Akurat Logo

Tafsir Surat An-Nisa Ayat 58-59: Hubungan Politik Pemimpin dan Rakyat Menurut Islam yang Saling Memuliakan dan Menaati

Fahri Hilmi | 30 November 2023, 10:05 WIB
Tafsir Surat An-Nisa Ayat 58-59: Hubungan Politik Pemimpin dan Rakyat Menurut Islam yang Saling Memuliakan dan Menaati

AKURAT.CO Islam merupakan agama yang mengatur segala aspek dalam kehidupan manusia dengan sedemikian rupa, termasuk di dalamnya tuntunan dalam kehidupan berpolitik yang mengatur hubungan antara pemimpin dengan rakyatnya dalam suatu pemerintahan.

Dalam hal ini, Allah SWT menurunkan surat An-Nisa ayat 58-59 yang menjelaskan bagaimana seharusnya sikap yang ditunjukkan seorang pemimpin politik dalam memenuhi hak rakyatnya, serta sikap rakyat terhadap hak pemimpin untuk ditaati dan hormati.

1. Pemimpin Harus Memuliakan Rakyatnya:

QS. An-Nisa: 58

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا

Innallāha ya`murukum an tu`addul-amānāti ilā ahlihā wa iżā ḥakamtum bainan-nāsi an taḥkumụ bil-'adl, innallāha ni'immā ya'iẓukum bih, innallāha kāna samī'am baṣīrā

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 54: Orang-orang Palestina Yang Wafat Terbunuh Oleh Israel Ternyata Tidak Mati

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” (QS. An-Nisa: 58).

Dijelaskan dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, ayat ini mengandung sejumlah perintah bagi penguasa untuk memuliakan rakyatnya dengan memenuhi hak mereka, yakni menunaikan amanah, menepati janji, serta berperilaku adil dalam mengambil keputusan. Artinya seorang pemimpin harus bersikap netral, jujur, adil, dan tidak condong pada salah satu pihak saja.

2. Rakyat Harus Menaati Pemimpinnya yang Soleh:

QS. An-Nisa: 59


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Yā ayyuhallażīna āmanū aṭī'ullāha wa aṭī'ur-rasụla wa ulil-amri mingkum, fa in tanāza'tum fī syai`in fa ruddụhu ilallāhi war-rasụli ing kuntum tu`minụna billāhi wal-yaumil-ākhir, żālika khairuw wa aḥsanu ta`wīlā

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59).

Dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, ayat ini mengandung perintah Allah SWT bahwa peran rakyat dalam Islam tidak hanya untuk menaati Allah SWT dan RasulNya, melainkan juga untuk taat kepada pemimpinnya (ulil amri).

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Ma'idah Ayat 21: Yerussalem Bukan Milik Zionis Israel, Tetapi Milik Orang-orang Mukmin

Dalam hal ini, pemimpin yang ditaati haruslah seseorang yang juga menaati hukum dan syariat Allah SWT. Namun apabila ia melenceng dari syariat Islam, maka gugur sudah kewajiban rakyat untuk menaati pemimpinnya.

Selain itu, ayat ini juga menjelaskan bahwa setiap terjadi perselisihan pendapat antara rakyat dan pemimpin, maka keduanya harus melakukan musyawarah dan mengembalikan hukum perkara tersebut kepada ajaran Al-Quran dan sunnah.

Berdasarkan penjelasan pada kedua ayat tersebut, maka hubungan politik bagi pemerintah dan rakyatnya harus dijalani dengan penuh ketaatan kepada Allah SWT dan Rasulnya. Keduanya juga harus sama-sama memenuhi hak masing-masing, yakni pemimpin memuliakan rakyatnya, serta rakyat menaati pemimpinnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

F
Reporter
Fahri Hilmi
Lufaefi
Editor
Lufaefi