Akurat

Citicoline Obat Apa? Berikut Penjelasan tentang Manfaat dan Dosisnya!

Naufal Lanten | 28 Oktober 2025, 18:06 WIB
Citicoline Obat Apa? Berikut Penjelasan tentang Manfaat dan Dosisnya!

AKURAT.CO Citicoline atau CDP-choline disebut-sebut bisa membantu memperbaiki fungsi otak, terutama setelah stroke atau cedera kepala. Tapi sebenarnya, citicoline itu obat apa, bagaimana cara kerjanya, dan apa kata penelitian terbaru tentang keampuhannya? Berikut penjelasan lengkap yang merangkum bukti ilmiah, mekanisme kerja, dosis, keamanan, hingga status regulasinya di berbagai negara.


Apa Itu Citicoline?

Citicoline, yang secara kimia dikenal sebagai cytidine-5′-diphosphocholine (CDP-choline), adalah senyawa alami yang berperan penting dalam pembentukan fosfolipid membran sel, khususnya fosfatidilkolin — komponen utama membran neuron di otak.

Dalam dunia farmasi, citicoline tersedia dalam bentuk garam seperti natrium-citicoline, dan di beberapa negara dijual sebagai obat resep, sementara di negara lain digunakan sebagai suplemen makanan.

Secara umum, zat ini diklaim mampu mendukung kesehatan otak dan proses pemulihan fungsi kognitif, terutama setelah gangguan pada sistem saraf pusat seperti stroke atau cedera otak.


Bagaimana Cara Kerja Citicoline di Dalam Tubuh?

Setelah dikonsumsi, baik secara oral, intravena (IV), maupun intramuskular (IM), citicoline akan terurai menjadi dua komponen utama: sitidin dan kolin. Kedua zat ini menembus sawar darah-otak dan direkonstruksi kembali menjadi CDP-choline di dalam otak.

Proses tersebut membantu meningkatkan ketersediaan bahan baku untuk membentuk fosfatidilkolin, yang sangat penting untuk menjaga integritas membran sel saraf.

Penelitian preklinis menunjukkan beberapa efek potensial citicoline, antara lain:

  • Menstabilkan membran sel neuron

  • Mengurangi aktivitas fosfolipase yang merusak membran

  • Memulihkan cadangan fosfolipid seperti kardiolipin

  • Meningkatkan kadar glutathione (antioksidan alami tubuh)

  • Memodulasi neurotransmiter seperti asetilkolin dan dopamin

Kombinasi efek inilah yang mendasari dugaan bahwa citicoline dapat berperan sebagai neuroprotektor dan neurorestorator, terutama dalam kondisi yang melibatkan kerusakan jaringan otak.
(Sumber: PubMed; AHA Journals)


Bukti Klinis: Dari Stroke hingga Gangguan Kognitif

1. Stroke Iskemik Akut

Citicoline telah diteliti selama lebih dari dua dekade untuk melihat efeknya pada pasien stroke. Sejumlah uji klinis menunjukkan hasil yang beragam: beberapa menemukan adanya perbaikan pada fungsi neurologis dan kognitif, sementara sebagian lainnya tidak menemukan perbedaan signifikan dibanding plasebo.

Meta-analisis terbaru juga menilai bahwa manfaat citicoline dalam stroke akut belum cukup konsisten untuk dijadikan rekomendasi terapi standar. Meski begitu, penelitian masih berlanjut hingga saat ini, dengan sejumlah uji klinis baru yang tercatat antara tahun 2023–2025.
(Sumber: PubMed; AHA Journals)

2. Cedera Otak Traumatik (Traumatic Brain Injury/TBI)

Citicoline juga sering dikaji pada pasien TBI. Beberapa studi dan meta-analisis menunjukkan sinyal adanya potensi manfaat, terutama dalam pemulihan fungsi neurologis. Namun, uji klinis besar seperti COBRIT trial tidak menemukan efek signifikan terhadap hasil utama pasien.

