Akurat

Kanker Payudara Metastasis: Penyebab, Penanganan, dan Tantangan Pengobatan

Arief Rachman | 6 Januari 2025, 12:33 WIB
Kanker Payudara Metastasis: Penyebab, Penanganan, dan Tantangan Pengobatan

AKURAT.CO Kanker payudara terjadi ketika sel-sel ganas tumbuh di jaringan payudara, membentuk tumor yang dapat terdeteksi melalui pemeriksaan fisik atau mamografi.

Namun, kondisi menjadi lebih kompleks ketika kanker telah bermetastasis atau menyebar ke organ lain seperti paru-paru, hati, tulang, bahkan otak.

Konsultan Hematologi-Onkologi Medik dari Sentra Medika Hospital Cibinong Dr. dr. Andhika Rachman, Sp.PD-KHOM, dan tim onkologi Suherman Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC), menjelaskan, kanker payudara metastasis memerlukan pendekatan diagnosis dan pengobatan yang komprehensif.

Setelah biopsi dan pemeriksaan histopatologi, dilakukan analisis imunohistokimia (IHK) untuk menentukan jenis kanker, seperti non-special type, lobular invasif, atau ductal invasif.

Selain itu, IHK mengidentifikasi reseptor hormonal (estrogen, progesteron) dan HER-2 (Human Epidermal Growth Factor Receptor), yang menjadi dasar dalam menentukan terapi yang tepat.

Baca Juga: Cara Membayar Pajak Motor Online Lewat HP 2025, Mudah di Aplikasi Ini Tak Perlu ke Samsat

Pemeriksaan tambahan seperti CT Scan atau PET Scan dilakukan untuk staging atau penentuan stadium kanker guna mengetahui sejauh mana penyebaran kanker di tubuh.

Pasien kanker payudara metastasis memiliki berbagai opsi pengobatan, termasuk kemoterapi, terapi target, atau kombinasi keduanya. Misalnya, kombinasi Trastuzumab (obat anti HER-2 positif) dengan imunoterapi.

Pengobatan biasanya dilakukan dalam siklus, dengan jarak antar siklus sekitar 3–4 minggu, tergantung respons pasien dan efek samping obat.

“Evaluasi dilakukan setelah 2–3 siklus pengobatan, menggunakan CT Scan, MRI, atau PET Scan untuk menilai apakah terapi berhasil mengecilkan atau menghilangkan kanker,” jelas Dr. Andhika, Senin (6/1/2025).

Pengobatan kanker payudara sering menimbulkan efek samping, seperti rambut rontok, yang menjadi kekhawatiran umum pasien, terutama wanita. Namun, rambut biasanya tumbuh kembali setelah terapi selesai.

Selain itu, penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia atau neutropenia) menjadi efek samping yang serius.

Baca Juga: PSSI Resmi Pecat Shin Tae-yong dari Timnas Indonesia, Penggantinya Bakal Diumumkan 11 Januari

Penurunan ini terjadi pada hari kelima setelah kemoterapi, sehingga diperlukan pemeriksaan darah lengkap untuk memantau kondisi.

Jika jumlah leukosit terlalu rendah, pemberian G-CSF (Granulocyte Colony-Stimulating Factor) dapat membantu meningkatkan kadar darah putih dan mencegah komplikasi seperti infeksi.

Dr. Andhika menekankan pentingnya nutrisi, terutama protein hewani, untuk membantu pasien melewati fase kritis, terutama 10 hari pertama setelah kemoterapi.

Konsumsi daging merah, susu, ikan, dan telur sangat direkomendasikan untuk mendukung pemulihan tubuh.

Dr. Andhika berharap dukungan BPJS di masa mendatang dapat mencakup pemberian obat-obatan kanker yang lebih luas, sehingga masyarakat, khususnya pasien kanker payudara, mendapatkan akses pengobatan yang optimal.

Kanker payudara metastasis memang menjadi tantangan besar, namun dengan diagnosis yang tepat, terapi yang terarah, dan dukungan nutrisi yang memadai, peluang untuk memperpanjang kualitas hidup pasien tetap terbuka.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.