10 Efek Samping Konsumsi Herbal Hutan Berlebihan yang Wajib Kamu Waspadai

AKURAT.CO - Efek samping konsumsi herbal hutan berlebihan sering kali diabaikan karena anggapan bahwa bahan alami selalu aman.
Padahal, sejumlah penelitian dari universitas di Indonesia menunjukkan bahwa konsumsi berlebih terhadap tanaman herbal, apalagi yang tumbuh liar di hutan, bisa memicu gangguan kesehatan serius.
Artikel yang disadur dari situs pafioku.org ini mengupas secara mendalam dampaknya, berdasarkan riset ilmiah dari berbagai lembaga kredibel di Indonesia.
- Mengenal Tanaman Herbal Hutan dan Popularitasnya
Tanaman herbal dari hutan seperti daun sirih, ciplukan, mahoni, dan kelor kini kembali diminati karena dipercaya ampuh menyembuhkan berbagai penyakit.
Sebuah studi oleh Universitas Negeri Padang mencatat bahwa masyarakat cenderung lebih memilih tanaman herbal ketimbang obat kimia karena dianggap minim efek samping (Selaras, 2021). Namun, persepsi ini bisa menyesatkan jika kamu tidak memperhatikan dosis dan lama penggunaan.
- Efek Samping Terlalu Sering Mengonsumsi Herbal Hutan
Meskipun herbal mengandung senyawa aktif alami, konsumsi berlebihan bisa memicu reaksi toksik dalam tubuh.
Menurut jurnal dari Universitas Kediri, efek seperti gangguan liver, gangguan fungsi ginjal, dan bahkan kerusakan sistem pencernaan dapat terjadi jika kamu minum herbal dalam jangka panjang tanpa pengawasan (Santoso et al., 2021).
Penelitian ini juga mencatat peningkatan kadar SGOT dan SGPT dalam darah setelah konsumsi ramuan herbal tertentu secara rutin.
- Studi Kasus: Daun Kelor dan Efek Hepatotoksik
Daun kelor yang sering dipuji karena kandungan antioksidannya ternyata punya potensi hepatotoksik bila dikonsumsi secara terus-menerus.
Dalam pelatihan yang diadakan oleh Universitas Surabaya, kelompok tani wanita diberikan edukasi bahwa teh kelor sebaiknya hanya diminum dua hingga tiga kali seminggu agar tidak membebani hati (Rani et al., 2019).
- Herbal Hutan Penuh Potensi tapi Perlu Dosis Tepat
Misalnya, tanaman ciplukan (Physalis angulata) dikenal dapat menurunkan tekanan darah. Tapi penelitian di Nias Selatan menunjukkan bahwa pasien yang terlalu sering minum ekstrak ciplukan malah mengalami pusing, lemas, bahkan hipotensi akut (Laia, 2022). Jadi, dosis dan frekuensi sangat menentukan manfaat atau bahaya dari herbal ini.
- Risiko Ketergantungan dan Efek Psikologis
Penggunaan herbal untuk tujuan peningkatan energi atau vitalitas, seperti akar pasak bumi atau akar bajakah, bisa menyebabkan efek ketergantungan psikologis.
Studi dari Universitas Madiun menunjukkan bahwa sebagian pengguna remaja merasa tidak bisa fokus tanpa konsumsi ramuan herbal tertentu, padahal secara medis belum terbukti efektif (Putri & Malinda, 2023).
- Interaksi Obat dan Herbal: Kombinasi yang Bisa Berbahaya
Kamu yang sedang konsumsi obat medis perlu ekstra hati-hati. Sebab, tanaman seperti daun salam dan mahoni bisa berinteraksi dengan obat antihipertensi atau diabetes.
Sebuah kajian di Puskesmas Kuok mencatat adanya penurunan tekanan darah drastis pada pasien yang mengonsumsi ekstrak mahoni bersamaan dengan amlodipin (Kasumayanti & Putri, 2018).
- Efek Samping pada Sistem Reproduksi
Rumput Fatimah, herbal yang digunakan untuk merangsang kontraksi saat melahirkan, ternyata dapat menyebabkan keracunan dan kontraksi dini jika dikonsumsi terlalu sering.
Penelitian di Universitas Negeri Malang menunjukkan bahwa ibu hamil yang menggunakan rebusan ini tanpa pengawasan mengalami perdarahan hebat (Setianingsih et al., 2024).
- Kandungan Toksik Alami dalam Beberapa Herbal
Beberapa tumbuhan memiliki senyawa alkaloid atau saponin yang bisa berbahaya jika akumulatif. Daun jati, misalnya, mengandung tanin tinggi yang dapat menyebabkan gangguan lambung jika dikonsumsi lebih dari dosis normal (Anggara, 2019).
Oleh karena itu, kamu sebaiknya memperhatikan takaran harian dengan ketat.
- Potensi Kontaminasi dari Lingkungan Hutan
Tanaman herbal yang tumbuh liar di hutan sering kali terpapar logam berat dari tanah atau air tercemar. Kajian oleh Universitas Mahadewa Bali menunjukkan bahwa daun salam liar mengandung timbal di atas batas aman WHO jika dipanen dari hutan dekat area industri (Sanjiwani, 2021). Ini menunjukkan bahwa lokasi panen pun perlu diperhatikan.
- Edukasi Masyarakat Masih Rendah Soal Bahaya Herbal
Dalam studi oleh Universitas Pahlawan, ditemukan bahwa banyak masyarakat tidak tahu soal efek samping dari biji mahoni atau daun sirih jika dikonsumsi jangka panjang. Pengetahuan yang minim ini menjadi faktor risiko utama meningkatnya kasus efek toksik akibat herbal (Kasumayanti, 2018).
Kesimpulan, Konsumsi Herbal Hutan Harus Bijak dan Terukur
Kamu memang bisa mendapatkan banyak manfaat dari herbal hutan, tapi kamu juga harus cermat dalam memilih, mengolah, dan mengonsumsi. Jangan sampai kepercayaan pada "alami itu aman" membuat kamu abai terhadap fakta ilmiah.
Penelitian dari berbagai lembaga pendidikan dan kesehatan Indonesia jelas menunjukkan bahwa efek samping konsumsi herbal hutan berlebihan bisa sangat serius. Mulai dari gangguan liver, tekanan darah ekstrem, hingga interaksi obat yang berbahaya, semuanya bisa dicegah dengan pengetahuan dan dosis yang tepat.
Untuk itu, jangan ragu konsultasi dengan herbalis atau tenaga medis jika kamu ingin rutin konsumsi herbal hutan. Pastikan semua dilakukan dengan pengawasan, dan bukan sekadar ikut-ikutan tren kesehatan.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






