantren, dapat dipastikan bahwa murid-murid awal para wali dan ulama di Jawa Timur adalah generasi pertama yang mondok di pesantren.
Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan tetapi juga pusat pembentukan karakter dan peradaban Islam di Nusantara.
Pada peringatan Hari Santri 2024 ini, momen ini dapat dijadikan refleksi untuk menghargai kontribusi para santri dan ulama dalam membangun Indonesia yang beradab dan berakhlak.
Warisan pesantren masih relevan hingga kini, memberikan pelajaran bahwa pendidikan adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang damai dan berkeadilan.