Akurat

Kualitas Puasa Menurut Ulama Sufi, Salah Satunya Berpuasa Bersama Allah

Fajar Rizky Ramadhan | 21 Maret 2024, 11:06 WIB
Kualitas Puasa Menurut Ulama Sufi, Salah Satunya Berpuasa Bersama Allah

AKURAT.CO Para Sufi dikenal sebagai orang-orang yang hatinya bersih. Mereka dikenal juga sebagai orang-orang yang dekat dengan Allah SWT.

Dalam soal puasa, ulama sufi memiliki pandangan tersendiri soal kualitas puasa. Ini penting bagi umat Islam agar puasanya dinilai baik.

Di bawah ini kualitas puasa menurut dia tokoh sufi, yaitu Al-Qusyairi dan Al-Ghazali.

Puasa Ramadan Imam Al-Qusyairi

Imam al-Qusyairi menjelaskan bahwa puasa itu ada dua: puasa lahir dan puasa batin. Puasa lahir sebatas menahan (dari lapar dan dahaga) dari segala sesuatu yang membatalkan disertai dengan niat. Sementara puasa batin adalah puasanya hati dari segala penyakitnya; puasa jiwa dari semua bentuk kenyamanan dan ketenangan; puasa sirr dari segala bentuk pengawasan.

Baca Juga: 6 Hal Ini Tidak Membatalkan Puasa Meskipun Masuk ke Rongga Perut

Imam Al-Qusyairi juga menjelaskan bagi siapa yang sekadar menahan sesuatu yang membatalkan, maka akhir dari puasanya ketika tersingkapnya malam. Dan siapa yang puasa menahan diri beragam kecemburuan (aghyar), maka puncak puasanya dengan menyaksikan al-Haqq.

Pada ayat berikutnya, penafsiran Imam al-Qusyairi pun beranjak pada penentuan masa atau waktu (QS. Al-Baqarah [2]: 184). Dalam hal ini, imam Al-Qusyairi membagi tipologi puasa beserta karakteristiknya masing-masing:

Pertama, siapa yang melihat bulan (Ramadhan), maka dia akan berpuasa karena Allah, dan dia pun berhak mendapatkan pahala. Puasa karena Allah itu juga menegaskan penghambaan kepada-Nya. Dia menjadi sifat setiap hamba. Puasa lahiriah ini sekadar menegakkan aspek-aspek lahiriah semata, seperti syarat dan rukunnya.

Kedua, puasa bathiniah berarti menyaksikan pencipta bulan. Dia akan berpuasa bersama Allah, dan akan diberi balasan berupa kedekatan (al-qurbah) bersama Allah SWT. Maka dari itu, puasa bersama Allah berarti dia sedang meluruskan kehendaknya, sekaligus menjadi karakter bagi orang yang berkemauan kuat. Dia tidak sekadar mengikuti aspek-aspek lahiriah, namun lebih dari itu, puasa bersama Allah berarti menahan diri melalui isyarat-isyarat hakikat.

Dalam prakteknya, puasa sangat khusus berarti melakukan beberapa tahapan latihan batiniah yang sangat penting bagi orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sekaligus. Imam Al-Qusyairi dalam Risalatul Qusyairiyyah membagi tahapan cara ke dalam 45 bagian. Beberapa cara Al-Qusyairi dalam menunaikan ibadah puasa antara lain mengosongkan perut, meninggalkan syahwat, mujahadah, sabar, syukur, ikhlas, jujur, istiqamah dan taqwa.

Baca Juga: 6 Hal Ini Tidak Membatalkan Puasa Meskipun Masuk ke Rongga Perut

Puasa Ramadan Imam Al-Ghazali

Sedangkan menurut Imam Al-Ghazali, beliau mengungkapkan tiga tingkatan puasa seseorang yakni tingkat biasa, khusus (khas) dan sangat khusus (khashul khawash). Puasa biasa, adalah menahan diri dari makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu. Adapun puasa khusus, adalah menahan telinga, mata, lidah, tangan serta kaki dan juga anggota badan lainnya dari perbuatan maksiat. Sedangkan puasa sangat khusus, adalah puasa hati. Maksudnya, menjaga hati dari lalai mengingat Allah SWT.

Imam Al-Ghazali menjelaskan berpuasa khusus harus melakukan enam persyaratan, yakni: Pertama, tidak melihat segala yang dibenci Allah SWT atau yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah. Kedua, menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dusta, umpatan, fitnah, perkataan keji serta kasar, dan kata-kata permusuhan (pertentangan dan kontroversi). Dan menggantinya dengan lebih banyak berdiam diri, memperbanyak dzikir dan membaca Al-Quran. Inilah puasa lisan.

Ketiga, menjaga pendengaran dari segala sesuatu yang tercela. Karena segala sesuatu yang dilarang untuk diucapkan juga dilarang untuk didengarkan. Keempat, menjaga kesucian setiap anggota badan dari yang syubhat, apalagi yang haram. Kelima, menghindari makan berlebihan. Tidak ada kantung yang lebih dibenci Allah SWT selain perut yang dijejali makanan halal. Keenam, menuju kepada Allah SWT dengan rasa takut dan pengharapan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.