Akurat

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Ini Pesan Islam untuk Menjaga Kekayaan Hayati

Fajar Rizky Ramadhan | 5 November 2025, 14:22 WIB
Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Ini Pesan Islam untuk Menjaga Kekayaan Hayati

AKURAT.CO Setiap tanggal 5 November, Indonesia memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN). Peringatan ini bukan sekadar seremoni, tetapi momentum reflektif untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan flora dan fauna sebagai bagian dari kekayaan hayati negeri.

Di tengah isu perubahan iklim, deforestasi, dan punahnya spesies langka, ajaran Islam sebenarnya telah jauh hari menanamkan prinsip ekologi spiritual: menjaga bumi dan seluruh isinya adalah amanah ilahiah.

Al-Qur’an menegaskan bahwa seluruh makhluk hidup di bumi adalah ciptaan Allah yang memiliki hak untuk hidup dan berkembang biak. Allah berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 38:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ

“Dan tidak ada seekor binatang pun di bumi dan burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu.” (QS. Al-An’am: 38)

Ayat ini menunjukkan bahwa hewan dan makhluk lainnya juga termasuk dalam sistem kehidupan yang memiliki keteraturan, fungsi, dan peran sebagaimana manusia.

Dengan demikian, merusak habitat satwa atau memusnahkan spesies tanpa alasan yang dibenarkan syariat adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah sebagai khalifah di muka bumi.

Baca Juga: Abdul Mu’ti: NU dan Muhammadiyah Seperti Dua Sayap Garuda Penopang NKRI

Dalam pandangan Islam, hubungan manusia dengan alam bukanlah relasi eksploitasi, tetapi simbiosis tanggung jawab. Rasulullah SAW mencontohkan sikap penuh kasih terhadap hewan dan tumbuhan. Dalam sebuah hadis riwayat al-Bukhari, Nabi bersabda:

مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ

“Barang siapa menebang pohon bidara (yang bermanfaat) tanpa alasan yang benar, maka Allah akan menundukkan kepalanya ke dalam neraka.” (HR. Abu Dawud)

Hadis ini menegaskan bahwa tindakan merusak pohon tanpa alasan syar’i adalah perbuatan yang diharamkan. Pohon, sebagai bagian dari puspa, memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, menyediakan oksigen, dan menjadi rumah bagi beragam makhluk hidup.

Begitu pula dengan perlakuan terhadap satwa. Islam menolak segala bentuk kekerasan dan eksploitasi terhadap hewan. Rasulullah SAW pernah menegur sahabat yang membakar semut dan mencabut anak burung dari sarangnya. Dalam riwayat Muslim disebutkan:

فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

“Pada setiap yang bernyawa terdapat pahala (bila engkau berbuat baik kepadanya).” (HR. Muslim)

Spirit dari hadis ini adalah kasih sayang universal. Islam memandang tindakan memberi makan hewan, melindungi spesies, hingga tidak menyiksa binatang sebagai amal saleh yang bernilai ibadah.

Dalam konteks kekinian, menjaga puspa dan satwa nasional juga berarti mendukung program konservasi, mengurangi penggunaan plastik yang merusak habitat laut, serta menolak perdagangan ilegal satwa langka. Semua tindakan itu selaras dengan nilai-nilai Islam tentang ihsan terhadap ciptaan Allah.

Selain itu, menjaga kelestarian hayati juga memiliki implikasi moral dan sosial. Ketika ekosistem terganggu, manusia akan menanggung akibatnya — bencana alam, gagal panen, bahkan krisis pangan. Allah telah memperingatkan dalam Surah Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)

Kerusakan lingkungan tidak pernah terjadi tanpa keterlibatan manusia. Karena itu, menjaga alam bukan hanya isu ekologis, melainkan ibadah sosial yang menghubungkan manusia dengan Tuhan dan sesamanya.

Baca Juga: Hukum Main Padel dalam Islam, Apakah Sesuai dengan Syariat Islam?

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional hendaknya menjadi momentum bagi umat Islam untuk meneguhkan kembali komitmen sebagai khalifah fil ardh — penjaga bumi yang bertanggung jawab, bukan penguasa yang serakah.

Setiap pohon yang kita tanam, setiap hewan yang kita lindungi, dan setiap langkah kecil yang kita ambil untuk melestarikan alam adalah bentuk dzikir ekologis — pengingat bahwa seluruh kehidupan di bumi bertasbih kepada Allah.

Menjaga puspa dan satwa berarti menjaga kehidupan. Dan menjaga kehidupan adalah bentuk nyata dari cinta kepada Sang Pencipta.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.