Akurat

AI Bisa Bikin Kerja Lebih Produktif, Allianz Ingatkan Risiko Kehilangan Kualitas Berpikir

Naufal Lanten | 29 Januari 2026, 14:22 WIB
AI Bisa Bikin Kerja Lebih Produktif, Allianz Ingatkan Risiko Kehilangan Kualitas Berpikir
 
AKURAT.CO Awal tahun kerap menjadi momen refleksi bagi para pekerja: target disusun ulang, strategi diperbarui, dan prioritas kerja dipetakan kembali. Di tengah proses itu, penggunaan Artificial Intelligence (AI) di dunia kerja terus meningkat—mulai dari menyusun laporan, menganalisis data, hingga mempercepat pembuatan konten.

Efisiensi yang ditawarkan memang nyata. Berdasarkan laporan AI in the Workplace Statistics 2026: Adoption, Impact, and Outlook For the Future dari Azumo pada Januari 2026, sebanyak 27% pekerja mengaku bisa menghemat lebih dari sembilan jam kerja per minggu berkat bantuan AI. Angka ini menunjukkan betapa besar potensi teknologi tersebut dalam membantu manajemen waktu dan beban kerja.

Namun, di balik kemudahan itu, muncul risiko baru: kebiasaan mengandalkan AI sebagai jalan pintas tanpa proses berpikir mendalam. Fenomena inilah yang mendorong Allianz Indonesia menghadirkan diskusi bertajuk “AI Yes, Shortcut No: Cara Cerdas Pakai AI di Dunia Kerja” melalui program Ngobrol Bareng Allianz Citizens (NgobrAZ).


Allianz Buka Diskusi Soal Cara Sehat Menggunakan AI di Kantor

Dalam sesi tersebut, Allianz Indonesia menghadirkan Abi Mangku Nagari, seorang AI Implementation Consultant, untuk mengajak karyawan memahami posisi AI sebagai alat bantu—bukan pengganti cara berpikir manusia.

Wahyuni Murtiani, Head of Corporate Communications Allianz Indonesia, menegaskan bahwa kecepatan bukan satu-satunya tolok ukur produktivitas.

“Diskusi ini menjadi pengingat bahwa produktivitas tidak diukur dari seberapa cepat pekerjaan selesai, melainkan dari seberapa tepat keputusan diambil dan seberapa kuat fondasi berpikir di baliknya,” ujar Wahyuni Murtiani melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 29 Januari 2026.

Abi pun sependapat. Menurutnya, tantangan terbesar adopsi AI justru bukan terletak pada kecanggihan teknologi.

“Tantangan terbesar dari adopsi AI di dunia kerja bukan pada kecanggihan AI, tetapi pada mindset penggunanya. Ketika AI diposisikan sebagai jalan pintas, kualitas berpikir dan rasa tanggung jawab justru bisa menurun,” jelas Abi Mangku Nagari.


Risiko “Shortcut Thinking” di Era AI

AI memang mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik. Tetapi ketika pengguna terlalu mengandalkan output tanpa mengecek ulang atau memahami konteks, kualitas analisis bisa menurun.

Inilah yang disebut sebagai shortcut thinking—pola pikir instan yang mengorbankan proses evaluasi, pertimbangan risiko, dan akuntabilitas. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa berdampak pada kualitas keputusan bisnis, etika kerja, hingga reputasi organisasi.

Karena itu, Allianz menekankan bahwa penggunaan AI seharusnya memperkuat struktur berpikir, bukan mematikan proses kritis manusia.

Baca Juga: WhatsApp, Instagram, dan Facebook Bakal Berbayar? Meta Uji Layanan Premium Berbasis AI

Baca Juga: Apple Kembangkan Pin AI Mirip AirTag dengan Kamera Ganda, Rilis 2027?


Lima Prinsip Menggunakan AI di Dunia Kerja Tanpa Kehilangan Kualitas

Dalam diskusi NgobrAZ, Abi Mangku Nagari memaparkan lima prinsip utama agar pemanfaatan AI tetap produktif dan bertanggung jawab.

1. Mulai dari Problem Framing, Bukan Sekadar Prompt

Alih-alih langsung menulis perintah, pengguna perlu mendefinisikan masalah terlebih dahulu. Kerangka yang jelas membantu AI menghasilkan jawaban yang lebih relevan dan mendalam, bukan sekadar respons umum.

2. Gunakan AI untuk Menyusun Struktur, Bukan Kesimpulan Final

AI sangat efektif dalam membantu merapikan alur berpikir, memetakan argumen, atau mengelompokkan ide. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan manusia yang memahami konteks, dampak, dan tujuan bisnis.

3. Alihkan Tugas Berulang agar Fokus pada Analisis

Merangkum dokumen, membuat draf awal, atau mengolah data sederhana adalah contoh pekerjaan yang bisa didelegasikan ke AI. Dengan begitu, pekerja memiliki waktu lebih untuk berpikir strategis, menilai risiko, dan merancang langkah ke depan.

