Akurat

5 Nilai Kesaktian Pancasila Menurut Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 30 September 2024, 08:00 WIB
5 Nilai Kesaktian Pancasila Menurut Islam

AKURAT.CO Pancasila sebagai dasar negara Indonesia adalah fondasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober adalah refleksi untuk mengingat kembali bahwa Pancasila tetap kokoh sebagai ideologi bangsa di tengah ancaman perpecahan.

Dalam perspektif Islam, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sangat sejalan dengan ajaran agama. Hal ini tercermin dari setiap sila yang dapat dikaitkan dengan prinsip-prinsip Islam.

1. Ketuhanan yang Maha Esa

Sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa, jelas sesuai dengan prinsip tauhid dalam Islam. Islam mengajarkan bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah ciptaan-Nya.

Syekh Ali Yafie, seorang ulama besar Indonesia, pernah menyatakan bahwa Pancasila dan Islam tidak bertentangan, karena inti dari sila pertama ini adalah pengakuan akan keesaan Tuhan, yang sejalan dengan konsep tauhid dalam Islam.

Menurut pandangan KH. Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum PBNU, sila ini menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus menjadikan keyakinan terhadap Tuhan sebagai fondasi dalam bernegara.

Dalam Islam, pengakuan terhadap Tuhan yang Maha Esa adalah prinsip utama, dan hal ini memperkuat kesadaran bahwa keberadaan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya serta menciptakan kehidupan yang harmonis di bumi.

Baca Juga: Ramai Series 'Jangan Salahkan Aku Selingkuh', Bolehkah Suami atau Istri Izin Berselingkuh Menurut Islam?

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, sebagai sila kedua, berkaitan dengan ajaran Islam tentang keadilan (‘adalah) dan perikemanusiaan (insaniyyah).

Islam mengajarkan untuk berlaku adil dan memperlakukan sesama manusia dengan baik. Dalam hadis disebutkan, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia” (HR. Ahmad).

Menurut Buya Syafii Maarif, seorang tokoh Muhammadiyah dan pemerhati Pancasila, sila kedua ini menekankan pada penghargaan terhadap martabat manusia yang dalam Islam juga sangat dijunjung tinggi.

Rasulullah SAW mengajarkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks hubungan dengan sesama Muslim maupun non-Muslim, hal ini menunjukkan bahwa Pancasila mendorong terciptanya kehidupan yang adil dan beradab, selaras dengan ajaran Islam.

3. Persatuan Indonesia

Sila ketiga, Persatuan Indonesia, menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman.

Dalam Islam, konsep ukhuwah (persaudaraan) adalah prinsip penting yang mengajarkan persatuan umat manusia, terlepas dari perbedaan suku, agama, dan ras.

Dalam Al-Qur'an disebutkan, “Berpegang teguhlah kalian pada tali agama Allah dan janganlah bercerai-berai” (QS. Ali Imran: 103).

KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi persatuan, dan Pancasila sebagai landasan negara Indonesia mampu mengakomodasi pluralitas yang ada di Indonesia.

Menurut Gus Mus, umat Islam di Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga persatuan bangsa, karena hal ini juga merupakan perintah agama.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, berhubungan erat dengan prinsip musyawarah (syura) dalam Islam.

Islam sangat menganjurkan pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” (QS. Ali Imran: 159).

Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, Pancasila memberikan tempat yang sangat penting bagi prinsip musyawarah.

Dalam Islam, musyawarah adalah mekanisme untuk mencapai kesepakatan dalam menjalankan pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat, dan ini sejalan dengan sila keempat Pancasila.

Kepemimpinan yang bijaksana dan mengutamakan musyawarah adalah inti dari keadilan sosial dalam Islam.

Baca Juga: Apa yang Harus Dilakukan Suami ketika Mendengar Istri Diduga Melakukan Selingkuh?

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Sila terakhir, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, adalah salah satu aspek terpenting dalam Islam. Ajaran Islam sangat menekankan pada pemerataan keadilan dan distribusi kekayaan secara adil di masyarakat.

Dalam Al-Qur'an disebutkan, “Sesungguhnya Allah memerintahkan (kalian) untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan” (QS. An-Nahl: 90).

Tokoh seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sering menyatakan bahwa keadilan sosial merupakan inti dari ajaran Islam.

Menurutnya, Pancasila mencerminkan visi Islam tentang masyarakat yang adil, di mana setiap orang mendapatkan haknya tanpa diskriminasi.

Gus Dur menekankan bahwa prinsip keadilan dalam Pancasila harus diwujudkan dalam kebijakan-kebijakan negara yang berpihak pada kaum yang lemah.

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila selaras dengan ajaran Islam. Para ulama dan tokoh Islam di Indonesia, seperti Hasyim Muzadi, Gus Dur, Buya Syafii Maarif, dan Quraish Shihab, mengakui bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam.

Justru, Pancasila memperkuat prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti keesaan Tuhan, keadilan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.

Melalui Pancasila, Islam dapat berkembang dan hidup berdampingan dengan agama lain dalam konteks kebhinekaan Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.