Kekurangan Zat Besi Bisa Ganggu Prestasi Anak, Waspadai Anemia Sejak Dini
AKURAT.CO Tak hanya kekurangan protein, kekurangan zat besi juga menjadi ancaman serius bagi tumbuh kembang anak.
Salah satu dampak utamanya adalah anemia defisiensi zat besi, kondisi yang bisa mengganggu proses belajar hingga pertumbuhan organ vital anak.
Zat besi memiliki peran penting dalam produksi hemoglobin—komponen sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
Bila asupan zat besi tak mencukupi, anak rentan mengalami anemia yang berujung pada kelelahan, lesu, hingga penurunan konsentrasi belajar.
“Kekurangan zat besi bisa membuat distribusi oksigen dalam tubuh terganggu. Akibatnya, anak menjadi mudah sakit, tidak fokus, dan dalam jangka panjang bisa mengalami gagal tumbuh,” jelas dokter spesialis anak dari RSIA Bina Medika Bintaro, dr. Rizki Aryo Wicaksono, Sp.A, Minggu (13/4/2025).
Menurut dr. Rizki, kurangnya asupan oksigen karena anemia dapat membuat organ-organ tubuh tidak berkembang optimal.
Baca Juga: Bahagianya Kiwil Bisa Bertemu Lagi dengan Anak-anak Setelah 5 Tahun
Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai failure to thrive atau gagal tumbuh, yang bisa berdampak permanen jika tak segera ditangani.
Selain membuat tubuh mudah lelah, anemia juga bisa mengganggu fungsi kognitif anak. “Kalau oksigen tidak cukup ke otak, anak jadi lesu, sulit fokus, dan tentu prestasi belajarnya menurun,” tambahnya.
Cara Mencegah Kekurangan Zat Besi
Untuk mencegah defisiensi zat besi, dr. Rizki menyarankan agar orang tua mulai memberikan protein hewani sejak dini.
"Bisa dari daging merah, atau ikan laut seperti tuna dan salmon. Sumber hewani lebih mudah diserap tubuh dibandingkan nabati,” jelasnya.
Alternatif lain yang bisa diandalkan adalah pangan terfortifikasi—produk makanan yang sudah diperkaya dengan zat gizi tambahan seperti zat besi, vitamin, dan mineral. Contohnya adalah susu formula, sereal, dan roti yang sudah difortifikasi.
“Pangan terfortifikasi sudah diformulasikan dengan makronutrien dan mikronutrien yang seimbang. Zat besi termasuk salah satu mikronutrien penting yang dimasukkan ke dalamnya,” ujar dr. Rizki.
Dengan pola makan yang tepat dan kesadaran orang tua sejak dini, defisiensi zat besi bisa dicegah, dan anak pun bisa tumbuh optimal—baik secara fisik maupun kemampuan belajarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








