Akurat

Apa Itu HIV? Penjelasan Lengkap, Cara Penularan, Gejala, hingga Pengobatannya

Naufal Lanten | 28 November 2025, 15:30 WIB
Apa Itu HIV? Penjelasan Lengkap, Cara Penularan, Gejala, hingga Pengobatannya

AKURAT.CO HIV atau human immunodeficiency virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan merusak sel-sel yang seharusnya melindungi tubuh dari penyakit. Ketika sel imun terus turun jumlahnya, kemampuan tubuh melawan infeksi pun ikut melemah. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi AIDS atau acquired immunodeficiency syndrome, yaitu tahap paling berat dari infeksi HIV.

Walaupun belum ditemukan obat yang dapat menghilangkan virus ini sepenuhnya, perkembangan dunia medis telah memungkinkan penderita HIV untuk tetap hidup sehat dan produktif melalui terapi antiretroviral (ARV). Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan besar terkait peningkatan kasus baru, kurangnya pemahaman masyarakat, hingga stigma yang membuat banyak orang enggan melakukan pemeriksaan dini.


Gambaran HIV dan AIDS di Indonesia

Situasi HIV di Indonesia menunjukkan angka yang cukup signifikan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sepanjang tahun 2023, terdapat 57.299 orang positif HIV dari lebih dari enam juta orang yang melakukan tes. Kelompok usia produktif mendominasi angka tersebut, terutama rentang 25–49 tahun.

Pada periode yang sama, ditemukan 17.121 kasus AIDS, dengan persentase tertinggi pada kelompok umur 30–39 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa banyak orang baru terdeteksi pada tahap infeksi yang sudah lanjut.


Apa yang Menyebabkan HIV?

HIV disebabkan oleh infeksi human immunodeficiency virus yang menyerang salah satu jenis sel darah putih bernama sel CD4. Sel inilah yang bertugas menjaga sistem imun tetap kuat. Ketika virus merusaknya secara terus-menerus, tubuh semakin tidak mampu menangkal kuman dan penyakit.

Penularan HIV terjadi ketika cairan tubuh tertentu masuk ke dalam tubuh seseorang yang belum terinfeksi. Cairan tubuh ini meliputi darah, air mani, cairan vagina, cairan anus, dan ASI. HIV tidak menular melalui sentuhan, udara, air, keringat, atau gigitan serangga.


Cara Penularan HIV yang Paling Umum

Penularan HIV dapat terjadi dalam beberapa situasi. Berikut kondisi yang paling sering menjadi jalur transmisi:

  1. Hubungan seksual tanpa kondom, baik vagina, anal, maupun oral, dengan orang yang memiliki HIV.

  2. Berbagi jarum suntik yang tidak steril, termasuk pada penggunaan narkoba suntik.

  3. Transfusi darah yang terkontaminasi HIV, meskipun kini sangat jarang terjadi karena pemeriksaan ketat.

  4. Penularan dari ibu ke bayi, baik saat kehamilan, proses persalinan, maupun menyusui.

Kementerian Kesehatan mencatat bahwa di Indonesia, dua penyebab penularan terbanyak adalah hubungan seksual yang tidak aman dan penggunaan jarum suntik secara bergantian.


Faktor Risiko yang Meningkatkan Kemungkinan Tertular HIV

Siapa saja dapat terinfeksi HIV, namun ada beberapa perilaku dan kondisi yang membuat risikonya jauh lebih tinggi. Risiko meningkat ketika seseorang:

  • Memiliki lebih dari satu pasangan seksual.

  • Tidak menggunakan kondom saat berhubungan intim.

  • Mengidap penyakit menular seksual lain, seperti sifilis atau gonore.

  • Menggunakan jarum suntik bergantian.

  • Bekerja dalam bidang medis yang bersentuhan langsung dengan cairan tubuh pasien.

  • Melakukan tindik atau tato dengan alat yang tidak steril.

Kurangnya edukasi seksual, stigma sosial, serta kesalahan informasi juga menjadi penyebab banyak orang tidak menyadari bahayanya, sehingga lebih rentan terinfeksi.


Jenis-Jenis Virus HIV

Tidak banyak yang tahu bahwa HIV memiliki tipe yang berbeda. Dua jenis utama yang paling dikenal adalah HIV-1 dan HIV-2.

HIV-1

Jenis yang paling banyak ditemukan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. HIV-1 lebih mudah menular dan menyebabkan perkembangan penyakit lebih cepat.

HIV-2

Lebih banyak ditemukan di Afrika Barat, memiliki tingkat penularan lebih rendah, dan perkembangan penyakitnya cenderung lebih lambat dibanding HIV-1.

Secara genetik, HIV-1 dan HIV-2 berbeda hingga 55 persen. Bahkan beberapa obat ARV bekerja secara berbeda pada masing-masing jenis, sehingga diagnosis yang tepat sangat penting.


Gejala HIV Berdasarkan Tahapan Infeksi

HIV tidak selalu langsung menunjukkan gejala. Banyak orang merasa tubuhnya baik-baik saja di awal infeksi, sehingga virus terus berkembang tanpa disadari.

