Sering Bingung Membedakan Antara Maulid Dan Maulud? Ini Penjelasan Quraish Shihab

AKURAT.CO, Kamis (28/9/2023) umat Islam sedang memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Umat Islam berbondong-bondong menghadiri acara pengajian atau perayaan hari besar keislaman ini di berbagai tempat. Namun di bulan maulid ini sering sebagian umat Islam masih kebingungan antara istilah maulid dan maulud.
Lantas apakah arti dari kata Maulid dan Maulud itu sendiri? Apakah bermakna sama atau memiliki arti yang berbeda?
Ahli Tafsir Prof Quraish Shihab mengatakan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW dinamakan dengan Sirah. Atau bisa diartikan secara sederhana Sirah adalah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.
QuraishBaca Juga: Quraish Shihab Menjawab Tuduhan Bid'ah Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW
"Jadi perjalanan hidup Nabi ini mulai beliau lahir sampai wafat. Itu Sirah," ujarnya dalam video yang diunggah melalui channel YouTube Quraish Shihab, Rabu (28/10/2020).
Prof Quraish kemudian menjelaskan kata Maulud yang berarti sebagai uraian yang menyangkut perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW yang tekanannya pada sosoknya. Sedangkan Maulid merupakan informasi-informasi yang diterima berkaitan dengan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.
Pendiri Pusat Studi Qur'an itu menguraikan pendapat sejarawan yang pernah berkata "Kalau anda bisa menangkap, bisa membayangkan sejarah dalam benak anda, maka anda telah menambahkan usia melebihi usia anda". Karena orang-orang yang merasa seakan hidup pada masa lampau, adalah karena mereka mengetahui sejarahnya.
Prof Quraish menambahkan bahwa tujuan dari mempelajari sejarah adalah untuk menggali apa yang terdapat dibalik sejarah itu. Karena di dalam Al-Qur'an sendiri hampir tidak berbicara tentang tempat, sosok tetapi yang dibicarakan adalah peristiwa.
Baca Juga: Hakikat Idul Fitri Menurut Quraish Shihab
"Siapa itu Ashabul Kahfi, disebut tidak namanya, tanggal berapa itu, tidak ada tanggalnya, tidak ada waktunya," tutur Pengasuh Pondok Pesantren Bayt Al-Quran, Pondok Cabe, Tangerang Selatan tersebut.
Menurut Prof Quraish, mempelajari Sirah Nabi Muhammad itu seperti membakar kayu. Ada sebuah kayu yang kita bakar, asapnya dapat menyesakkan hidung kita. Sedangkan ada kayu yang kita bakar, aromanya sangat harum.
"Kalau anda bicara tokoh lain, bisa jadi menyesakkan, tetapi kalau kita bicara tentang Nabi Muhammad SAW, itu aromanya sangat harum," jelas alumnus doktoral Universitas Al-Azhar Kairo Mesir itu. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










