Akurat

Efek Samping Herbal Terlalu Dini untuk Bayi yang Harus Kamu Ketahui

Eko Krisyanto | 1 Mei 2025, 07:18 WIB
Efek Samping Herbal Terlalu Dini untuk Bayi yang Harus Kamu Ketahui

 

AKURAT.CO - Herbal menjadi pilihan banyak orang tua di Indonesia untuk mendukung kesehatan bayi, karena dianggap alami dan lebih aman dibandingkan obat kimia. Namun, meskipun banyak yang percaya bahwa herbal lebih aman, ada efek samping herbal terlalu dini untuk bayi yang perlu diperhatikan.

Penggunaan herbal pada bayi, terutama di usia yang masih sangat muda, harus dilakukan dengan hati-hati, karena tubuh bayi yang masih berkembang rentan terhadap perubahan yang bisa ditimbulkan oleh bahan alami sekalipun.

Pada artikel yang disadur dari situs pafibolaangmongondowselatankab.org ini, kita akan membahas dengan mendalam mengenai efek samping yang mungkin terjadi akibat penggunaan herbal pada bayi, serta penelitian-penelitian terkait dari lembaga kesehatan di Indonesia.

  1. Mengapa Penggunaan Herbal Pada Bayi Perlu Hati-hati

Pada usia bayi, sistem tubuh mereka, seperti pencernaan, hati, dan ginjal, masih dalam tahap perkembangan. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap bahan-bahan yang masuk ke dalam tubuh, termasuk herbal yang dianggap aman bagi orang dewasa.

Meskipun herbal berasal dari tumbuh-tumbuhan yang memiliki banyak manfaat, beberapa jenis tanaman dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan pada bayi. Sebagai contoh, penggunaan herbal yang memiliki kandungan bahan aktif tertentu, meski alami, bisa memengaruhi sistem tubuh bayi secara berbeda dibandingkan pada orang dewasa.

Penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa beberapa jenis herbal, seperti daun kelor dan temulawak, dapat memengaruhi fungsi ginjal dan hati pada bayi yang belum sepenuhnya matang.

Selain itu, ada juga risiko alergi yang dapat timbul meskipun bahan herbal tersebut sudah dikenal aman di masyarakat.

  1. Risiko Alergi dan Gangguan Pencernaan pada Bayi

Herbal yang digunakan pada bayi juga berisiko menyebabkan alergi atau gangguan pencernaan. Bayi yang masih sangat kecil memiliki sistem pencernaan yang sensitif, sehingga mereka lebih mudah mengalami reaksi negatif terhadap bahan yang tidak biasa mereka konsumsi.

Sebagai contoh, penggunaan teh herbal seperti teh chamomile yang dikenal baik untuk menenangkan perut, terkadang dapat menyebabkan ruam kulit atau gangguan pencernaan pada bayi.

Selain itu, beberapa herbal mengandung senyawa yang dapat memperlambat proses pencernaan atau menyebabkan diare, yang bisa membahayakan kesehatan bayi.

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Kesehatan di Bandung, bayi yang diberi herbal dalam bentuk cairan atau teh cenderung lebih rentan terhadap dehidrasi.

Pada beberapa kasus, penggunaan herbal yang tidak sesuai dosis atau jenisnya dapat menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi penting, yang bisa berdampak negatif pada pertumbuhan bayi.

  1. Pengaruh Pada Perkembangan Organ Bayi

Efek samping herbal terlalu dini untuk bayi juga dapat memengaruhi perkembangan organ tubuh yang masih berkembang. Hati bayi, misalnya, belum dapat bekerja secara maksimal untuk memetabolisme bahan-bahan kimia atau senyawa aktif yang terkandung dalam beberapa jenis tanaman herbal.

Bahkan tanaman yang dianggap aman bagi orang dewasa, seperti kunyit atau jahe, bisa mengganggu keseimbangan elektrolit dan metabolisme bayi jika dikonsumsi terlalu dini.

Penelitian dari Universitas Airlangga menunjukkan bahwa beberapa jenis herbal, seperti akar alang-alang, memiliki kandungan bahan aktif yang bisa meningkatkan metabolisme hati bayi. Hal ini mungkin bisa memengaruhi kemampuan tubuh bayi untuk menyaring dan mengeluarkan zat-zat berbahaya, yang pada akhirnya dapat mengganggu kesehatan organ tubuh lainnya.

  1. Dosis yang Tepat dalam Penggunaan Herbal pada Bayi

Salah satu tantangan utama dalam penggunaan herbal untuk bayi adalah memastikan dosis yang tepat. Meskipun tanaman herbal terlihat alami dan aman, dosis yang salah bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, orang tua harus sangat berhati-hati dan mengikuti petunjuk dari tenaga medis atau dokter anak yang berkompeten.

Di Indonesia, berbagai herbal seperti daun sambiloto, kunyit, dan temulawak sering digunakan untuk meredakan gangguan pencernaan atau meningkatkan daya tahan tubuh. Namun, sangat penting untuk mengetahui dosis yang aman untuk bayi. Biasanya, dosis yang lebih rendah disarankan, dan hanya diberikan dalam bentuk yang telah diolah dengan benar, misalnya ekstrak herbal yang telah diformulasikan khusus untuk bayi.

  1. Kapan Sebaiknya Menghindari Penggunaan Herbal pada Bayi

Penting bagi orang tua untuk mengetahui kapan sebaiknya menghindari penggunaan herbal pada bayi. Secara umum, penggunaan herbal harus dihentikan jika bayi menunjukkan tanda-tanda reaksi alergi, seperti gatal, ruam, atau kesulitan bernapas. Selain itu, sebaiknya hindari pemberian herbal jika bayi sedang dalam kondisi sakit atau memiliki masalah kesehatan tertentu, seperti gangguan pencernaan atau infeksi.

Jika ingin memberikan herbal untuk membantu masalah tidur atau gangguan pencernaan, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Beberapa herbal dapat berinteraksi dengan obat-obatan lain yang mungkin diberikan kepada bayi, sehingga berisiko menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan.

--

Penggunaan herbal terlalu dini untuk bayi memang memiliki banyak manfaat jika digunakan dengan benar, tetapi juga membawa risiko yang harus diperhatikan oleh orang tua. Sistem tubuh bayi yang masih berkembang menjadikan mereka lebih rentan terhadap efek samping dari bahan-bahan yang dikonsumsi, bahkan jika bahan tersebut berasal dari tumbuhan alami sekalipun.

Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum memberikan herbal pada bayi mereka.

Penelitian yang dilakukan oleh lembaga kesehatan di Indonesia memberikan wawasan penting mengenai potensi efek samping yang dapat ditimbulkan oleh herbal pada bayi. Efek samping tersebut dapat berkisar dari alergi ringan hingga gangguan pencernaan dan masalah pada organ tubuh yang sedang berkembang. Oleh karena itu, jika kamu ingin memberikan herbal pada bayi, pastikan untuk mengetahui dosis yang tepat dan jenis herbal yang aman untuk mereka.

Akhirnya, meskipun herbal dianggap alami, tidak ada salahnya berhati-hati dan selalu berkonsultasi dengan ahli kesehatan. Melakukan riset dan memahami manfaat serta risiko dari setiap jenis herbal akan membantu kamu membuat keputusan yang lebih bijak untuk kesehatan bayi.

Jangan ragu untuk mencari pendapat medis sebelum memutuskan untuk menggunakan herbal sebagai bagian dari perawatan bayi. []

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
A