Hadapi Percepatan AI, Tokoh Muhammadiyah Ajak Teladani Kiai Ahmad Dahlan

AKURAT.CO Percepatan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dinilai menjadi tantangan serius bagi organisasi masyarakat (ormas) keagamaan di Indonesia.
Menghadapi situasi tersebut, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dadang Kahmad mengajak seluruh warga persyarikatan meneladani pemikiran dan pesan pembaruan KH Ahmad Dahlan.
Hal itu disampaikan Dadang dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah yang digelar di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta, Jumat malam, 23 Januari 2026.
Dadang menjelaskan, dunia saat ini mengalami percepatan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika pada era konvensional dan mekanikal perubahan berlangsung dalam rentang puluhan hingga ratusan tahun, maka pada era AI perubahan dapat terjadi dalam hitungan tahun, bahkan lebih cepat.
“Sekarang ini kita hidup di zaman percepatan luar biasa. Perubahan tidak lagi seratus tahun sekali, tetapi bisa setahun sekali, bahkan lebih cepat karena AI,” ujar Dadang.
Baca Juga: Jelang Muktamar NU ke-35, Sejumlah Daerah Berebut Jadi Tuan Rumah
Menurutnya, kondisi tersebut sejatinya telah diprediksi oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Salah satu pesan Kiai Dahlan yang relevan hingga kini adalah bahwa Muhammadiyah pada masa kini akan berbeda dengan Muhammadiyah di masa depan, sehingga warga persyarikatan dituntut adaptif terhadap perubahan zaman.
“Muhammadiyah yang kita hadapi sekarang ini sangat luar biasa. Kalau tidak ada transformasi yang sesuai dengan zaman, kita akan ditinggalkan,” tegasnya.
Dadang menilai, tantangan percepatan teknologi tidak hanya dihadapi Muhammadiyah, tetapi juga ormas-ormas keagamaan mapan lainnya seperti Nahdlatul Ulama, Persis, dan organisasi Islam lainnya.
Ia mencontohkan temuan di wilayah Bekasi, di mana sekitar 70 persen pelajar tingkat SMP dan SMA tidak mengenal ormas-ormas Islam tersebut. Bukan karena mereka tidak peduli pada agama, melainkan karena pola konsumsi informasi generasi muda yang telah bergeser.
“Mereka tetap religius, tetapi tidak menemukan ormas dalam kehidupan mereka. Yang mereka kenal justru tokoh-tokoh agama populer di media sosial,” jelas Guru Besar Sosiologi Agama tersebut.
Fenomena ini, menurut Dadang, harus disikapi secara serius. Ia kembali menekankan pesan Kiai Dahlan bahwa ilmu pengetahuan merupakan kunci utama dalam menghadapi perubahan zaman.
“Kiai Dahlan sudah memprediksi akan datang zaman ilmu pengetahuan. Sekarang kita hidup di zaman itu. Kalau agama tidak mampu mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan, agama akan ditinggalkan,” katanya.
Ia juga menyinggung kondisi di negara-negara Barat, di mana agama mulai ditinggalkan karena dianggap tidak relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Gejala serupa, menurut Dadang, mulai terlihat di Indonesia.
Baca Juga: Update WIUPK Untuk Ormas Keagamaan, Bahlil: NU Sudah Jalan, Muhammadiyah Masih Dikaji
Salah satunya berdasarkan penelitian mahasiswa doktoral UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang menunjukkan bahwa remaja menempatkan agama pada urutan keenam dalam skala prioritas hidup mereka.
Selain itu, aktivitas dan pelayanan keagamaan berbasis luring dinilai semakin sepi peminat. Bahkan, partisipasi generasi muda dalam ritual keagamaan seperti salat berjamaah di masjid menunjukkan tren penurunan.
“Oleh karena itu, penguatan literasi digital bagi ormas keagamaan menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar. Sikap anti atau kontra terhadap teknologi justru sudah tidak relevan,” pungkas Dadang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