Tahap Awal (Acute HIV Infection)

Beberapa minggu setelah terinfeksi, sebagian orang mengalami gejala mirip flu, seperti:

  • demam

  • nyeri otot

  • batuk

  • ruam kulit

  • sakit tenggorokan

  • pembengkakan kelenjar getah bening

  • diare

  • sariawan yang terasa sangat sakit

  • keringat malam

Gejala ini bisa hilang dalam hitungan minggu, dan banyak orang mengira itu hanya flu biasa.

Tahap Laten (Chronic HIV Infection)

Pada tahap ini, virus terus berkembang biak tetapi sering kali tidak menunjukkan gejala khas. Meski terlihat sehat, orang dengan HIV sudah bisa menularkan virus kepada orang lain.

Kondisi ini bisa berlangsung hingga 10 tahun atau lebih.

Tahap Lanjut (AIDS)

Jika tidak diobati, HIV berkembang menjadi AIDS, yaitu fase di mana sistem imun sangat lemah. Gejala yang muncul antara lain:

  • demam berulang

  • keringat malam terus-menerus

  • penurunan berat badan drastis

  • luka mulut yang tidak sembuh

  • kelelahan ekstrem

  • infeksi berulang, seperti jamur, herpes zoster, atau radang paru

  • diare kronis

  • bercak atau benjolan pada kulit

Pada tahap ini, penderita rentan terkena infeksi oportunistik, yaitu penyakit yang mudah menyerang ketika imun lemah.


Kapan Sebaiknya Periksa ke Dokter?

Pemeriksaan HIV sangat dianjurkan jika kamu merasa pernah berada dalam situasi berisiko, seperti berhubungan intim tanpa pengaman atau menggunakan jarum suntik secara bergantian. Tes juga perlu dilakukan jika mengalami gejala mirip flu dalam 2–6 minggu setelah merasa terpapar.

Jika muncul gejala berat seperti diare panjang, infeksi berulang, atau penurunan berat badan drastis tanpa sebab jelas, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.


Bagaimana Cara Mendiagnosis HIV?

Diagnosis HIV dilakukan melalui tes darah atau cairan tubuh lain. Beberapa metode pemeriksaan yang umum digunakan adalah:

  1. Tes antibodi, seperti rapid test atau ELISA.

  2. Tes kombinasi antigen-antibodi, untuk mendeteksi protein p24 yang merupakan bagian dari virus.

  3. Tes asam nukleat (NAT), yang dapat mendeteksi HIV dengan lebih cepat, sekitar 10 hari setelah terinfeksi.

Jika hasil menunjukkan positif, dokter biasanya melakukan pemeriksaan tambahan seperti:

  • tes viral load

  • hitung sel CD4

  • tes resistensi obat

Pemeriksaan lanjutan ini membantu dokter menentukan kondisi imun dan jenis terapi yang paling cocok.


Pengobatan HIV: Mengenal Terapi Antiretroviral (ARV)

HIV memang belum bisa disembuhkan, tetapi pengobatan modern memungkinkan pengidapnya tetap hidup sehat. Terapi utama adalah antiretroviral (ARV), yaitu obat yang menekan jumlah virus hingga berada pada level yang sangat rendah.

Obat tidak boleh dihentikan karena ARV bekerja menjaga agar virus tetap terkendali. Beberapa jenis ARV yang umum diresepkan antara lain:

  • Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTIs)

  • Nucleoside/nucleotide reverse transcriptase inhibitors (NRTIs)

  • Protease inhibitors

  • Integrase inhibitors

Studi dalam StatPearls tahun 2024 menyebutkan bahwa terapi ARV efektif mencapai penekanan virologis, yaitu kondisi ketika virus berada pada tingkat yang sangat rendah hingga tidak terdeteksi. WHO merekomendasikan terapi ini diberikan pada setidaknya 95 persen pasien untuk menekan penularan dan meningkatkan kualitas hidup.


Komplikasi yang Bisa Terjadi Jika HIV Tidak Diobati

Infeksi HIV yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti:

  • pneumonia akibat Pneumocystis

  • kandidiasis

  • infeksi cytomegalovirus

  • meningitis kriptokokus

  • TBC

  • toksoplasmosis

  • beberapa jenis kanker, seperti sarkoma Kaposi atau limfoma

  • gangguan neurologis

  • penyakit ginjal atau liver

  • wasting syndrome (penurunan berat badan drastis yang disertai diare dan demam)

Penanganan dini sangat penting agar komplikasi seperti ini dapat dicegah.


Bagaimana Cara Mencegah HIV?

Mencegah HIV sebenarnya sangat mungkin dilakukan dengan langkah-langkah sederhana, seperti:

  • menggunakan kondom setiap berhubungan intim

  • tidak berganti-ganti pasangan

  • tidak berbagi jarum suntik

  • memastikan alat medis, tato, atau tindik steril

  • melakukan tes HIV secara rutin jika berada dalam kelompok risiko

  • menjalani sunat yang terbukti menurunkan risiko penularan pada pria

Edukasi menjadi kunci untuk mengurangi penyebaran virus. Kurangnya pemahaman sering membuat orang mengambil risiko tanpa sadar.


