4 Perjuangan Terberat Rasulullah, Penuh Haru!

AKURAT.CO Nabi Muhammad SAW adalah sosok agung yang membawa risalah Islam kepada umat manusia.
Perjuangan beliau tidak hanya terbatas pada medan fisik, namun juga dalam menghadapi tantangan sosial, politik, dan spiritual. Ada banyak tantangan yang dihadapi Rasulullah SAW selama hidupnya.
Artikel ini akan mengulas apa yang dianggap sebagai perjuangan terberat Rasulullah SAW berdasarkan data sejarah yang kredibel dan referensi dari kitab kuning karya para ulama.
Perjuangan Terberat dalam Sejarah Islam
1. Masa Awal Dakwah di Mekah
Salah satu fase paling berat dalam kehidupan Rasulullah SAW adalah ketika memulai dakwahnya di Mekah. Pada saat itu, masyarakat Mekah sangat kuat dalam menyembah berhala dan menganggap agama nenek moyang mereka sebagai sesuatu yang suci.
Ketika Rasulullah mulai menyampaikan pesan Tauhid (keesaan Allah), beliau menghadapi perlawanan keras dari masyarakat Quraisy, terutama dari para pemimpin suku yang merasa ajaran baru ini mengancam posisi sosial dan ekonomi mereka.
Menurut kitab Sirah Nabawiyah oleh Ibnu Hisyam, Rasulullah sering kali diejek, dihina, dan bahkan dilempari kotoran saat shalat di Ka'bah. Sebagai seorang pemimpin, Rasulullah menghadapi berbagai siksaan mental dan fisik, bukan hanya kepada dirinya tetapi juga kepada pengikutnya.
Perjuangan ini berlangsung selama lebih dari 13 tahun, di mana umat Islam harus menyembunyikan keimanan mereka dan hidup dalam ketakutan.
Baca Juga: Fomo Boneka Labubu Viral Gara-Gara Lisa Blackpink, Bagaimana Islam Menyikapinya?
Salah satu peristiwa terberat adalah pemboikotan Bani Hasyim dan Bani Muthalib, di mana keluarga besar Rasulullah SAW dan pengikutnya diboikot secara ekonomi dan sosial oleh kaum Quraisy.
Pemboikotan ini tercatat dalam berbagai kitab sejarah Islam seperti Al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir. Suku tersebut diisolasi di lembah selama tiga tahun, mengalami kelaparan dan kesulitan yang luar biasa.
Kondisi ini semakin diperparah dengan wafatnya dua sosok penting dalam hidup Rasulullah, yaitu istri beliau, Khadijah RA, dan pamannya, Abu Thalib. Tahun ini dikenal sebagai "Tahun Kesedihan" (Aam al-Huzn).
2. Hijrah ke Madinah
Peristiwa hijrah ke Madinah adalah salah satu babak penting dalam perjuangan Rasulullah SAW. Meskipun hijrah ini membawa perubahan dalam strategi dakwah, namun proses hijrah itu sendiri penuh dengan ancaman.
Rasulullah dan para sahabat harus meninggalkan harta benda, rumah, dan keluarga mereka di Mekah untuk memulai kehidupan baru di Yatsrib (Madinah).
Menurut kitab Shahih Bukhari dan Musnad Ahmad, sebelum hijrah, Rasulullah SAW sudah menghadapi beberapa rencana pembunuhan oleh kaum Quraisy, yang puncaknya adalah ketika mereka mengepung rumah Rasulullah untuk membunuhnya.
Rasulullah berhasil keluar dari pengepungan dengan pertolongan Allah SWT dan menuju Madinah, namun perjalanan tersebut sangat berat karena dilakukan secara diam-diam dan penuh ancaman.
3. Perang Badar dan Perang Uhud
Setelah hijrah, perjuangan Rasulullah SAW belum berakhir. Bahkan, tantangan yang lebih besar muncul ketika kaum Quraisy dan sekutu mereka menyerang kaum Muslimin di Madinah.
Perang Badar (tahun 2 Hijriah) adalah salah satu momen paling kritis, di mana umat Islam yang hanya berjumlah sekitar 300 orang harus menghadapi pasukan Quraisy yang jauh lebih besar.
Menurut sumber dari kitab Al-Maghazi karya Al-Waqidi, perang ini dihadapi dengan penuh keberanian, dan meskipun jumlah pasukan Muslim sedikit, mereka memenangkan pertempuran ini berkat pertolongan Allah SWT.
Namun, ujian yang lebih berat datang pada Perang Uhud (tahun 3 Hijriah). Dalam perang ini, umat Islam mengalami kekalahan yang menyakitkan.
Rasulullah SAW sendiri terluka dalam pertempuran tersebut, di mana gigi beliau patah dan wajahnya terluka.
Kekalahan ini disebabkan oleh ketidaktaatan sebagian pasukan Muslim yang meninggalkan posisi mereka di bukit pemanah, meskipun sudah diperintahkan oleh Rasulullah untuk tetap bertahan di sana. Kejadian ini tercatat dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir sebagai salah satu pelajaran penting dalam sejarah Islam tentang ketaatan dan disiplin dalam menghadapi musuh.
4. Perjanjian Hudaibiyah dan Penaklukan Mekah
Salah satu momen paling kritis dalam perjuangan diplomasi Rasulullah SAW adalah Perjanjian Hudaibiyah (tahun 6 Hijriah). Pada saat itu, Rasulullah dan para sahabat berniat untuk menunaikan ibadah haji, namun dihadang oleh kaum Quraisy.
Setelah negosiasi yang panjang, perjanjian yang dianggap tidak menguntungkan bagi kaum Muslimin ditandatangani, yang pada awalnya memunculkan keraguan di kalangan sahabat.
Baca Juga: Hukum Menggunakan Alat Kontrasepsi dalam Islam
Namun, menurut kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfuri, perjanjian ini justru menjadi titik balik dalam perkembangan Islam, yang kemudian membuka jalan bagi penaklukan Mekah tanpa pertumpahan darah pada tahun 8 Hijriah.
Penaklukan Mekah adalah salah satu kemenangan besar dalam perjuangan Rasulullah SAW. Setelah bertahun-tahun mengalami penganiayaan, akhirnya Rasulullah memasuki kota Mekah dengan penuh kedamaian.
Penaklukan ini dianggap sebagai salah satu momen puncak dalam sejarah Islam, di mana ajaran Tauhid kembali ditegakkan di tempat kelahiran risalah ini.
Perjuangan terberat Rasulullah SAW tidak hanya terjadi di satu fase kehidupan, tetapi tersebar dalam berbagai periode yang penuh tantangan.
Dari dakwah di Mekah yang penuh siksaan, hijrah ke Madinah yang penuh ancaman, hingga pertempuran besar seperti Perang Badar dan Uhud, setiap fase mengandung ujian yang berat bagi Rasulullah dan umat Islam.
Namun, di balik semua itu, ada ketabahan, kesabaran, dan keimanan yang tak tergoyahkan, yang pada akhirnya mengantarkan Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










