Akurat

3 Humor Gus Dur tentang Pejabat, Canda yang Sarat Makna

Fajar Rizky Ramadhan | 17 Oktober 2024, 06:59 WIB
3 Humor Gus Dur tentang Pejabat, Canda yang Sarat Makna

AKURAT.CO Abdurrahman Wahid, atau lebih dikenal sebagai Gus Dur, adalah sosok yang tidak hanya dikenal sebagai ulama, intelektual, dan presiden Indonesia keempat, tetapi juga seorang humoris ulung.

Dalam berbagai kesempatan, Gus Dur sering melontarkan humor—termasuk tentang presiden dan politik—yang tidak hanya membuat tertawa tetapi juga mengandung kritik sosial dan pesan mendalam.

Berikut beberapa contoh humor legendaris Gus Dur tentang presiden, yang menggambarkan betapa santainya ia dalam melihat dinamika politik.

1. "Hanya Ada Tiga Polisi Jujur di Indonesia"

Salah satu anekdot Gus Dur yang paling terkenal terkait dengan presiden dan kepemimpinan adalah ketika ia menyebutkan:
"Di Indonesia, hanya ada tiga polisi yang jujur: patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng."

Konteks humor ini mengandung kritik halus terhadap kepemimpinan dan integritas lembaga hukum di Indonesia.

Namun, di balik candaannya, Gus Dur juga menyelipkan pujian untuk sosok Jenderal Hoegeng sebagai simbol pemimpin yang bersih dan berintegritas—nilai yang seharusnya dimiliki setiap presiden dan pejabat negara.

Baca Juga: Jadwal Sholat Bandung dan Sekitarnya, Kamis 17 Oktober 2024

2. "Presiden Itu Hanya Tiga: Soekarno, Soeharto, dan Gus Dur"

Di salah satu kesempatan, Gus Dur pernah berujar, “Di Indonesia itu cuma ada tiga presiden: Soekarno yang mendirikan bangsa, Soeharto yang memperkuat bangsa, dan saya yang mengacaukan bangsa.”

Ucapan ini sukses mengundang tawa, tetapi juga memuat pesan mendalam.

Dengan gaya bercanda, Gus Dur ingin mengakui kekacauan politik di masa pemerintahannya sambil menunjukkan bahwa perubahan dan reformasi seringkali memang harus melewati fase ketidakstabilan.

Humor ini juga menggambarkan bagaimana ia mampu tertawa atas dirinya sendiri, sesuatu yang jarang dilakukan oleh pemimpin politik.

3. "Presiden Ganti Profesi"

Gus Dur juga pernah bercerita tentang presiden-presiden Indonesia dengan gaya anekdot profesi:

  • Soekarno cocok jadi orator karena kemampuan pidatonya luar biasa.
  • Soeharto cocok jadi dalang karena lihai mengendalikan keadaan.
  • Sementara dirinya sendiri cocok jadi komedian.

Humor ini tidak hanya menggambarkan sifat-sifat masing-masing presiden, tetapi juga mengkritik dengan halus bahwa politik tidak selalu harus kaku dan formal.

Gus Dur menunjukkan bahwa politik bisa dilihat dari sudut pandang yang ringan dan manusiawi.

Humor sebagai Kritik yang Membangun

Humor-humor Gus Dur tentang presiden bukan sekadar candaan biasa. Di balik setiap ucapannya, tersirat kritik sosial dan pesan moral. Ia ingin masyarakat dan pemimpin melihat politik dengan cara yang lebih santai tetapi tetap kritis.

Baca Juga: Taliban Larang Gambar Makhluk Hidup, Disebut Bertentangan dengan Islam

Bagi Gus Dur, humor adalah alat untuk menyampaikan kebenaran tanpa menyinggung langsung, sebuah pendekatan yang membuatnya dicintai sekaligus dihormati banyak kalangan.

Selain menghibur, humor-humor Gus Dur juga menjadi pengingat bahwa kepemimpinan tidak boleh jauh dari rakyat dan bahwa pemimpin idealnya memiliki kerendahan hati untuk menertawakan diri sendiri.

Itulah warisan Gus Dur—seorang pemimpin yang mengajarkan makna humor sebagai jembatan antara kekuasaan dan kemanusiaan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.