Ulasan terkini pada tahun 2023 menyimpulkan bahwa bukti masih tidak konklusif, tergantung pada jenis cedera, dosis, dan parameter pemulihan yang digunakan.
(Sumber: PubMed)

3. Gangguan Kognitif dan Demensia Vaskular

Sejumlah studi kecil dan tinjauan Cochrane menyebut bahwa citicoline bisa memberi efek ringan hingga sedang terhadap fungsi memori dan perilaku, terutama pada pasien dengan gangguan kognitif vaskular atau campuran vaskular-degeneratif. Namun, karena kebanyakan studi berdurasi singkat dan dengan peserta terbatas, hasilnya belum cukup kuat untuk dijadikan acuan klinis yang pasti.
(Sumber: Cochrane Library)

4. Penyakit Parkinson dan Indikasi Lain

Beberapa literatur lama menyebut citicoline dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada penyakit Parkinson karena diduga membantu menurunkan kebutuhan levodopa. Walau menarik, bukti ini masih terbatas dan memerlukan penelitian lebih lanjut dengan metodologi modern.
(Sumber: ScienceDirect)


Dosis dan Keamanan Citicoline

Dalam berbagai uji klinis, dosis citicoline yang umum digunakan berkisar antara 500 mg hingga 2.000 mg per hari, baik melalui rute oral maupun intravena.

Efek samping yang dilaporkan umumnya ringan, seperti gangguan pencernaan ringan, insomnia, atau rasa tidak nyaman, dan secara umum citicoline dianggap aman dan mudah ditoleransi.

Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) telah menilai citicoline sebagai novel food ingredient dengan rekomendasi batas konsumsi hingga 500 mg per hari dalam bentuk suplemen, dan total asupan maksimum 1.000 mg per hari bila dikombinasikan dari berbagai sumber.
(Sumber: European Food Safety Authority; Drugs.com)


Status Regulasi di Berbagai Negara

Status hukum citicoline bervariasi di tiap negara:

  • Jepang, Spanyol, Prancis, dan Italia: dipasarkan sebagai obat resep untuk gangguan serebrovaskular.

  • Amerika Serikat: dijual bebas sebagai suplemen makanan, umumnya dalam bentuk merek dagang seperti Cognizin®.

  • Uni Eropa: disetujui sebagai novel food/suplemen, tetapi dibatasi pada dosis tertentu sesuai ketentuan EFSA.

Perbedaan regulasi ini juga memengaruhi klaim kesehatan yang boleh digunakan oleh produsen dan pemasaran produknya di masing-masing wilayah.
(Sumber: TGA; EFSA; EUR-Lex)


Kontroversi di Kalangan Peneliti

Seperti banyak kandidat obat neuroprotektif lain, citicoline juga berada di wilayah abu-abu antara bukti potensial dan ketidakpastian ilmiah.

Pihak pendukung menyoroti mekanisme biologis yang logis dan sejumlah studi yang menunjukkan sinyal manfaat pada pemulihan fungsi otak pasca stroke atau cedera kepala.

Namun pihak skeptis menilai bukti klinisnya masih belum konsisten. Uji besar yang dilakukan dalam 20 tahun terakhir sering kali tidak menunjukkan hasil signifikan untuk outcome utama, seperti pemulihan neurologis jangka panjang.

Akibatnya, banyak pedoman klinis internasional, termasuk dari lembaga neurologi besar, belum merekomendasikan citicoline sebagai terapi standar neuroprotektif.
(Sumber: AHA Journals; PMC)


Arah Penelitian Terbaru (2021–2025)

Dalam beberapa tahun terakhir, fokus penelitian citicoline bergeser ke arah yang lebih spesifik, seperti:

  • Menentukan subpopulasi pasien yang paling mungkin mendapat manfaat (misalnya stroke ringan atau TBI sedang)

  • Menganalisis waktu pemberian dan dosis optimal (500 mg vs 2.000 mg/hari)

  • Melakukan meta-analisis ulang dengan data baru

Beberapa uji klinis fase II dan III yang terdaftar di ClinicalTrials.gov hingga tahun 2025 diharapkan memberi gambaran lebih jelas tentang posisi citicoline di dunia terapi neurologi.
(Sumber: ClinicalTrials; CenterWatch)


Apakah Citicoline Layak Dikonsumsi?

