Akurat

Apa Itu NPD? Kenali Narcissistic Personality Disorder dan Dampaknya pada Kehidupan

Idham Nur Indrajaya | 20 Februari 2026, 14:22 WIB
Apa Itu NPD? Kenali Narcissistic Personality Disorder dan Dampaknya pada Kehidupan

AKURAT.CO Pernah merasa berhadapan dengan seseorang yang selalu ingin dipuji, sulit menerima kritik, dan seolah dunia berputar di sekelilingnya? Di media sosial, istilah “narsis” sering dipakai sembarangan. Tapi apa itu NPD sebenarnya?

Narcissistic Personality Disorder (NPD) bukan sekadar suka selfie atau haus validasi. Ini adalah gangguan kepribadian serius yang bisa memengaruhi hubungan, karier, hingga kesehatan mental seseorang. Banyak yang menyadarinya terlambat—atau bahkan tidak pernah sadar sama sekali.


Apa Itu NPD?

NPD (Narcissistic Personality Disorder) adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh:

  • Rasa diri yang berlebihan (grandiosity)

  • Kebutuhan ekstrem untuk dikagumi

  • Kurangnya empati terhadap orang lain

  • Sensitif terhadap kritik

  • Pola perilaku yang menetap sejak dewasa awal

Menurut MSD Manual, penderita NPD kesulitan mengatur harga diri sehingga sangat bergantung pada pujian dan pengakuan. Diagnosis hanya bisa ditegakkan oleh profesional kesehatan mental berdasarkan kriteria DSM-5-TR.


Ciri-Ciri Narcissistic Personality Disorder yang Perlu Diwaspadai

Gangguan ini bukan soal percaya diri tinggi. Ada pola perilaku yang konsisten dan mengganggu fungsi hidup.

Beberapa ciri NPD meliputi:

  • Melebih-lebihkan pencapaian dan merasa superior

  • Fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, atau cinta sempurna

  • Merasa berhak mendapat perlakuan istimewa

  • Mengeksploitasi orang lain demi keuntungan pribadi

  • Kurang empati

  • Mudah marah atau merasa dipermalukan saat dikritik

DSM-5-TR menyebutkan, diagnosis ditegakkan jika seseorang menunjukkan minimal 5 dari 9 kriteria klinis secara konsisten sejak dewasa awal.

Menariknya, banyak penderita tampak percaya diri di luar, tetapi sebenarnya memiliki harga diri yang rapuh.


Seberapa Umum NPD? Ini Data Prevalensinya

Gangguan kepribadian narsistik bukan kondisi langka, tapi juga bukan mayoritas.

  • Median prevalensi sekitar 1,6% populasi (Morgan & Zimmerman, 2018).

  • Beberapa studi menunjukkan kisaran 0,5%–6%.

  • Lebih sering didiagnosis pada laki-laki (sekitar 50–75% kasus).

Komorbiditas juga tinggi. Studi Stinson dkk. (2008) menemukan NPD sering muncul bersamaan dengan:

  • Depresi mayor

  • Gangguan penggunaan zat (terutama kokain)

  • Gangguan kepribadian lain seperti borderline atau histrionik

Artinya, NPD jarang berdiri sendiri.


Penyebab NPD: Genetik, Pola Asuh, dan Faktor Otak

Tidak ada satu penyebab tunggal.

Beberapa faktor yang diyakini berperan:

1. Faktor Genetik

Ada komponen hereditas yang signifikan dalam gangguan kepribadian narsistik.

2. Pola Asuh Masa Kecil

Anak yang terlalu dipuji secara berlebihan, atau sebaliknya terlalu dikritik dan tidak konsisten mendapatkan validasi, berisiko mengembangkan pola narsistik ekstrem.

3. Faktor Neurologis

Beberapa penelitian menunjukkan perbedaan pada area otak yang mengatur empati dan regulasi emosi.

Lingkungan dan pengalaman hidup membentuk fondasi harga diri. Jika rapuh, individu bisa membangun “topeng superioritas” sebagai mekanisme pertahanan.


NPD vs Sifat Narsis Biasa: Jangan Salah Kaprah

Ini bagian yang sering disalahpahami.