4. Jadikan AI sebagai Co-Pilot, Bukan Auto-Pilot

Output AI sebaiknya diperlakukan sebagai bahan diskusi. Menguji kembali jawabannya, meminta alternatif sudut pandang, atau memverifikasi data justru akan memperkaya hasil akhir.

5. Tutup Proses dengan Human Judgment

Tahap terakhir yang tidak bisa digantikan mesin adalah penilaian manusia—mulai dari akurasi informasi, implikasi bisnis, hingga aspek etika. Di sinilah peran profesional tetap krusial.


AI Bukan Soal Siapa Paling Cepat, Tapi Siapa Paling Cermat

Benang merah dari diskusi Allianz ini jelas: AI bukan tentang siapa yang paling cepat mendapatkan jawaban, melainkan siapa yang paling mampu menjaga kualitas berpikir di tengah kemudahan teknologi.

Abi kembali menegaskan bahwa nilai sesungguhnya muncul ketika pengguna tetap aktif dalam proses berpikir.

“AI sering dianggap pintar karena jawabannya cepat. Padahal, nilai sebenarnya muncul ketika pekerja memahami cara membingkai masalah, menguji output, dan mengambil keputusan secara sadar,” tutup Abi Mangku Nagari.


Penutup: Gunakan AI dengan Cerdas, Bukan Sekadar Cepat

Pemanfaatan AI di dunia kerja akan terus berkembang, terutama seiring meningkatnya tuntutan efisiensi dan kecepatan. Namun, pesan Allianz Indonesia melalui NgobrAZ ini menjadi pengingat penting: teknologi seharusnya memperkuat kualitas kerja, bukan menggantikannya.

Dengan mindset yang tepat, AI bisa menjadi mitra strategis untuk menghasilkan keputusan yang lebih matang dan bertanggung jawab. Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan terbaru soal transformasi digital di dunia kerja, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: Manfaat AI Agents Google yang Mengubah Cara Bekerja di 2026

Baca Juga: Inovasi AI yang Jadi Sorotan di CES 2026

FAQ

1. Apa topik utama yang dibahas dalam artikel ini?

Artikel ini membahas meningkatnya penggunaan AI di dunia kerja, risiko pola pikir instan (shortcut thinking), serta inisiatif Allianz Indonesia melalui diskusi NgobrAZ untuk mendorong pemanfaatan AI secara cerdas dan bertanggung jawab.

2. Mengapa penggunaan AI di kantor dianggap berisiko jika tidak disikapi dengan tepat?

Karena terlalu mengandalkan AI sebagai jalan pintas dapat menurunkan kualitas analisis, melemahkan proses pengambilan keputusan, dan mengurangi rasa tanggung jawab terhadap hasil kerja.

3. Data apa yang menunjukkan dampak AI terhadap produktivitas pekerja?

Laporan AI in the Workplace Statistics 2026 dari Azumo menyebutkan bahwa 27% pekerja mampu menghemat lebih dari sembilan jam kerja per minggu berkat bantuan AI.

4. Apa tujuan Allianz Indonesia mengadakan diskusi NgobrAZ?

Allianz ingin mengajak karyawan memahami bahwa AI seharusnya berperan sebagai alat bantu berpikir, bukan pengganti manusia, sehingga kualitas analisis dan keputusan tetap terjaga.

5. Siapa narasumber utama dalam diskusi tersebut?

Diskusi menghadirkan Abi Mangku Nagari sebagai AI Implementation Consultant.

6. Apa maksud istilah “shortcut thinking” dalam konteks penggunaan AI?

Shortcut thinking adalah kecenderungan mengandalkan jawaban cepat dari AI tanpa proses evaluasi dan pemahaman konteks yang memadai.

7. Apa saja prinsip utama agar penggunaan AI tetap produktif?

Prinsip yang dibahas meliputi:

  • Memulai dari perumusan masalah.

  • Menggunakan AI untuk menyusun struktur, bukan kesimpulan akhir.

  • Mengalihkan tugas berulang ke AI.

  • Menjadikan AI sebagai co-pilot.

  • Mengakhiri proses dengan penilaian manusia.

8. Bagaimana posisi manusia dalam proses kerja berbasis AI menurut Allianz?

Manusia tetap memegang peran utama dalam menentukan keputusan akhir, menilai dampak bisnis, dan mempertimbangkan aspek etika.

9. Apakah AI sepenuhnya menggantikan peran pekerja?

Tidak. AI diposisikan sebagai pendukung produktivitas, bukan pengganti cara berpikir dan tanggung jawab manusia.

10. Mengapa topik ini relevan bagi pekerja masa kini?

Karena adopsi AI terus meningkat di berbagai industri, sehingga penting bagi pekerja memahami cara memanfaatkannya secara bijak agar tetap kompetitif dan berkualitas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.