Merayakan Tahun Baru Masehi vs Tahun Baru Islam, Mana Lebih Utama?

AKURAT.CO Pergantian tahun selalu menjadi momen simbolik bagi manusia. Ia bukan sekadar perubahan angka dalam kalender, tetapi penanda waktu, usia, dan perjalanan hidup.
Dalam konteks umat Islam, muncul perbandingan yang sering memantik diskusi: antara Tahun Baru Masehi yang dirayakan secara masif dan Tahun Baru Islam 1 Muharram yang cenderung lebih sunyi, manakah yang sebenarnya lebih utama untuk dirayakan?
Pertanyaan ini tidak bisa dijawab secara emosional, melainkan harus ditimbang melalui perspektif teologis, historis, dan etika Islam.
Dalam Islam, waktu memiliki nilai spiritual yang sangat kuat. Al-Qur’an menegaskan bahwa perhitungan waktu bukanlah kesepakatan sosial semata, melainkan bagian dari sistem kosmik yang diciptakan Allah. Firman-Nya:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan, dalam ketetapan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi.
(QS. At-Taubah: 36).
Baca Juga: Apakah Penggunaan Kembang Api Dilarang dalam Islam?
Ayat ini menunjukkan bahwa sistem waktu dalam Islam memiliki dimensi teologis. Kalender Hijriah bukan sekadar alat administrasi, tetapi memiliki makna ibadah, karena berkaitan langsung dengan puasa, haji, zakat, dan berbagai ritual keagamaan lainnya.
Tahun Baru Islam ditetapkan berdasarkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan transformasi nilai: dari penindasan menuju keadilan, dari minoritas tertindas menuju masyarakat berdaulat. Karena itu, 1 Muharram mengandung pesan ideologis dan spiritual yang sangat kuat. Rasulullah SAW bersabda:
لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ
Tidak ada hijrah setelah penaklukan Makkah, tetapi yang ada adalah jihad dan niat.
(HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa makna hijrah bersifat berkelanjutan, tidak berhenti pada peristiwa sejarah. Tahun Baru Islam seharusnya menjadi momentum hijrah batin: evaluasi diri, pembaruan niat, dan pergeseran menuju kehidupan yang lebih taat dan bermakna.
Sementara itu, Tahun Baru Masehi lahir dari sistem penanggalan Romawi yang kemudian menjadi kalender global. Dalam Islam, penggunaan kalender Masehi tidaklah terlarang, karena ia telah menjadi sistem waktu universal dalam urusan sosial, ekonomi, dan administrasi. Namun, secara teologis, Tahun Baru Masehi tidak memiliki nilai ibadah khusus. Ia bersifat netral, bergantung pada bagaimana manusia memaknainya.
Dari sudut pandang fikih, perayaan Tahun Baru Masehi tidak memiliki landasan ritual dalam Islam. Jika dirayakan dengan pesta pora, hura-hura, dan kemaksiatan, maka jelas bertentangan dengan nilai syariat. Sebaliknya, jika hanya dijadikan penanda waktu, refleksi hidup, atau perencanaan masa depan tanpa ritual khusus, maka hukumnya mubah. Prinsip ini sejalan dengan kaidah:
الأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا
Segala perkara bergantung pada tujuan dan niatnya.
Perbandingan antara Tahun Baru Masehi dan Tahun Baru Islam pada akhirnya bukan soal kalender mana yang “boleh” atau “tidak boleh”, tetapi kalender mana yang lebih utama secara nilai. Dari perspektif Islam, keutamaan tidak diukur dari kemeriahan, tetapi dari kedalaman makna dan dampak spiritual. Dalam hal ini, Tahun Baru Islam jelas memiliki keunggulan normatif karena terhubung langsung dengan sejarah kenabian dan spirit perubahan.
Namun, ironi sosial sering muncul: Tahun Baru Masehi dirayakan dengan gegap gempita, sementara Tahun Baru Islam nyaris berlalu tanpa refleksi. Kondisi ini memunculkan pertanyaan kritis: apakah umat Islam sedang mengalami pergeseran orientasi makna waktu? Apakah kita lebih responsif terhadap simbol global daripada simbol spiritual kita sendiri?
Baca Juga: Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi 2026 menurut Islam
Islam tidak melarang umatnya hidup berdampingan dengan sistem global, tetapi juga tidak membenarkan hilangnya identitas. Tahun Baru Islam semestinya diposisikan sebagai momen prioritas untuk muhasabah, pembaruan komitmen moral, dan penguatan visi hidup sebagai hamba Allah. Sementara Tahun Baru Masehi cukup ditempatkan sebagai alat administrasi waktu, bukan sebagai perayaan ideologis.
Dengan demikian, jika pertanyaannya adalah mana yang lebih utama, maka jawabannya jelas: Tahun Baru Islam lebih utama secara nilai dan makna spiritual. Bukan karena Tahun Baru Masehi haram secara mutlak, tetapi karena Islam mengajarkan skala prioritas.
Di tengah dunia yang serba meriah dan bising, Islam justru mengajak umatnya untuk lebih jujur bertanya pada diri sendiri: pergantian tahun ini membawa kita lebih dekat ke Allah, atau justru semakin jauh dari tujuan hidup yang sejati. Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