Bagi masyarakat umum, citicoline bisa ditemukan dalam bentuk suplemen yang diklaim membantu fokus, daya ingat, atau kesehatan otak. Namun, penting diingat bahwa bukti ilmiah terhadap manfaat kognitifnya masih terbatas, terutama untuk individu sehat.

Konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen ini, terutama jika kamu sedang mengonsumsi obat lain atau memiliki kondisi neurologis tertentu. Perhatikan juga dosis harian sesuai label dan regulasi yang berlaku di negara kamu.
(Sumber: EFSA; PMC)


Kesimpulan

Citicoline adalah senyawa alami yang berperan penting dalam menjaga dan memperbaiki fungsi sel saraf otak. Meski penelitian menunjukkan potensi manfaat, terutama dalam kondisi seperti stroke, cedera otak, atau gangguan kognitif, bukti yang ada masih belum cukup kuat untuk menjadikannya terapi utama.

Namun, dengan riset-riset baru yang terus bermunculan, citicoline tetap menjadi salah satu kandidat menarik di bidang neuroproteksi yang layak dipantau perkembangannya dalam beberapa tahun ke depan.

Kalau kamu tertarik mengikuti update seputar riset obat dan suplemen seperti ini, pantau terus artikel-artikel terbaru di AKURAT.CO agar tidak ketinggalan informasi ilmiah paling mutakhir.

Baca Juga: Gabapentin 100 mg Obat Apa? Ini Penjelasan Lengkap tentang Manfaat, Dosis, dan Efek Sampingnya

Baca Juga: Bagaimana Cara Kerja Obat Antidepresan dari Psikiater? Ini Penjelasannya

FAQ

1. Citicoline itu obat apa?

Citicoline atau CDP-choline adalah senyawa alami yang berperan penting dalam pembentukan fosfolipid membran sel otak, khususnya fosfatidilkolin. Zat ini membantu menjaga struktur dan fungsi neuron. Dalam dunia medis, citicoline digunakan untuk mendukung pemulihan otak setelah stroke, cedera kepala, atau gangguan kognitif.


2. Apa manfaat utama citicoline bagi otak?

Citicoline diyakini dapat membantu:

  • Memperbaiki kerusakan membran sel saraf

  • Meningkatkan produksi fosfatidilkolin dan glutathione

  • Menunjang kerja neurotransmiter seperti dopamin dan asetilkolin

  • Mendukung fungsi memori dan fokus

Beberapa penelitian menunjukkan potensi efek neuroprotektif dan neurorestoratif, meski hasilnya masih bervariasi antar studi.


3. Apakah citicoline efektif untuk pasien stroke?

Hasil penelitian tentang citicoline pada pasien stroke belum konsisten. Beberapa studi menunjukkan adanya perbaikan neurologis dan kognitif, sementara uji besar lainnya tidak menemukan manfaat signifikan. Karena itu, citicoline belum menjadi terapi standar untuk stroke, tetapi masih digunakan di beberapa negara sebagai terapi tambahan.


4. Bisakah citicoline membantu pasien cedera otak (TBI)?

Citicoline telah diuji dalam berbagai penelitian untuk pasien Traumatic Brain Injury (TBI). Ada sinyal manfaat tertentu, terutama pada pemulihan fungsi kognitif, tetapi uji besar seperti COBRIT trial tidak menunjukkan efek utama yang signifikan. Hingga kini, bukti masih dianggap belum konklusif.


5. Apakah citicoline bisa meningkatkan daya ingat?

Beberapa studi kecil menunjukkan citicoline dapat membantu meningkatkan memori dan fungsi perilaku pada orang dengan gangguan kognitif ringan atau demensia vaskular. Namun, untuk individu sehat, manfaatnya masih perlu diteliti lebih lanjut.


