AKURAT.CO Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia memiliki akar sejarah yang panjang dan berakar kuat dalam tradisi Islam Nusantara.
Maulid Nabi merupakan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah.
Tradisi ini diperkirakan mulai masuk ke Indonesia bersamaan dengan berkembangnya agama Islam di Nusantara pada abad ke-13 hingga ke-16.
Berikut sejarah awal mula peringatan Maulid Nabi di Indonesia berdasarkan data ilmiah dan kajian dari buku-buku terpercaya.
Penyebaran Islam dan Tradisi Maulid di Indonesia
Islam mulai masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan. Para pedagang Muslim dari Gujarat, Persia, dan Arab datang ke pelabuhan-pelabuhan di wilayah Sumatra dan Jawa, membawa serta budaya dan tradisi Islam. Salah satu tradisi yang dibawa adalah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Seiring dengan proses Islamisasi di kerajaan-kerajaan pesisir, seperti Samudera Pasai dan Demak, peringatan Maulid menjadi bagian dari upacara keagamaan.
Dalam buku "Sejarah Nasional Indonesia" karya Sartono Kartodirdjo, disebutkan bahwa Islam mulai mendapatkan tempat di kerajaan-kerajaan Nusantara pada abad ke-13, terutama di Sumatra dan Jawa.
Baca Juga: 45 Kata-kata Selamat Memperingati Maulid 2024, Sambut Kelahiran Rasulullah SAW
Salah satu kerajaan yang dikenal sangat memperhatikan penyebaran Islam adalah Kerajaan Demak, yang pada masa kekuasaan Sultan Trenggana (1521-1546) merayakan Maulid Nabi secara besar-besaran.
Maulid Nabi dalam Tradisi Keraton
Peringatan Maulid Nabi di Indonesia pada masa awal sering kali dilakukan di lingkungan keraton atau istana kerajaan.
Dalam bukunya Islam and the Making of the Nation: Kartosuwiryo and Political Islam in 20th Century Indonesia, Chiara Formichi mencatat bahwa peringatan Maulid Nabi telah menjadi bagian penting dari budaya Islam istana.
Salah satu contohnya adalah tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta dan Surakarta, yang dipercaya telah dimulai sejak masa Kesultanan Demak.
Sekaten adalah rangkaian kegiatan peringatan Maulid Nabi yang dimulai dengan tabuhan gamelan khusus, kemudian dilanjutkan dengan khotbah dan doa.
Tradisi ini berkembang di berbagai wilayah di Jawa dan menjadi identitas budaya yang menggabungkan elemen keagamaan dan kearifan lokal.
Menurut Formichi, Sekaten tidak hanya menunjukkan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi alat untuk menguatkan legitimasi kekuasaan raja sebagai pemimpin yang berperan dalam penyebaran Islam.
Pengaruh Walisongo dalam Peringatan Maulid
Peran Walisongo dalam penyebaran Islam di Jawa tidak dapat dipisahkan dari peringatan Maulid Nabi. Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga, menggunakan peringatan Maulid sebagai sarana dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam secara damai dan akulturatif.
Mereka memperkenalkan bentuk-bentuk peringatan yang diterima oleh masyarakat lokal dengan menggabungkan unsur-unsur seni dan budaya, seperti wayang dan gamelan.
Dalam buku Islam Kejawen: Perspektif Historis karya M.C. Ricklefs, disebutkan bahwa perayaan Maulid sering kali dijadikan momen untuk mengajarkan kisah-kisah teladan Nabi Muhammad SAW kepada masyarakat awam melalui media seni.
Akulturasi ini memudahkan penyebaran Islam tanpa menimbulkan resistensi dari masyarakat yang pada waktu itu masih banyak menganut kepercayaan lokal.
Maulid Nabi di Berbagai Daerah Indonesia
Peringatan Maulid Nabi di Indonesia tidak hanya terbatas di Jawa, tetapi juga berkembang di berbagai wilayah lain dengan cara yang berbeda-beda, tergantung pada kearifan lokal.
Di Aceh, peringatan Maulid dikenal dengan sebutan Khanduri Maulod yang biasanya berlangsung selama beberapa hari dengan pembacaan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW.
Sementara itu, di Sulawesi Selatan, tradisi Maulid dikenal dengan nama Maudu Lompoa yang diadakan dengan arak-arakan dan penyajian makanan tradisional.
Baca Juga: 25 Ucapan Maulid Nabi 16 September 2024, Cocok untuk Caption di Sosial Media
Menurut Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, peringatan Maulid Nabi menjadi salah satu media penting dalam penyebaran Islam dan penguatan jaringan ulama di Nusantara.
Ulama-ulama lokal berperan aktif dalam mengajarkan pentingnya meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan Maulid menjadi salah satu momen penting untuk menyebarkan pesan tersebut.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia merupakan tradisi yang telah mengakar kuat dan berkembang seiring dengan penyebaran Islam di Nusantara.
Dari lingkungan keraton hingga masyarakat umum, peringatan ini tidak hanya menjadi momen religius, tetapi juga budaya yang merangkul berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Dengan bantuan Walisongo dan dukungan kerajaan Islam, peringatan Maulid Nabi di Indonesia telah bertransformasi menjadi bagian integral dari identitas keislaman masyarakat Indonesia.