Furosemide: Obat Penguras Cairan untuk Edema dan Gagal Ginjal, Ini Dosis Serta Efek Sampingnya

AKURAT.CO Pernah mendengar obat Furosemide dan bertanya-tanya fungsinya? Obat ini dikenal sebagai "penguras cairan" dalam dunia medis karena kemampuannya membantu tubuh mengeluarkan kelebihan cairan melalui urin.
Furosemide masuk dalam golongan loop diuretik dan sering diresepkan untuk menangani kondisi-kondisi serius seperti gagal jantung, penyakit ginjal, hingga sirosis hati.
Tapi, jangan asal pakai! Furosemide punya aturan dosis yang ketat dan efek samping yang perlu diwaspadai, terutama jika kamu punya masalah ginjal. Yuk, kenali lebih jauh manfaat, dosis, hingga risiko obat yang satu ini.
Furosemide bekerja di ginjal dengan cara menghambat reabsorpsi natrium, klorida, dan air, sehingga meningkatkan produksi urin (diuresis). Hasilnya? Penumpukan cairan bisa dikurangi secara efektif—cocok untuk:
-
Edema (bengkak akibat cairan berlebih)
-
Gagal ginjal akut/kronik
-
Gagal jantung kongestif
-
Sirosis hati
-
Hipertensi
-
Serangan asam urat akut
-
Nyeri haid (dalam kasus tertentu)
Baca Juga: Komisi III DPR Tegaskan Tahap Penyelidikan Tetap Perlu Diatur dalam KUHAP
Dosis Furosemide: Tablet & Suntikan
Untuk Dewasa - Edema (bengkak akibat jantung, hati, atau ginjal):
-
Tablet:
-
Dosis awal: 20–40 mg/hari
-
Bisa ditingkatkan sesuai kebutuhan dan respons
-
Dosis maksimal: hingga 600 mg/hari untuk kasus berat
-
-
Suntikan (IV/IM):
-
Dosis awal: 20–40 mg perlahan (1–2 menit)
-
Bisa dinaikkan 20 mg tiap 2 jam bila belum berefek
-
Dosis maksimal: 1.500 mg/hari (kasus khusus, diawasi ketat)
-
Untuk Hipertensi:
-
40–80 mg per hari secara oral, bisa dibagi 1–2 kali minum
Dosis Anak-anak:
-
Tablet: 2 mg/kgBB/hari → bisa ditambah setiap 6–8 jam
-
Suntikan: 1 mg/kgBB, bisa ditambah tiap 2 jam bila perlu
-
Maksimal: 6 mg/kgBB/hari
Baca Juga: Atlet Pelatnas PBSI Minim Prestasi 6 Bulan Pertama 2025, Pelatih Belum Dapatkan Program yang Tepat
Efek Samping
Meski efektif, furosemide tidak bisa sembarangan digunakan, terutama bagi pasien dengan gangguan ginjal berat.
Risiko yang harus diwaspadai:
-
Tidak efektif pada pasien anuria (tidak buang air kecil sama sekali)
-
Nefrotoksisitas: risiko kerusakan ginjal, terutama dalam dosis tinggi
-
Gangguan cairan & elektrolit: bisa sebabkan hipokalemia, hiponatremia, dehidrasi
-
Penurunan tekanan darah drastis (hipotensi)
-
Pada pasien gagal ginjal, furosemide bisa bertahan lebih lama di tubuh (waktu paruh memanjang), risiko efek samping meningkat
Agar penggunaan furosemide tetap aman dan efektif, berikut panduannya:
-
Minum dengan atau tanpa makanan (lebih baik setelah makan untuk cegah iritasi lambung)
-
Jangan kunyah tablet, telan utuh dengan air
-
Waktu terbaik minum: pagi hari — agar tidak mengganggu tidur karena sering buang air kecil
-
Hindari konsumsi malam hari (setelah jam 4 sore)
-
Lakukan pemantauan rutin fungsi ginjal dan kadar elektrolit
Furosemide adalah obat yang sangat berguna, namun bukan obat bebas.
Baca Juga: Bhayangkara FC Resmi Rekrut Kembali Paul Munster
Penggunaannya harus berdasarkan resep dan pengawasan medis, terutama bagi kamu yang memiliki riwayat gangguan ginjal, tekanan darah rendah, atau sedang menggunakan obat lain.
Jika digunakan dengan tepat, furosemide bisa menjadi penyelamat dari gejala edema dan gagal ginjal yang mengganggu. Tapi jika digunakan sembarangan, bisa jadi boomerang bagi kesehatan.
Laporan: Aqila Shafiqa Aryaputri/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







