Akurat

Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2025: IPMG, BPOM dan ISoP Perkuat Perlindungan Pasien Sejak Dini

Mukodah | 25 September 2025, 22:52 WIB
Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2025: IPMG, BPOM dan ISoP Perkuat Perlindungan Pasien Sejak Dini

AKURAT.CO International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta International Society of Pharmacovigilance (ISoP) Chapter Indonesia memperingati Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2025 dengan kegiatan edukasi bertema "Patient Safety from the Start."

Di tengah transformasi sistem kesehatan yang sedang berlangsung di Indonesia, keselamatan pasien menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik dan mewujudkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Mengingat jutaan masyarakat yang setiap hari membutuhkan obat dan vaksin, penguatan sistem penggunaan obat yang aman dan bertanggung jawab bukan hanya merupakan komitmen di tingkat global, tetapi juga prioritas nasional.

Baca Juga: Pemerintah Gerak Cepat Tangani Dugaan Keracunan MBG di Banggai Kepulauan, 301 Pasien Sembuh dan 34 Masih Dirawat

Dalam kesempatan ini, Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan komitmen pemerintah. Ia menyebut bahwa keselamatan pasien bukanlah pilihan, melainkan kewajiban.

"Keselamatan pasien bukan pilihan tetapi kewajiban kita bersama. Sebagai isu kemanusiaan, keselamatan pasien membutuhkan regulasi yang kuat, deteksi dini risiko serta budaya keselamatan di setiap tahap layanan kesehatan," ujarnya, di Jakarta, Kamis (25/9/2025).

"World Patient Safety Day 2025 sebagai momentum untuk memperkuat komitmen pada keselamatan pasien sejak awal kehidupan. Dengan memperkuat pemantauan dan mendorong kolaborasi lintas pemangku kepentingan, kita dapat melindungi pasien sekaligus mempercepat langkah BPOM Indonesia menuju WHO Listed Authority (WLA)," lanjut Taruna menjelaskan.

Baca Juga: Bulan Kesadaran Kanker Darah 2025: Deteksi Dini Multiple Myeloma Jadi Kunci Tingkatkan Kualitas Hidup Pasien

WLA adalah standar tertinggi dalam Global Benchmarking Tool Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menunjukkan bahwa sistem regulasi suatu negara telah beroperasi pada tingkat yang maju dan berkelanjutan untuk menjamin mutu, keamanan, dan khasiat obat serta vaksin.

Dari komunitas pakar, Wakil Ketua I ISoP Indonesia Chapter, Dr. Grace Wangge, menekankan pentingnya mengutamakan pengetahuan berbasis bukti pada penggunaan obat.

"Pemakaian obat tidak melulu hanya memikirkan apakah obat ini akan membawa kesembuhan, tapi juga harus mampu mempertimbangkan efek tidak diinginkan yang mungkin timbul dari obat itu sendiri ataupun interaksi antar obat, makanan dan juga kondisi pasien. Pertimbangan ini harus didasarkan pengetahuan berbasis bukti dan juga data dari  sistem monitoring yang komprehensif terhadap efek keamanan obat pada pasien," jelasnya.

Baca Juga: Mitra Keluarga Cibubur Sukses Gelar Operasi Katarak Gratis untuk Puluhan Pasien

Mewakili 27 perusahaan farmasi multinasional berbasis riset, Penanggung Jawab Kelompok Kerja IPMG Bidang Penguatan Kerangka Kerja Regulatori, Manishkumar Munot, menegaskan kembali komitmen dunia industri.

"Bagi IPMG dan perusahaan anggota kami, keselamatan pasien adalah fondasi inovasi. Mulai dari penelitian klinis, produksi hingga akses pasien, komitmen kami adalah memastikan obat tidak hanya efektif tetapi juga aman. Dengan bekerja bersama pemerintah dan para pemangku kepentingan kesehatan, kami dapat memperkuat kepercayaan, memperluas akses, serta mendukung transformasi kesehatan di Indonesia," terang Manishkumar, yang juga anggota Dewan Manajemen IPMG.

Kegiatan ini mempertemukan regulator, industri, media massa dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya keselamatan pasien dan penggunaan obat yang bertanggung jawab.

Baca Juga: Menkes Kecam Kekerasan Keluarga Pasien terhadap Dokter di RSUD Sekayu

Acara ini menegaskan bahwa regulator, industri, tenaga kesehatan dan masyarakat memiliki peran aktif dalam mencegah bahaya, memperkuat kepercayaan dan memastikan layanan kesehatan yang lebih aman bagi semua.

Hari Keselamatan Pasien Sedunia, yang digagas WHO, menegaskan pentingnya upaya mencegah bahaya yang dapat dihindari dalam pelayanan kesehatan.

Pelayanan yang tidak aman masih menjadi salah satu penyebab utama cedera dan kematian di seluruh dunia, padahal sebagian besar dapat dicegah.

Baca Juga: Anggaran Triliunan Tapi Pelayanan Amburadul, DPRD DKI Desak RSUD Utamakan Pasien BPJS

Oleh karena itu, keselamatan pasien bukan hanya kewajiban regulasi tetapi juga sebuah keharusan moral di mana setiap pasien berhak atas penggunaan obat yang aman dan bertanggung jawab.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK