Penyebab Mimpi Buruk dan Cara Mengatasinya agar Tidur Nyenyak Lagi

AKURAT.CO Pernah terbangun tengah malam dengan jantung berdebar karena mimpi dikejar atau jatuh dari ketinggian? Kondisi itu dikenal sebagai mimpi buruk — mimpi yang menimbulkan rasa takut, cemas, atau sedih hingga membuat seseorang terbangun dari tidurnya.
Fenomena ini umum dialami siapa pun, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Namun, jika terjadi terlalu sering, mimpi buruk bisa berkembang menjadi gangguan tidur serius yang mengganggu kualitas hidup.
Secara ilmiah, mimpi buruk biasanya terjadi pada fase tidur REM (Rapid Eye Movement) — fase tidur yang ditandai dengan aktivitas otak yang meningkat dan gerakan mata cepat. Fase ini biasanya terjadi antara tengah malam hingga menjelang pagi, saat otak sedang aktif “bercerita” lewat mimpi.
Apa Saja Penyebab Mimpi Buruk?
Meski sering dianggap hal sepele, penyebab mimpi buruk sebenarnya cukup kompleks. Hingga kini, penyebab pastinya belum diketahui secara pasti, namun para ahli menduga bahwa faktor psikologis, genetik, dan biologis ikut berperan.
Berikut penjelasan faktor-faktor yang paling sering memicu mimpi buruk:
1. Stres dan Kecemasan
Kondisi emosional yang tidak stabil menjadi salah satu pemicu utama mimpi buruk. Tekanan dari pekerjaan, masalah keuangan, atau kehilangan orang tercinta bisa membuat otak bekerja lebih aktif saat tidur. Rasa takut, sedih, atau khawatir yang tak terselesaikan bisa “terproyeksi” menjadi mimpi buruk.
2. Trauma Psikologis
Seseorang yang mengalami peristiwa traumatis seperti kecelakaan, perundungan, atau kekerasan bisa mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD). Salah satu gejala paling umum dari PTSD adalah mimpi buruk berulang yang berhubungan dengan pengalaman traumatis tersebut.
3. Gangguan Tidur
Masalah tidur seperti sleep apnea, insomnia, narkolepsi, atau restless leg syndrome (RLS) juga sering memicu mimpi buruk. Saat tidur terganggu, siklus REM menjadi tidak stabil, sehingga mimpi menjadi lebih intens dan mudah diingat.
4. Efek Samping Obat
Beberapa obat yang memengaruhi sistem saraf pusat, seperti antidepresan, beta blocker, atau obat hipertensi, dapat menimbulkan efek samping berupa mimpi buruk. Hal ini terjadi karena obat-obatan tersebut mengubah aktivitas neurotransmiter di otak yang berperan dalam pengaturan tidur.
5. Kebiasaan Sebelum Tidur
Menonton film horor, membaca buku menegangkan, atau makan berat sebelum tidur juga dapat memicu mimpi buruk. Aktivitas semacam itu membuat otak tetap aktif bahkan setelah tubuh beristirahat, sehingga lebih rentan menghasilkan mimpi yang tidak menyenangkan.
6. Kondisi Medis Tertentu
Beberapa penyakit seperti demam tinggi, penyakit jantung, dan gangguan mental seperti depresi atau kecemasan bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami mimpi buruk. Nyeri kronis juga dapat memperburuk kualitas tidur dan memicu mimpi yang menegangkan.
7. Alkohol dan Penyalahgunaan NAPZA
Konsumsi alkohol berlebihan atau penggunaan narkoba dapat mengganggu pola tidur alami. Setelah efeknya hilang, tubuh mengalami “rebound REM” — fase tidur REM yang lebih panjang dan intens, sehingga mimpi buruk pun lebih sering muncul.
Siapa yang Berisiko Mengalami Mimpi Buruk?
Mimpi buruk dapat dialami oleh siapa saja, tetapi paling sering terjadi pada anak-anak usia 3–6 tahun karena pada masa itu imajinasi mereka sangat aktif. Meski begitu, banyak orang dewasa juga kerap mengalaminya, terutama jika memiliki riwayat keluarga yang sering bermimpi buruk atau sedang berada dalam kondisi stres berat.
Selain faktor usia, individu dengan gangguan kecemasan, trauma masa lalu, atau kebiasaan tidur tidak teratur juga memiliki risiko lebih tinggi.
Gejala dan Ciri Mimpi Buruk yang Perlu Diwaspadai
Mimpi buruk biasanya terasa sangat nyata. Tema mimpinya bisa bervariasi — mulai dari dikejar, terjatuh, diculik, hingga kehilangan seseorang. Saat terbangun, penderitanya bisa merasa takut, gelisah, bahkan sulit tidur kembali.
Beberapa tanda mimpi buruk antara lain:
-
Cerita dalam mimpi terasa jelas dan menakutkan.
-
Jantung berdebar, tubuh berkeringat, atau napas terasa cepat.
-
Mimpi sering melibatkan ancaman terhadap keselamatan diri.
-
Sulit kembali tidur setelah terbangun.
-
Ingatan terhadap mimpi masih kuat meski sudah bangun.
Jika mimpi buruk terjadi berulang kali hingga menyebabkan kelelahan di siang hari, sulit fokus, atau ketakutan sebelum tidur, kemungkinan besar kamu mengalami nightmare disorder atau gangguan mimpi buruk.
Bedanya Mimpi Buruk, Night Terror, dan Ketindihan
Banyak orang menyamakan mimpi buruk dengan night terror atau sleep paralysis, padahal ketiganya berbeda.