6. Bagaimana cara kerja citicoline di otak?

Setelah dikonsumsi, citicoline terurai menjadi sitidin dan kolin, lalu keduanya masuk ke otak dan membentuk kembali CDP-choline. Dari situ, citicoline membantu pembentukan fosfolipid membran neuron, memperkuat koneksi antar sel saraf, dan meningkatkan ketersediaan neurotransmiter penting.


7. Berapa dosis citicoline yang aman dikonsumsi?

Dalam studi klinis, dosis citicoline yang digunakan berkisar antara 500 mg hingga 2.000 mg per hari, baik secara oral maupun intravena.
Untuk suplemen bebas, EFSA merekomendasikan batas aman 500 mg per hari, dengan total konsumsi maksimal 1.000 mg per hari dari berbagai sumber.


8. Apakah ada efek samping citicoline?

Efek samping citicoline umumnya ringan, seperti gangguan pencernaan, insomnia, atau sakit kepala ringan. Obat ini secara umum aman dan mudah ditoleransi, tetapi tetap disarankan untuk konsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsinya, terutama bila sedang mengonsumsi obat lain.


9. Apakah citicoline dijual bebas atau harus resep dokter?

Tergantung negaranya:

  • Di Jepang, Spanyol, Prancis, dan Italia, citicoline dijual sebagai obat resep.

  • Di Amerika Serikat, citicoline (misalnya merek Cognizin®) dijual sebagai suplemen makanan.

  • Di Uni Eropa, citicoline disetujui sebagai novel food/suplemen dengan batas dosis tertentu.


10. Apakah citicoline sudah terbukti secara ilmiah?

Secara ilmiah, citicoline memiliki dasar biologis yang kuat dan hasil preklinis yang meyakinkan. Namun, bukti klinis untuk efektivitasnya masih beragam dan belum sepenuhnya konklusif. Banyak ahli menganggap citicoline menjanjikan, tetapi belum cukup kuat untuk dijadikan terapi utama tanpa dukungan uji besar yang lebih positif.


11. Apakah aman mengonsumsi citicoline setiap hari?

Bila dikonsumsi dalam dosis yang disarankan, citicoline umumnya aman untuk penggunaan jangka pendek maupun menengah. Namun, untuk pemakaian jangka panjang, sebaiknya dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis, terutama bila kamu memiliki kondisi medis tertentu atau sedang menjalani terapi obat lain.


12. Bagaimana tren riset citicoline terbaru?

Penelitian terbaru (2021–2025) fokus pada:

  • Menentukan pasien yang paling diuntungkan (misalnya stroke ringan atau TBI sedang)

  • Mencari dosis optimal dan waktu pemberian terbaik

  • Melakukan meta-analisis ulang dengan data baru

Sejumlah uji klinis fase II dan III yang masih berlangsung diharapkan memberikan bukti lebih kuat tentang efektivitas citicoline di masa depan.


13. Apakah citicoline cocok untuk meningkatkan fokus saat belajar atau bekerja?

Beberapa suplemen citicoline diklaim bisa membantu konsentrasi dan kejernihan berpikir. Namun, bukti ilmiah yang mendukung manfaat tersebut pada orang sehat masih terbatas. Jika digunakan, sebaiknya tetap memperhatikan dosis aman dan berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.


14. Apakah citicoline termasuk nootropik?

Ya, citicoline sering dikategorikan sebagai nootropik alami — yaitu zat yang diduga dapat mendukung fungsi otak, seperti memori, fokus, dan kejernihan mental. Meski begitu, efeknya tidak sekuat obat stimulan, dan hasilnya bisa berbeda pada tiap individu.


15. Kesimpulannya, apakah citicoline layak dicoba?

Citicoline bisa menjadi pilihan menarik bagi mereka yang ingin mendukung fungsi otak atau pemulihan pasca stroke atau cedera, asalkan digunakan dengan dosis tepat dan pengawasan medis. Namun, jangan berharap hasil instan, karena manfaatnya masih perlu dikonfirmasi lewat riset jangka panjang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.