Akurat Logo

5 Ucapan Selamat Paskah Jumat Agung yang Tidak Bertentangan dengan Syariat Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 19 April 2025, 10:00 WIB
5 Ucapan Selamat Paskah Jumat Agung yang Tidak Bertentangan dengan Syariat Islam

 

AKURAT.CO Dalam kehidupan sosial yang majemuk, seorang Muslim tak bisa menghindar dari interaksi dengan pemeluk agama lain. Termasuk ucapan selamat paskah Jumat agung dari umat Islam.

Di tengah-tengah keberagaman ini, muncul pertanyaan etis sekaligus teologis yang kerap memicu diskusi panjang: Bolehkah seorang Muslim mengucapkan selamat hari raya keagamaan non-Muslim, seperti Paskah atau Jumat Agung? Dan jika boleh, bagaimana bentuk ucapannya agar tidak bertentangan dengan syariat?

Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi hal ini. Sebagian mengharamkan secara mutlak, merujuk pada ayat-ayat yang melarang tasyabbuh (menyerupai) atau membenarkan keyakinan agama lain.

Namun sebagian yang lain memberikan ruang, dengan catatan: ucapan tersebut tidak mengandung pembenaran akidah atau unsur syirik, melainkan semata-mata wujud toleransi dan muamalah sosial yang baik.

Dalam semangat ukhuwah insaniyah dan prinsip laa ikraaha fid-diin (tidak ada paksaan dalam agama), sejumlah kalimat bisa dirumuskan untuk menyampaikan ucapan simpatik kepada saudara non-Muslim dalam momen sakral seperti Jumat Agung atau Paskah, tanpa mengorbankan akidah Islam. Kalimat-kalimat ini bersifat netral, universal, dan menekankan nilai-nilai kemanusiaan.

Baca Juga: Harga Emas Antam Logam Mulia Terus Naik, Ini Sejarah Naiknya Harga Emas di Masa Kekhalifahan Islam

Misalnya, seorang Muslim bisa mengucapkan, “Semoga kedamaian dan kasih senantiasa menyertai Anda di hari suci ini.” Ucapan seperti ini tidak menyebutkan atau mengafirmasi unsur teologis yang bertentangan dengan Islam, tetapi lebih kepada doa kebaikan dan harmoni.

Ucapan lainnya bisa berbunyi, “Selamat merayakan Jumat Agung, semoga menjadi momen reflektif yang membawa ketenangan dan kebijaksanaan.” Atau, “Saya menghormati iman dan perjalanan spiritual Anda.

Semoga hari besar ini membawa berkah bagi keluarga Anda.” Kalimat semacam ini menunjukkan penghargaan terhadap keyakinan orang lain tanpa menyentuh aspek akidah secara langsung.

Bagi seorang akademisi atau profesional Muslim yang hidup di tengah pluralitas budaya dan keyakinan, penting untuk menunjukkan sikap welas asih dan kebesaran hati tanpa mengaburkan batas keyakinan.

Ucapan seperti, “Kami mendoakan semoga momen ini memperkuat semangat perdamaian dan cinta kasih di tengah masyarakat kita,” adalah bentuk partisipasi sosial yang etis sekaligus Islami.

Dan terakhir, dalam konteks relasi sosial yang hangat, ucapan, “Semoga kebajikan dan harapan di hari ini menginspirasi kita semua untuk hidup lebih baik,” dapat menjadi jembatan ukhuwah antarumat beragama, tanpa menimbulkan keraguan dalam prinsip ketauhidan.

Baca Juga: Jumat 18 April 2025 Hari Libur Paskah, Apakah Umat Islam Boleh Merayakan Hari Paskah?

Sebagai catatan penutup: toleransi bukanlah kompromi terhadap akidah. Toleransi adalah bentuk kecerdasan sosial yang tetap menjaga integritas iman.

Selama ucapan kita tidak mengandung unsur pembenaran terhadap keyakinan lain yang bertentangan dengan tauhid, maka hal itu dapat menjadi bagian dari akhlak mulia dan dakwah bil-hikmah.

Islam tidak melarang seorang Muslim untuk bersikap baik kepada siapa pun, bahkan kepada mereka yang berbeda keyakinan, selama tidak mendukung kebatilan atau menggadaikan prinsip iman.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.