-
Mimpi buruk (nightmare): Terjadi saat fase REM dan biasanya bisa diingat dengan jelas setelah terbangun.
-
Night terror (teror malam): Lebih sering terjadi pada anak-anak. Penderitanya berteriak atau gelisah dalam tidur namun tidak ingat apa pun setelah bangun.
-
Sleep paralysis (ketindihan): Kondisi saat tubuh tidak bisa bergerak saat terjaga di antara fase tidur dan bangun, sering disertai sensasi sesak atau “tertindih”.
Kapan Harus ke Dokter?
Kebanyakan mimpi buruk bersifat sementara dan akan hilang dengan sendirinya. Namun, kamu perlu berkonsultasi ke dokter atau psikolog bila kondisi ini:
-
Terjadi sangat sering dan membuat kualitas tidur menurun.
-
Menimbulkan rasa takut untuk tidur.
-
Mengganggu aktivitas sehari-hari seperti belajar atau bekerja.
-
Disertai tanda depresi atau kecemasan berat.
Dokter biasanya akan melakukan wawancara tentang pola tidur, obat yang dikonsumsi, dan kondisi psikologis. Jika perlu, dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti polisomnografi (sleep study) atau tes kesehatan mental.
Cara Mengatasi dan Mencegah Mimpi Buruk
Penanganan mimpi buruk tergantung pada penyebabnya. Bila dipicu obat, dokter bisa menggantinya dengan alternatif lain. Untuk kasus yang terkait gangguan tidur atau mental, biasanya dilakukan terapi seperti:
-
Terapi perilaku kognitif (CBT)
-
Image rehearsal therapy (IRT) untuk mengubah skenario mimpi negatif menjadi positif
-
Latihan relaksasi seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam
Selain pengobatan, beberapa kebiasaan sehat berikut bisa membantu mencegah mimpi buruk:
-
Tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari.
-
Hindari alkohol, kafein, dan obat penenang sebelum tidur.
-
Ciptakan suasana kamar yang tenang dan nyaman.
-
Jauhkan gawai minimal 30 menit sebelum tidur.
-
Lakukan aktivitas menenangkan seperti membaca buku ringan atau mendengarkan musik santai.
-
Ceritakan mimpi buruk kepada orang terdekat agar beban emosional berkurang.
Kesimpulan
Mimpi buruk memang hal yang wajar, tapi bila terlalu sering terjadi hingga mengganggu aktivitas, itu bisa menjadi tanda adanya gangguan yang perlu diperhatikan. Faktor penyebabnya bisa berasal dari stres, trauma, obat-obatan, atau kebiasaan buruk sebelum tidur.
Menjaga kesehatan mental, mengatur pola tidur, serta menghindari pemicu stres bisa menjadi langkah sederhana untuk mencegah mimpi buruk datang kembali. Jika keluhan berlanjut, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional agar tidurmu kembali nyenyak dan berkualitas.
Kalau kamu sering mengalami gangguan tidur seperti ini, pantau terus informasi dan tips kesehatan terbaru di AKURAT.CO agar kamu bisa memahami tubuhmu lebih baik dan tidur lebih tenang setiap malam.
Baca Juga: Efek Tidur Terlalu Larut pada Regenerasi dan Warna Kulit
Baca Juga: Overthinking Lagi? Ini 5 Teknik Menenangkan Pikiran Sebelum Tidur
FAQ
1. Apa itu mimpi buruk?
Mimpi buruk adalah mimpi yang menimbulkan rasa takut, cemas, atau tidak nyaman, dan sering kali membuat seseorang terbangun dari tidurnya. Biasanya terjadi pada fase tidur REM (Rapid Eye Movement).
2. Apa penyebab seseorang sering mengalami mimpi buruk?
Beberapa penyebab umum meliputi stres, kecemasan, trauma psikologis, kurang tidur, konsumsi obat tertentu, demam, hingga gangguan tidur seperti sleep paralysis atau PTSD.
3. Apakah mimpi buruk memiliki arti tertentu?
Secara psikologis, mimpi buruk sering mencerminkan kondisi emosional seseorang — misalnya tekanan batin, rasa bersalah, atau ketakutan yang belum terselesaikan. Namun secara spiritual, sebagian orang mengaitkannya dengan pertanda atau pesan simbolik dari alam bawah sadar.
4. Apakah mimpi buruk berbahaya bagi kesehatan?
Jika terjadi sesekali, mimpi buruk tidak berbahaya. Namun bila terlalu sering hingga mengganggu kualitas tidur dan aktivitas sehari-hari, bisa menjadi tanda gangguan tidur seperti nightmare disorder yang perlu ditangani ahli.
5. Bagaimana cara mengatasi mimpi buruk yang sering muncul?
Beberapa cara efektif antara lain:
-
Menjaga rutinitas tidur yang teratur.
-
Menghindari stres dan kafein sebelum tidur.
-
Melakukan relaksasi seperti meditasi atau membaca buku ringan sebelum tidur.
-
Berkonsultasi dengan psikolog bila mimpi buruk terkait trauma atau kecemasan berat.
6. Apakah anak-anak juga bisa mengalami mimpi buruk?
Ya, anak-anak sering mengalami mimpi buruk terutama usia 3–7 tahun. Hal ini normal karena imajinasi mereka berkembang pesat dan mereka masih belajar membedakan mimpi dengan kenyataan.
7. Kapan sebaiknya perlu ke dokter atau psikolog?
Jika mimpi buruk terjadi berulang-ulang, menyebabkan ketakutan ekstrem, atau mengganggu tidur dan kesehatan mental, sebaiknya segera konsultasi ke dokter spesialis tidur atau psikolog klinis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









