Akurat

Jangan Diabaikan! 7 Tanda Stres yang Sudah Parah, Harus Segera ke Psikolog

Eko Krisyanto | 28 Oktober 2025, 18:56 WIB
Jangan Diabaikan! 7 Tanda Stres yang Sudah Parah, Harus Segera ke Psikolog
 
AKURAT.CO Dalam kehidupan modern yang serba cepat, stres sering kali menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian.
 
Tekanan pekerjaan, hubungan sosial, hingga tuntutan pribadi dapat menumpuk hingga menimbulkan kelelahan mental yang serius.
 
Banyak orang tidak menyadari bahwa stres yang dibiarkan terlalu lama bisa berubah menjadi masalah psikologis yang berat.
 
Dilansir dari Schoen Clinic UK, seseorang perlu mempertimbangkan untuk pergi ke psikolog ketika stres sudah mempengaruhi keseharian dan kesehatannya secara signifikan. Tanda-tanda tersebut bukan hanya melibatkan perasaan cemas atau sedih, tetapi juga mencakup perubahan perilaku, fisik, hingga kemampuan berpikir.
 
Ketika kondisi ini terjadi terus-menerus, artinya tubuh sedang memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
 
Saat seseorang merasa sulit mengontrol emosi, kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulu menyenangkan, atau bahkan mulai menarik diri dari lingkungan sosialnya, inilah saat yang tepat untuk mencari pertolongan profesional.
 

7 tanda stres yang sudah parah dan harus segera menemui psikolog

1. Kesedihan atau mudah tersinggung yang berkepanjangan

Ketika suasana hati terus-menerus terasa murung, sedih, atau mudah marah tanpa sebab yang jelas, hal ini bisa menjadi tanda gangguan emosional yang serius. Perasaan seperti ini dapat menunjukkan adanya masalah yang lebih dalam, seperti depresi, terutama jika berlangsung lama dan mempengaruhi aktivitas harian.

2. Kecemasan berlebihan yang mengganggu aktivitas sehari-hari

Merasa cemas sesekali adalah hal wajar, tetapi ketika kecemasan muncul terus-menerus, sulit dikendalikan, dan mulai menghambat produktivitas, itu menjadi tanda perlu konsultasi ke psikolog. Kondisi ini sering kali membuat seseorang sulit fokus, sulit tidur, dan merasa kewalahan dengan hal-hal kecil.

3. Gangguan pola tidur atau makan

Perubahan pada pola tidur seperti insomnia atau terlalu banyak tidur dan pola makan yang tidak stabil, bisa menjadi refleksi dari stres berat.
 
Tubuh dan pikiran saling terhubung. Ketika pikiran terganggu, tubuh pun merespons dengan cara yang tidak sehat.

4. Gejala fisik tanpa sebab medis yang jelas

Sakit kepala, nyeri otot, atau gangguan pencernaan yang muncul tanpa penyebab medis sering kali berasal dari tekanan psikologis.
 
Dalam kasus tertentu, stres berkepanjangan dapat memicu kondisi psikosomatik, yaitu ketika pikiran yang tertekan menimbulkan gejala fisik nyata.

5. Rasa kewalahan dan kehilangan kendali atas diri sendiri

Ketika seseorang merasa tak mampu lagi menghadapi tekanan hidup, kehilangan arah, atau merasa semua tanggung jawab terlalu berat, ini adalah tanda stres ekstrem. Perasaan kewalahan seperti ini bisa berkembang menjadi keputusasaan jika tidak segera ditangani dengan bantuan profesional.

6. Mengandalkan zat atau perilaku kompulsif untuk mengatasi stres

Upaya menenangkan diri melalui alkohol, obat-obatan, makan berlebihan, atau perilaku kompulsif lainnya sering menjadi cara pelarian. Kebiasaan ini justru dapat memperparah stres dan memunculkan masalah tambahan seperti kecanduan atau gangguan perilaku.
 

7. Menarik diri dari lingkungan sosial

Menghindari teman, keluarga, atau aktivitas yang biasanya menyenangkan merupakan tanda bahwa seseorang sedang berjuang secara emosional.
 
Isolasi diri adalah mekanisme pertahanan yang umum saat seseorang merasa tidak mampu menghadapi tekanan, namun jika dibiarkan, dapat memperburuk kondisi psikologis secara signifikan.
 
Ketika tanda-tanda tersebut mulai muncul dan berlangsung lama, jangan ragu untuk mencari bantuan dari psikolog atau terapis profesional.
 
Mengenali kebutuhan akan terapi adalah langkah penting menuju kesehatan mental yang lebih baik.
 
Jangan tunggu sampai terlambat mencari bantuan adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri untuk kembali menemukan keseimbangan hidup.
 
Salsabilla Nur Wahdah (Magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R