Kesimpulan

HIV adalah infeksi virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan dapat berkembang menjadi AIDS jika tidak ditangani. Meski tidak bisa disembuhkan, terapi ARV memungkinkan penderitanya tetap hidup sehat dan mencegah penularan lebih lanjut. Memahami cara penularan, gejala, dan pentingnya pemeriksaan dini adalah langkah penting dalam mencegah penyebaran HIV.

Kalau kamu ingin mengikuti perkembangan informasi kesehatan lainnya, pantau terus update terbaru di AKURAT.CO.

Baca Juga: Obat ARV untuk HIV/AIDS: Pengertian, Manfaat, Jenis, dan Cara Kerjanya

Baca Juga: Apakah HIV Bisa Sembuh? Fakta, Penelitian, dan Perkembangan Terbaru

FAQ

1. Apa itu HIV?

HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan merusak sel CD4. Jika tidak diobati, infeksi ini dapat berkembang menjadi AIDS, yaitu tahap paling berat dari penyakit HIV.

2. Apa perbedaan HIV dan AIDS?

HIV adalah virus penyebab penyakit, sedangkan AIDS merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah akibat infeksi HIV jangka panjang yang tidak ditangani.

3. Bagaimana cara HIV menular?

HIV menular melalui kontak dengan cairan tubuh tertentu seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan anus, dan ASI. Penularan umumnya terjadi melalui hubungan seksual tanpa kondom, pemakaian jarum suntik bergantian, transfusi darah terkontaminasi, serta penularan dari ibu ke bayi.

4. Apakah HIV bisa menular melalui sentuhan atau udara?

Tidak. HIV tidak menular melalui sentuhan kulit, berjabat tangan, pelukan, air liur, batuk, keringat, kolam renang, atau gigitan serangga.

5. Apa saja gejala awal HIV?

Sebagian orang mengalami gejala mirip flu dalam beberapa minggu setelah terinfeksi, seperti demam, nyeri otot, ruam kulit, sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar getah bening, dan diare. Namun ada juga yang tidak menunjukkan gejala apa pun.

6. Berapa lama HIV bisa tidak menunjukkan gejala?

Pada tahap laten, HIV dapat berkembang tanpa gejala selama bertahun-tahun, bahkan lebih dari 10 tahun, sambil tetap menular ke orang lain.

7. Kapan seseorang perlu tes HIV?

Tes perlu dilakukan jika pernah berhubungan seksual tanpa kondom, menggunakan jarum suntik bergantian, atau mengalami gejala mirip flu beberapa minggu setelah paparan berisiko.

8. Bagaimana cara mendiagnosis HIV?

Diagnosis dilakukan melalui tes darah seperti rapid test, tes antibodi-antigen (p24), dan tes NAT. Jika hasilnya positif, dokter biasanya memeriksa viral load dan jumlah sel CD4 untuk menentukan kondisi pasien.

9. Apakah HIV bisa disembuhkan?

Belum ada obat yang dapat menghilangkan HIV sepenuhnya. Namun terapi antiretroviral (ARV) sangat efektif menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi dan memungkinkan pasien hidup sehat.

10. Apa itu ARV dan bagaimana cara kerjanya?

ARV adalah obat yang menekan replikasi HIV di dalam tubuh. Obat ini membantu menjaga sistem imun tetap kuat dan mencegah infeksi berkembang menjadi AIDS. ARV harus diminum setiap hari dan tidak boleh dihentikan tanpa pengawasan medis.

11. Apakah orang dengan HIV yang viral load-nya tidak terdeteksi masih bisa menularkan virus?

Jika viral load sudah tidak terdeteksi (undetectable), risiko penularan melalui hubungan seksual menjadi sangat rendah hingga tidak ada (U=U: Undetectable = Untransmittable). Namun obat harus dikonsumsi rutin.

12. Apa komplikasi yang dapat terjadi jika HIV tidak diobati?

Tanpa penanganan, HIV dapat menyebabkan pneumonia, TBC, meningitis, CMV, kanker tertentu, gangguan saraf, hingga wasting syndrome.

13. Bagaimana cara mencegah HIV?

Pencegahan dapat dilakukan dengan memakai kondom, tidak berganti-ganti pasangan, tidak berbagi jarum suntik, memastikan alat medis/tato/tindik steril, rutin melakukan tes HIV, serta melakukan sunat pada laki-laki yang terbukti menurunkan risiko penularan.

14. Siapa yang berisiko tinggi tertular HIV?

Risiko meningkat pada orang yang sering berganti pasangan seksual, tidak menggunakan kondom, memiliki penyakit menular seksual lain, menggunakan narkoba suntik, atau menggunakan alat tindik/tato tidak steril.

15. Apakah ibu hamil dengan HIV bisa melahirkan bayi negatif?

Bisa. Dengan terapi ARV yang tepat, pemantauan rutin, dan metode persalinan yang sesuai, risiko penularan dari ibu ke bayi dapat ditekan hingga sangat rendah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.