Apa Itu NPD? Kenali Narcissistic Personality Disorder dan Dampaknya pada Kehidupan

AKURAT.CO Pernah merasa berhadapan dengan seseorang yang selalu ingin dipuji, sulit menerima kritik, dan seolah dunia berputar di sekelilingnya? Di media sosial, istilah “narsis” sering dipakai sembarangan. Tapi apa itu NPD sebenarnya?
Narcissistic Personality Disorder (NPD) bukan sekadar suka selfie atau haus validasi. Ini adalah gangguan kepribadian serius yang bisa memengaruhi hubungan, karier, hingga kesehatan mental seseorang. Banyak yang menyadarinya terlambat—atau bahkan tidak pernah sadar sama sekali.
Apa Itu NPD?
NPD (Narcissistic Personality Disorder) adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh:
-
Rasa diri yang berlebihan (grandiosity)
-
Kebutuhan ekstrem untuk dikagumi
-
Kurangnya empati terhadap orang lain
-
Sensitif terhadap kritik
-
Pola perilaku yang menetap sejak dewasa awal
Menurut MSD Manual, penderita NPD kesulitan mengatur harga diri sehingga sangat bergantung pada pujian dan pengakuan. Diagnosis hanya bisa ditegakkan oleh profesional kesehatan mental berdasarkan kriteria DSM-5-TR.
Ciri-Ciri Narcissistic Personality Disorder yang Perlu Diwaspadai
Gangguan ini bukan soal percaya diri tinggi. Ada pola perilaku yang konsisten dan mengganggu fungsi hidup.
Beberapa ciri NPD meliputi:
-
Melebih-lebihkan pencapaian dan merasa superior
-
Fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, atau cinta sempurna
-
Merasa berhak mendapat perlakuan istimewa
-
Mengeksploitasi orang lain demi keuntungan pribadi
-
Kurang empati
-
Mudah marah atau merasa dipermalukan saat dikritik
DSM-5-TR menyebutkan, diagnosis ditegakkan jika seseorang menunjukkan minimal 5 dari 9 kriteria klinis secara konsisten sejak dewasa awal.
Menariknya, banyak penderita tampak percaya diri di luar, tetapi sebenarnya memiliki harga diri yang rapuh.
Seberapa Umum NPD? Ini Data Prevalensinya
Gangguan kepribadian narsistik bukan kondisi langka, tapi juga bukan mayoritas.
-
Median prevalensi sekitar 1,6% populasi (Morgan & Zimmerman, 2018).
-
Beberapa studi menunjukkan kisaran 0,5%–6%.
-
Lebih sering didiagnosis pada laki-laki (sekitar 50–75% kasus).
Komorbiditas juga tinggi. Studi Stinson dkk. (2008) menemukan NPD sering muncul bersamaan dengan:
-
Depresi mayor
-
Gangguan penggunaan zat (terutama kokain)
-
Gangguan kepribadian lain seperti borderline atau histrionik
Artinya, NPD jarang berdiri sendiri.
Penyebab NPD: Genetik, Pola Asuh, dan Faktor Otak
Tidak ada satu penyebab tunggal.
Beberapa faktor yang diyakini berperan:
1. Faktor Genetik
Ada komponen hereditas yang signifikan dalam gangguan kepribadian narsistik.
2. Pola Asuh Masa Kecil
Anak yang terlalu dipuji secara berlebihan, atau sebaliknya terlalu dikritik dan tidak konsisten mendapatkan validasi, berisiko mengembangkan pola narsistik ekstrem.
3. Faktor Neurologis
Beberapa penelitian menunjukkan perbedaan pada area otak yang mengatur empati dan regulasi emosi.
Lingkungan dan pengalaman hidup membentuk fondasi harga diri. Jika rapuh, individu bisa membangun “topeng superioritas” sebagai mekanisme pertahanan.
NPD vs Sifat Narsis Biasa: Jangan Salah Kaprah
Ini bagian yang sering disalahpahami.
Suka tampil percaya diri, aktif di media sosial, atau menikmati pujian bukan berarti seseorang memiliki gangguan kepribadian narsistik.
Perbedaannya terletak pada:
-
Intensitas
-
Konsistensi pola
-
Dampak terhadap fungsi hidup
-
Gangguan relasi sosial dan pekerjaan
NPD bersifat menetap, kaku, dan merusak hubungan interpersonal.
Bagaimana NPD Didiagnosis dan Diobati?
Diagnosis dilakukan oleh psikiater atau psikolog klinis melalui wawancara dan evaluasi menyeluruh.
Pendekatan Terapi
-
Psychodynamic psychotherapy
-
Mentalization-based treatment
-
Transference-focused psychotherapy
-
Terapi kognitif perilaku (CBT)
Tidak ada obat khusus untuk NPD. Tantangan terbesarnya justru pada kesadaran diri. Banyak penderita tidak merasa ada yang salah.
Generasi Digital dan Normalisasi Narsisme
Ada paradoks sosial yang menarik.
Di era personal branding, self-love, dan validasi digital, perilaku narsistik sering dianggap biasa. Bahkan dihargai. Platform sosial mendorong pencitraan, kompetisi popularitas, dan penguatan ego.
Masalahnya, garis antara percaya diri sehat dan gangguan kepribadian bisa menjadi kabur.
Normalisasi ini berisiko membuat gejala NPD tidak terdeteksi lebih awal—atau justru diperkuat oleh lingkungan sosial yang memberi reward pada perilaku grandiose.
Baca Juga: Mengapa Seseorang Suka Menimbun Barang Berlebihan? Ini Penyebab Hoarding Disorder
Baca Juga: Apa Itu Election Stress Disorder? Gejala Stres Akibat Berita Menjelang Pemilu
Contoh Kasus: Ketika Ambisi Berubah Jadi Eksploitasi
Bayangkan seorang manajer muda yang selalu mengklaim keberhasilan tim sebagai pencapaiannya sendiri.
Ia:
-
Tidak mengakui kontribusi rekan kerja
-
Marah saat dikritik
-
Menghindari tanggung jawab ketika gagal
Awalnya dianggap ambisius. Lama-lama, tim merasa dimanfaatkan dan tidak dihargai. Konflik muncul. Produktivitas turun.
Inilah bagaimana NPD bisa memengaruhi dunia kerja, relasi, dan kesehatan mental orang di sekitarnya.
Kenapa Memahami NPD Itu Penting?
Gangguan ini tidak hanya berdampak pada penderita, tapi juga pasangan, keluarga, rekan kerja, bahkan organisasi.
Risiko jika diabaikan:
-
Hubungan toksik jangka panjang
-
Lingkungan kerja tidak sehat
-
Depresi atau kecemasan pada pasangan
-
Isolasi sosial
Di tengah tekanan ekonomi dan kompetisi karier, pola narsistik ekstrem bisa semakin menguat sebagai mekanisme pertahanan diri.
Mengenali tanda-tandanya bukan untuk memberi label, tapi untuk mendorong kesadaran dan bantuan profesional lebih awal.
Antara Ego dan Empati
Setiap orang punya sisi narsis. Itu manusiawi.
Pertanyaannya: apakah sisi itu membantu kita tumbuh, atau justru menghancurkan hubungan dan harga diri dari dalam?
Memahami apa itu NPD bukan soal menghakimi orang lain. Ini tentang menyadari batas antara kepercayaan diri sehat dan pola yang merusak.
Pantau terus perkembangan riset kesehatan mental dan refleksikan bagaimana dinamika ini hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Kenali Gejala Anxiety Disorder, Ikatan Dokter Indonesia Berikan Informasi Pengobatan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