Suka tampil percaya diri, aktif di media sosial, atau menikmati pujian bukan berarti seseorang memiliki gangguan kepribadian narsistik.

Perbedaannya terletak pada:

  • Intensitas

  • Konsistensi pola

  • Dampak terhadap fungsi hidup

  • Gangguan relasi sosial dan pekerjaan

NPD bersifat menetap, kaku, dan merusak hubungan interpersonal.


Bagaimana NPD Didiagnosis dan Diobati?

Diagnosis dilakukan oleh psikiater atau psikolog klinis melalui wawancara dan evaluasi menyeluruh.

Pendekatan Terapi

  • Psychodynamic psychotherapy

  • Mentalization-based treatment

  • Transference-focused psychotherapy

  • Terapi kognitif perilaku (CBT)

Tidak ada obat khusus untuk NPD. Tantangan terbesarnya justru pada kesadaran diri. Banyak penderita tidak merasa ada yang salah.


Generasi Digital dan Normalisasi Narsisme

Ada paradoks sosial yang menarik.

Di era personal branding, self-love, dan validasi digital, perilaku narsistik sering dianggap biasa. Bahkan dihargai. Platform sosial mendorong pencitraan, kompetisi popularitas, dan penguatan ego.

Masalahnya, garis antara percaya diri sehat dan gangguan kepribadian bisa menjadi kabur.

Normalisasi ini berisiko membuat gejala NPD tidak terdeteksi lebih awal—atau justru diperkuat oleh lingkungan sosial yang memberi reward pada perilaku grandiose.

Baca Juga: Mengapa Seseorang Suka Menimbun Barang Berlebihan? Ini Penyebab Hoarding Disorder

Baca Juga: Apa Itu Election Stress Disorder? Gejala Stres Akibat Berita Menjelang Pemilu


Contoh Kasus: Ketika Ambisi Berubah Jadi Eksploitasi

Bayangkan seorang manajer muda yang selalu mengklaim keberhasilan tim sebagai pencapaiannya sendiri.

Ia:

  • Tidak mengakui kontribusi rekan kerja

  • Marah saat dikritik

  • Menghindari tanggung jawab ketika gagal

Awalnya dianggap ambisius. Lama-lama, tim merasa dimanfaatkan dan tidak dihargai. Konflik muncul. Produktivitas turun.

Inilah bagaimana NPD bisa memengaruhi dunia kerja, relasi, dan kesehatan mental orang di sekitarnya.


Kenapa Memahami NPD Itu Penting?

Gangguan ini tidak hanya berdampak pada penderita, tapi juga pasangan, keluarga, rekan kerja, bahkan organisasi.

Risiko jika diabaikan:

  • Hubungan toksik jangka panjang

  • Lingkungan kerja tidak sehat

  • Depresi atau kecemasan pada pasangan

  • Isolasi sosial

Di tengah tekanan ekonomi dan kompetisi karier, pola narsistik ekstrem bisa semakin menguat sebagai mekanisme pertahanan diri.

Mengenali tanda-tandanya bukan untuk memberi label, tapi untuk mendorong kesadaran dan bantuan profesional lebih awal.


Antara Ego dan Empati

Setiap orang punya sisi narsis. Itu manusiawi.

Pertanyaannya: apakah sisi itu membantu kita tumbuh, atau justru menghancurkan hubungan dan harga diri dari dalam?

Memahami apa itu NPD bukan soal menghakimi orang lain. Ini tentang menyadari batas antara kepercayaan diri sehat dan pola yang merusak.

Pantau terus perkembangan riset kesehatan mental dan refleksikan bagaimana dinamika ini hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Apa Itu Autis? Ini Penjelasan Lengkap tentang Autism Spectrum Disorder, Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

Baca Juga: Kenali Gejala Anxiety Disorder, Ikatan Dokter Indonesia Berikan Informasi Pengobatan

FAQ

Apa itu Narcissistic Personality Disorder (NPD)?

Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh rasa superioritas berlebihan, kebutuhan kuat untuk dikagumi, dan kurangnya empati terhadap orang lain. Berbeda dengan sifat narsis biasa, gangguan kepribadian narsistik bersifat menetap, kaku, dan memengaruhi fungsi kehidupan seperti pekerjaan, hubungan, serta stabilitas emosi. Diagnosis NPD hanya dapat dilakukan oleh profesional kesehatan mental berdasarkan kriteria klinis DSM-5-TR.

Mengapa seseorang bisa mengalami NPD?

Penyebab NPD diyakini merupakan kombinasi faktor genetik, pola asuh masa kecil, serta kemungkinan perbedaan neurologis dalam regulasi emosi dan empati. Anak yang tumbuh dengan pola pujian berlebihan, kritik ekstrem, atau pengabaian emosional berisiko mengembangkan pola harga diri yang rapuh dan kompensasi grandiositas. Faktor lingkungan dan pengalaman relasi juga ikut membentuk perkembangan gangguan ini.

Apa saja ciri-ciri NPD yang paling umum?

Ciri-ciri NPD meliputi perasaan diri sangat penting, membesar-besarkan prestasi, merasa berhak atas perlakuan istimewa, sensitif terhadap kritik, serta kecenderungan mengeksploitasi orang lain. Penderita sering memiliki fantasi tentang kesuksesan besar dan sulit menunjukkan empati. Pola ini muncul konsisten dalam berbagai konteks sosial, bukan hanya pada situasi tertentu.

Apa perbedaan narsis biasa dengan NPD?

Sifat narsis sehari-hari, seperti senang dipuji atau percaya diri tinggi, masih tergolong normal selama tidak merusak hubungan dan fungsi hidup. NPD adalah kondisi klinis yang menetap dan mengganggu relasi interpersonal, pekerjaan, serta kestabilan emosional. Perbedaannya terletak pada intensitas, konsistensi perilaku, dan dampak jangka panjang terhadap kehidupan sosial.

Apakah NPD bisa sembuh?

NPD tidak memiliki obat khusus, tetapi terapi psikologis seperti psychodynamic psychotherapy atau cognitive behavioral therapy dapat membantu penderita mengelola pola pikir dan meningkatkan empati. Perubahan biasanya membutuhkan waktu lama karena gangguan ini berkaitan dengan struktur kepribadian. Tantangan terbesarnya adalah kesadaran diri, karena banyak penderita tidak merasa memiliki masalah.

Bagaimana cara mendiagnosis NPD?

Diagnosis NPD dilakukan melalui evaluasi klinis oleh psikiater atau psikolog berdasarkan kriteria DSM-5-TR. Seseorang harus menunjukkan minimal lima dari sembilan kriteria seperti grandiositas, kebutuhan akan kekaguman, dan kurang empati, yang telah berlangsung sejak dewasa awal. Proses ini tidak bisa dilakukan melalui tes online atau asumsi pribadi.

Apa dampak NPD dalam hubungan percintaan?

Dalam hubungan romantis, NPD dapat menyebabkan dinamika relasi yang tidak seimbang, manipulatif, dan minim empati. Pasangan mungkin merasa tidak dihargai, sering disalahkan, atau mengalami tekanan emosional. Jika tidak disadari, pola ini bisa berkembang menjadi hubungan toksik yang memengaruhi kesehatan mental kedua pihak.

Apakah NPD lebih sering terjadi pada pria?

Beberapa studi epidemiologi menunjukkan gangguan kepribadian narsistik lebih sering didiagnosis pada laki-laki dibanding perempuan, dengan proporsi sekitar 50–75% kasus. Namun, hal ini bisa dipengaruhi faktor sosial dan bias diagnosis. NPD tetap dapat terjadi pada siapa pun tanpa memandang gender.

Apa dampaknya jika NPD tidak ditangani?

Jika tidak ditangani, NPD dapat menyebabkan konflik berkepanjangan dalam keluarga, lingkungan kerja yang tidak sehat, isolasi sosial, serta risiko gangguan mental lain seperti depresi atau penyalahgunaan zat. Dampaknya tidak hanya dirasakan penderita, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Dalam jangka panjang, kualitas relasi dan stabilitas hidup bisa terganggu signifikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.