Akurat

Gus Nadir Bongkar Kisruh Internal PBNU: Ketum Tidak Akur dengan Sekjend dan Rais Aam

Fajar Rizky Ramadhan | 25 November 2025, 08:00 WIB
Gus Nadir Bongkar Kisruh Internal PBNU: Ketum Tidak Akur dengan Sekjend dan Rais Aam

AKURAT.CO Situasi internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menjadi sorotan setelah Cendekiawan NU, Nadirsyah Hosen atau yang akrab dikenal sebagai Gus Nadir, mengungkap adanya masalah mendalam yang menggerus keharmonisan para petinggi organisasi.

Melalui pernyataannya di media sosial pada Senin, 24 November 2025, ia menilai relasi antarpemimpin PBNU berada pada titik paling rapuh dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam penuturannya, Gus Nadir menggambarkan kondisi PBNU sebagai organisasi yang tengah mengalami “kemacetan struktural” hingga membuat roda jam’iyyah berjalan tidak semestinya.

Menurutnya, relasi Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dengan Sekretaris Jenderal PBNU Saefullah Yusuf disebut tidak lagi berjalan harmonis. Ketegangan itu kemudian melebar dan menyeret hubungan antara Ketum dan Rais Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar.

Baca Juga: Rapat Ulama PBNU Putuskan Gus Yahya Tetap Menjabat, Tak Ada Pemakzulan

“Matinya roda Jam’iyyah kami. Jam’iyyah ini sedang berjalan terbalik. Ketua Umum berkonflik dengan Sekjen dan Bendum,” ungkap Gus Nadir dalam pernyataannya.

Ia juga menambahkan bahwa relasi antara Ketua Umum dan Rais Aam tidak berada dalam keadaan baik. Bahkan, menurutnya, hubungan Rais Aam dengan Katib Aam pun tidak serasi. Kondisi ini membuat alur administrasi organisasi menjadi tidak normal.

“Ketua Umum juga tidak akur dengan Rais ‘Am. Sementara Rais ‘Am sendiri tidak sreg dengan Katib ‘Am,” lanjutnya.

Akibat ketidakselarasan di pucuk pimpinan, proses penandatanganan surat-surat resmi PBNU tidak lagi memenuhi ketentuan. Surat Syuriyah hanya ditandatangani Rais Aam, sementara surat Tanfidziyah hanya diteken Ketua Umum. Padahal, menurut aturan, dokumen resmi harus ditandatangani empat unsur: Rais Aam, Katib Aam, Ketua Umum, dan Sekjen.

“Akhirnya, surat resmi Syuriyah hanya ditandatangani Rais ‘Am. Surat Tanfidziyah hanya diteken Ketum. Padahal aturan mengharuskan empat tanda tangan,” bebernya.

Gus Nadir menyebut bahwa persoalan laten tersebut bukan baru muncul belakangan, melainkan sudah berlangsung selama berbulan-bulan. Dalam situasi demikian, masing-masing faksi dalam kepengurusan berjalan sendiri tanpa koordinasi dan tanpa satu komando yang jelas. Ia menilai kondisi itu membuat jamaah Nahdliyin kehilangan arahan.

“Ini bukan lagi soal organisasi yang macet. Ini soal mesin yang mati dan dibiarkan karatan selama berbulan-bulan. Jama’ah Nahdliyin bergerak tanpa arahan, tanpa bimbingan, tanpa kepemimpinan PBNU. Roda terkunci mati,” tegasnya.

Dalam lanjutan pernyataannya, Gus Nadir menyentil visi besar PBNU yang menurutnya tidak berjalan sejalan dengan klaim kehendak menghidupkan kembali spirit perjuangan Gus Dur. Ia melihat romantisme terhadap warisan kepemimpinan tersebut justru diiringi melemahnya nilai kritis dan tata kelola organisasi.

“Tagline ingin ‘menghidupkan kembali Gus Dur’, nyatanya sikap kritis justru hilang sama sekali. Mengaku ingin ‘governing NU’, tapi tata kelola PBNU sendiri remuk redam,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia menyinggung keputusan-keputusan tertentu dalam lingkup PBNU yang menurutnya justru memunculkan polemik, termasuk soal sikap politik dan agenda-agenda internal yang dinilai menjauh dari khittah organisasi.

Baca Juga: Nadirsyah Hosen Sayangkan Ulama Hari Ini Hanya Jadi Pemadam, Tak Jadi Pilar bagi Masyarakat yang Sedang Resah

“Mengaku berkhidmat untuk bangsa, malah gaduh sendiri soal tambang. Bicara ingin membangun peradaban dunia, tapi yang diundang justru tokoh zionis perusak peradaban,” tambahnya.

Gus Nadir menutup kritiknya dengan nada prihatin. Ia menyebut usia satu abad NU yang semestinya menjadi momentum kejayaan justru dilalui dengan luka internal yang menggores wibawa organisasi.

“Satu Abad NU bukan dirayakan dengan kejayaan, tapi dilewati dengan perih dan prihatin yang menyesakkan dada. Mau sampai kapan kondisi jam’iyyah dibiarkan begini,” ujarnya sebelum menutup dengan seruan doa untuk para muassis NU.

Meski demikian, hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak-pihak yang disebutkan dalam kritik tersebut. Namun, publik menilai pernyataan Gus Nadir ini menjadi salah satu suara paling terang dalam mengungkap ketegangan di tubuh PBNU yang selama ini hanya beredar sebagai isu di balik layar. Dengan semakin kuatnya desakan mundur terhadap Ketum PBNU, dinamika ini diperkirakan masih akan terus berkembang ke babak-babak berikutnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.